PROKAL.CO- Piala Dunia 2026 menyajikan drama luar biasa saat Kanada mencukur Qatar dengan skor telak 6-0 di Vancouver. Namun, kemenangan perdana Kanada sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia ini harus dibayar sangat mahal. Gelandang kunci mereka, Ismael Kone, mengalami cedera patah kaki parah akibat tekel horor dari pemain Qatar, Assim Madibo.
Insiden tragis tersebut langsung memicu keributan besar di atas lapangan. Di pinggir lapangan, tensi tidak kalah panas ketika pelatih Kanada, Jesse Marsch, terlibat perseteruan sengit dengan bos Qatar, Julen Lopetegui. Marsch dan staf kepelatihannya naik pitam melihat reaksi dari seluruh bangku cadangan Qatar yang justru melayangkan protes keras saat Madibo diganjar kartu merah. Ketegangan tersebut bahkan berlanjut hingga peluit panjang berbunyi, di mana Lopetegui sempat mendatangi Marsch sebelum sang pelatih Kanada memilih mengangkat tangan dan pergi begitu saja.
Saat dimintai keterangan pascapertandingan mengenai perseteruannya dengan Lopetegui, Marsch menjawab dengan ketus bahwa ia tidak sudi membuang waktu sedetik pun untuk membahas hal yang tidak berharga tersebut. Sementara itu, Lopetegui bersikap dingin dan hanya berkomentar singkat bahwa masalah itu hanyalah urusan antara dirinya dan Marsch.
Di balik panasnya situasi, Marsch mengungkapkan bahwa Assim Madibo sebenarnya telah menunjukkan iktikad baik dengan mendatangi ruang ganti Kanada untuk meminta maaf langsung kepada Kone. Marsch memercayai bahwa Madibo tidak berniat sengaja mematahkan kaki anak asuhnya. Meski demikian, yang membuat Marsch habis pikir adalah reaksi ofensif dari kubu Qatar yang mencoba memicu keributan hanya karena tidak terima dengan kartu merah, padahal pelanggaran tersebut jelas-jelas sangat fatal hingga mematahkan kaki seseorang.
Cedera mengerikan ini terjadi tepat di depan bangku cadangan, di mana semua orang bahkan bisa mendengar dengan jelas bunyi tulang yang patah. Kondisi ini sempat membuat seluruh tim Kanada terguncang, mengingat Kone adalah pilar penting bagi tim dan dipastikan akan melewatkan sisa turnamen. Di tengah rasa sakitnya saat ditandu keluar, Kone sempat melambaikan tangan ke arah penonton untuk menenangkan suasana, sebuah sikap yang dipuji Marsch sebagai pembuktian luar biasa atas kedewasaan karakter sang pemain. Kone sendiri langsung dilarikan ke rumah sakit malam itu didampingi oleh pihak keluarga untuk menjalani operasi.
Terlepas dari awan mendung cedera Kone, Marsch berharap hari itu akan terus diingat oleh seluruh masyarakat Kanada sebagai momen sejarah yang sangat krusial. Dalam pesta gol tersebut, striker bintang Jonathan David berhasil mencetak hat-trick, disusul oleh gol dari Cyle Larin, Nathan Saliba, serta gol bunuh diri dari pemain Qatar, Mohammed Manai.
Kanada kini berada di ambang sejarah untuk lolos ke babak 32 besar dan akan melakoni laga pamungkas fase grup melawan Swiss pada Rabu depan. Sementara itu, Qatar yang kini terpuruk wajib mengamankan kemenangan besar atas Bosnia dan Herzegovina jika masih ingin menjaga asa tipis mereka untuk melaju ke fase gugur. (*)
Editor : Indra Zakaria