NEW JERSEY — Tensi panas final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium ternyata tidak langsung mereda begitu peluit panjang berbunyi. Gelandang Argentina, Leandro Paredes, akhirnya angkat bicara mengenai insiden keributan pasca-laga yang melibatkan dirinya dengan gelandang muda Spanyol, Gavi, di mana Paredes tertangkap kamera sempat mencengkeram leher pemain lawan.
Paredes, yang memang sudah bermain dengan emosi tinggi sejak babak kedua, mengaku kehilangan kendali setelah melihat provokasi dan cara para pemain Spanyol merayakan kemenangan tepat di hadapannya.
Bagi Paredes, kekalahan menyakitkan 1-0 lewat babak perpanjangan waktu ditambah dengan atmosfer pertandingan yang melelahkan membuat psikologis para pemain Argentina sangat rapuh. Tindakan selebrasi Spanyol dinilainya telah melewati batas sportivitas.
"Setelah peluit akhir, saya melihat mereka merayakan tepat di depan wajah saya. Pada saat itu, rasanya sangat menjengkelkan dan, jujur saja, tidak hormat. Anda harus menghormati lawan Anda, terutama setelah pertandingan seperti itu," ketus Paredes usai pertandingan.
Pemain yang juga sempat diganjar kartu kuning di babak kedua karena mendorong Rodri dan Dani Olmo ini mengakui bahwa bentrokan fisik dengan Gavi dipicu oleh luapan rasa frustrasi yang menumpuk. "Anda memberikan segalanya di lapangan, dan ketika sesuatu seperti itu terjadi tepat di depan Anda, sulit untuk tetap tenang," tambahnya.
Meskipun mencoba membela harga diri timnya, gelandang berusia 32 tahun tersebut tidak menampik bahwa tindakan fisiknya terhadap Gavi adalah sebuah kesalahan besar. Ia pun menyampaikan permohonan maaf terbuka atas perilaku buruknya di atas lapangan. "Saya tidak bangga dengan cara saya bereaksi. Saya ingin mengatakan saya minta maaf atas itu. Tapi pada momen-momen seperti itu, sangat sulit untuk mengendalikan emosi Anda," ungkap Paredes dengan nada menyesal.
Sadar bahwa tindakan mencekik atau menyerang lawan di luar pertandingan bisa berujung pada hukuman berat dari FIFA, Paredes mengaku pasrah dan siap bertanggung jawab penuh.
"Mungkin saya bereaksi berlebihan, dan saya terima konsekuensinya. Tapi saya juga percaya harus ada rasa saling menghormati antar pemain. Sepak bola penuh emosi, terutama di pertandingan besar. Terkadang hal-hal menjadi terlalu jauh, dan sayangnya, ini adalah salah satu momen seperti itu," pungkasnya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co