EAST RUTHERFORD – Panggung termegah sepak bola jagat raya resmi bergulir. Tim Samba Brasil siap membuka kampanye berburu gelar juara dunia keenam mereka dengan menantang semifinalis Piala Dunia edisi lalu, Maroko, pada laga perdana Grup C di MetLife Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat, Minggu (14/6) pukul 05.00 WIB. Selain gengsi dua kekuatan besar antarbenua, sorotan tajam dipastikan mengarah pada duel sarat emosi antara dua sahabat karib, Vinicius Junior dan Achraf Hakimi.
Kedua bintang dunia ini memiliki ikatan historis yang cukup dekat. Mereka pernah bernaung di bawah panji klub yang sama, Real Madrid, pada medio 2018-2020. Kendati demikian, keduanya belum pernah sekalipun berduet bersama dalam pertandingan kompetitif Los Blancos lantaran Hakimi kala itu harus menjalani masa peminjaman jangka panjang di Borussia Dortmund sebelum akhirnya bersinar bersama Paris Saint-Germain. Hubungan di luar lapangan hijau tetap terawat baik, di mana Hakimi menjadi salah satu sosok terdepan yang paling vokal membela Vinicius saat penyerang sayap Brasil itu berulang kali menjadi korban tindakan rasisme di kompetisi Spanyol.
Namun, di rumput MetLife Stadium nanti, tali persahabatan tersebut harus ditanggalkan. Secara statistik, rekor pertemuan sejauh ini justru lebih berpihak kepada Achraf Hakimi. Dari total lima bentrokan yang mempertemukan keduanya baik di level klub maupun laga internasional, bek sayap Maroko itu tercatat lebih sering tersenyum dengan mengantongi tiga kemenangan atas tim yang dibela Vinicius.
Salah satu memori paling manis bagi Hakimi terjadi saat ia sukses mengawal Maroko menumbangkan Brasil dengan skor 2-1 dalam laga uji coba internasional di Stade Ibn Batouta, Tangier, pada Maret 2023 silam. Keapesan Vinicius dari sang sahabat berlanjut di venue yang sama dengan laga esok hari, ketika PSG yang diperkuat Hakimi melumat habis Real Madrid dengan skor telak 4-0 tanpa balas pada babak semifinal Piala Dunia Antarklub tahun lalu.
Kendati dihantui rekor buruk, kubu Brasil tidak gentar. Penyerang sayap Barcelona, Raphinha, optimistis bahwa turnamen akbar di Amerika Utara ini akan menjadi panggung pembuktian bagi kematangan seorang Vinicius.
"Aku sangat yakin bahwa Piala Dunia kali ini adalah milik Vini. Pengalaman besar dan kedewasaan bermain yang ia miliki sekarang akan menjadi kunci utama yang membawa Brasil melangkah jauh," tegas Raphinha seperti dikutip dari Goal.
Selain mengandalkan daya ledak dan kreativitas Vinicius di sektor penyerangan, kekuatan utama Brasil di bawah asuhan Carlo Ancelotti terletak pada kokohnya benteng pertahanan. Sektor bek tengah Selecao akan dikomandoi oleh duet maut Marquinhos dan Gabriel Magalhaes yang baru saja menyudahi musim gemilang di Eropa.
Marquinhos yang baru saja sukses mengantarkan Paris Saint-Germain mengangkat trofi Liga Champions, secara terbuka melemparkan pujian setinggi langit kepada rekan duetnya yang menjadi pilar pertahanan tak tergantikan di Arsenal tersebut.
"Aku tahu dan sadar betul bahwa dia (Gabriel) adalah bek tengah terbaik di dunia untuk musim ini. Di turnamen sebesar ini, aku dan dia akan saling membutuhkan untuk menjaga kesucian gawang kami," kata Marquinhos kepada Football365. Media ESPN Brasil bahkan melabeli kombinasi ini sebagai salah satu poros pertahanan terdahsyat yang pernah dimiliki Brasil dalam satu dekade terakhir.
Dari segi taktik, pelatih kawakan Carlo Ancelotti tampaknya enggan berjudi dengan melakukan perombakan ekstrem. Don Carlo diprediksi kuat tetap mempertahankan kerangka tim utama yang menjadi warisan era kepelatihan Tite pada Piala Dunia 2022 di Qatar lalu.
Sejumlah media lokal Brasil merilis prediksi bahwa setidaknya ada delapan nama alumni starter Qatar yang akan kembali dipercaya turun sejak menit awal untuk meredam agresivitas Maroko. Gerbong pemain berpengalaman tersebut dihuni oleh Alisson Becker, Danilo, Marquinhos, Alex Sandro, Casemiro, Lucas Paqueta, Raphinha, dan tentunya Vinicius Junior.
Pendekatan pragmatis nan matang dari Ancelotti ini mendapat dukungan penuh dari sang bek kanan legendaris sekaligus mantan kapten legendaris Brasil, Marcos Cafu. Menurutnya, warisan komposisi pemain yang ditinggalkan pelatih terdahulu sudah sangat solid dan kompetitif.
"Ancelotti adalah pelatih cerdas. Dia tidak perlu mengubah banyak hal teknis dari tim ini. Tugas utamanya sekarang hanyalah tinggal menyuntikkan ketenangan batin dan mengembalikan kepercayaan diri penuh ke dalam mental bertarung setiap pemain," urai Cafu saat diwawancarai Lance!.
Berbekal komposisi pemain bintang yang berada di usia keemasan serta kematangan taktik dari pelatih pengoleksi trofi terbanyak Eropa, Brasil membidik poin penuh di laga perdana demi menegaskan status sahih mereka sebagai kandidat terkuat peraih trofi emas Piala Dunia 2026. (*)
Editor : Indra Zakaria