PROKAL.CO— Kontroversi besar menyelimuti laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah Mesir tersingkir secara dramatis dengan skor 2-3 dari Argentina pada Selasa malam WIB. Keputusan wasit yang mengabaikan klaim penalti Mohamed Salah di menit-menit akhir dinilai menjadi titik balik fatal yang merugikan The Pharaohs.
Saat insiden terjadi, Salah tampak ditarik bajunya dan tersandung di dalam kotak penalti. Namun, alih-alih memberikan pelanggaran, wasit membiarkan pertandingan berlanjut, yang langsung dimanfaatkan Argentina untuk melakukan serangan balik cepat dan mencetak gol kemenangan.
Pakar VAR kenamaan, Dale Johnson, memberikan penilaian tegas bahwa Mesir seharusnya mendapatkan hadiah penalti dalam momen krusial tersebut.
"Gol Mesir yang dianulir sepenuhnya bertentangan dengan cara wasit memimpin turnamen ini. Anda tidak bisa membiarkan sentuhan ringan di mana Anda tidak memberikan pelanggaran untuk kontak minimal dan kemudian membatalkan gol melalui VAR karena pegangan yang sangat minimal pada baju," ujar Dale Johnson saat menganalisis rekaman pertandingan tersebut.
Dale Johnson juga menambahkan bahwa ada kontak fisik lain yang diabaikan oleh sang pengadil di lapangan.
"Ada sedikit pelanggaran pada kaki juga, tetapi begitu banyak pelanggaran seperti ini yang dibiarkan oleh wasit," kata Johnson menjelaskan situasi yang membuat kubu Mesir merasa dirampok.
Kekalahan ini terasa sangat menyakitkan bagi Mesir karena mereka sempat unggul dua gol hingga 11 menit waktu normal tersisa. Namun, ketahanan mental tim asuhan Lionel Scaloni berhasil membalikkan keadaan dalam kurun waktu 14 menit, sekaligus mengunci tiket ke babak perempat final.
Lionel Messi tampil sebagai pembeda dengan mencetak gol dan memberikan assist, menebus kegagalannya yang sempat menjadi pemain pertama yang gagal mengeksekusi dua penalti dalam satu turnamen Piala Dunia.
Ketegangan mencapai puncaknya pada menit ke-93 ketika Enzo Fernandez menyundul bola masuk ke gawang Mesir. Gol kemenangan tersebut memicu selebrasi emosional dari pendukung Argentina, sekaligus menyulut keributan antar-pemain di lapangan yang berujung kartu merah untuk salah satu staf pelatih Mesir.
Meski kemenangan Argentina terus dipertanyakan, sang juara bertahan membuktikan bahwa mereka selalu menemukan jalan untuk lolos dari lubang jarum. Luapan emosi di akhir laga menjadi simbol ketahanan dan keyakinan besar Albiceleste untuk mempertahankan gelar juara mereka. (*)
Editor : Indra Zakaria