Tak Ada Lagi Comeback Dramatis di Final: Ferran Torres Hancurkan Mimpi Terakhir Lionel Messi

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 06:17 WIB
Ferran Torres dkk merayakan kemenangan.
Ferran Torres dkk merayakan kemenangan.

NEW JERSEY — Shadows atau bayang-bayang senja mulai merayap jatuh di langit MetLife Stadium, membawa serta ketegangan yang nyaris tak tertahankan. Di atas lapangan hijau, sebuah final Piala Dunia yang brutal baru saja menyeret Spanyol dan Argentina ke babak perpanjangan waktu tanpa satu pun gol tercipta.

Argentina, sang juara bertahan, sebenarnya tampil compang-camping. Sepanjang waktu normal, Lionel Messi dan kolega terisolasi total—gagal melepaskan satu pun tembakan, bahkan sekadar merangkai beberapa operan pendek pun terasa mustahil. Namun, keajaiban bernama Emiliano ‘Dibu’ Martínez menjaga napas mereka. Lewat rekor 11 penyelamatan heroik, sang kiper sendirian menunda pesta Spanyol, memaksa aroma adu penalti yang kejam mulai tercium di udara.

Hingga akhirnya, momen yang dinanti Spanyol selama 16 tahun itu tiba. Hanya 39 detik setelah babak kedua perpanjangan waktu dimulai—tepat di menit ke-106—sebuah skema serangan kilat menghancurkan benteng pertahanan Argentina yang sudah pincang akibat kartu merah Enzo Martínez.

Pedro Porro mengirim umpan lambung ke tiang jauh yang disambut sundulan tajam Nico Williams untuk mengecoh Dibu Martínez. Bola liar langsung disambar oleh Ferran Torres dengan sepakan voli keras dari jarak 8 meter. Jala gawang bergetar, dan runtuhlah semangat 10 pemain Argentina.

"Saya hanya melihat bola datang dan langsung menembaknya dengan membawa seluruh kekuatan rakyat Spanyol," bisik Ferran Torres penuh emosi usai laga.

Lionel Messi hanya bisa terduduk lemas.
Lionel Messi hanya bisa terduduk lemas.

Gol tunggal itu sekaligus menjadi akhir yang memilukan bagi perjalanan magis Lionel Messi di panggung Piala Dunia. Di usianya yang menginjak 39 tahun, Messi terpaksa menyudahi turnamen terbaiknya dengan cara tragis: terduduk lesu di atas rumput, meratapi dominasi mutlak Spanyol yang membuat magisnya tak pernah benar-benar menyentuh bola sepanjang sore itu.

Stadion NFL di pinggiran New Jersey yang awalnya terasa kaku dan abu-abu, hari itu meledak menjadi lautan warna dan emosi. Ribuan pendukung Argentina yang sempat menguasai Times Square sehari sebelumnya, harus rela melihat rekor 38 laga tak terkalahkan milik La Roja tetap suci, sekaligus menyaksikan trofi emas itu terbang kembali ke Madrid untuk pertama kalinya sejak tahun 2010. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
piala dunia 2026