Modal dan ide sering dijadikan sandungan saat memulai usaha. Riswah Yuni membuktikan bahwa seharusnya dua hal tersebut bukanlah masalah, melainkan tantangan. Baginya, niat lurus dan tulus dirasa lebih dari cukup untuk mengawali langkah berbisnis.
TERDENGAR sepele, tapi Riswah Yuni membuktikan bahwa niat baik akan memudahkan seperti apapun langkah dalam mencapai tujuan. Seperti kisahnya yang mengawali bisnis Salakilo dengan niat saling membantu. Sekitar 10 tahun lalu, Yuni mengaku rutin ke Samarinda setiap bulan. Menelusuri jalan poros Balikpapan-Samarinda, Yuni merasa tak lengkap bila tak membeli salak.
Sering mampir, membuat Yuni penasaran dengan keunikan buah salak. Disebutkannya, salah khas Balikpapan memiliki rasa berbeda. Rasanya kelat dan asam. “Saya tanya ke pedagang, salak ini diapakan kalau tidak laku. Pedagangnya bilang, dibuang, daripada busuk di sini (di lapak). Aduh saya tiba-tiba merasa, sayang banget ya kalau harus dibuang percuma,” tambahnya.
PENGHARGAAN: Tak bosan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan membuat Riswah Yuni banyak meraih penghargaan. Hingga mendapat penghargaan tertinggi pemerintah dari Presiden Republik Indonesia. (ANGGI/KP)
Saat itu Yuni belum kepikiran menjadikan hal tersebut sebagai kesempatan bisnis. Dalam benaknya, hanya berusaha mencari cara agar salak dapat diolah menjadi makanan yang bisa dinikmati oleh keluarganya.
“Sampai di rumah, saya langsung cari-cari resep kue yang terbuat dari salak. Tapi kok enggak ada, yang ada malah cake apple, kue yang terbuat dari apel. Namun, saya rasa tekstur apel dan salak tak jauh berbeda, rasanya juga sama-sama ada asamnya. Jadi saya coba-coba deh, dan pertama kali sajikan untuk anak,” ujarnya.
USAHA: Dari berjualan di garasi rumah, kini dia mempunyai toko di pinggir jalan raya. Menjadikan tokonya ladang rezeki orang lain, membuka peluang usaha. (ANGGI)
Tak disangka, anak-anak mengaku suka dengan kuenya. Mendapat apresiasi, Yuni sering membuat kue untuk keluarganya. Hingga pada 2012 akhir, mendapat informasi dari tetangga tentang Festival Pangan Khas Balikpapan yang diadakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop).
“Enggak langsung daftar, saya keburu kebingungan. Ya wajar saja, saya cuma ibu rumah tangga. Setelah itu, coba cari informasi. Saya tampung semua informasinya sampai dirasa mampu, baru berani daftar,” ungkapnya. Dia, dijelaskan panitia, untuk menyiapkan 50 loyang dalam satu hari dan acara tersebut terlaksana selama tiga hari di e-Walk BSB. Selain itu, produk diminta sudah memiliki nama dan kemasan.
Tak mau ambil repot, Yuni langsung saja memberikan “Salakilo” sebagai nama produknya. Dengan arti, salak yang dibeli di daerah kilo. Setelah mendapat nama, Yuni langsung berangkat ke percetakan. “Pas hari H, saya benar-benar bekerja, enggak ada hentinya karena belum ada karyawan. Saya minta bantuan teman dan bagi tugas. Benar-benar capek, karena mulai buat kue dari jam 01.00 Wita. Begitu terus selama tiga hari, sampai suami sempat marah,” jelasnya.
Jerih payahnya berbuah manis. Saat penutupan, olahannya menjadi pemenang. Kebahagiaan itu dia bagikan kepada pedagang salak. Sejak itu, dirinya bertekad untuk serius dalam mengembangkan olahan salak.
“Jauh sebelum memulai bisnis kue salak ini saya sudah pernah membuka usaha warung makan. Tapi enggak laku dan saya harus tutup toko. Waktu itu, niat saya memang untuk menghasilkan uang. Namun, kali ini enggak, saya tulus ingin membantu dan meringankan beban pedagang salak. Alhamdulillah, nikmatnya dilipatgandakan oleh Allah,” ucapnya.
VARIASI: Selalu berinovasi dengan hal-hal baru, kini Riswah Yuni tak hanya memiliki kue Salakilo. Olahan salah seperti sirup salak, salak dodok, sambal ulek salak, madumongso salak, lumpia salak, hingga cokelat dodol salak. (ANGGI)
Langkahnya tak sekadar membuat olahan salak. Namun, juga ingin lebih bermanfaat kepada sesama. Setelah memenangkan Festival Pangan Khas Balikpapan 2012 lalu, dia beberapa kali diundang sebagai mentor di Disperindagkop. Memberdayakan UMKM dengan berbagai pelatihan.
Buah kerjanya juga membawa Yuni beberapa kali memperkenalkan kudapan lokalnya itu ke panggung nasional. Hingga beberapa kali mendapat penghargaan dari Presiden Republik Indonesia, Penerapan Kreasi Prima Mutu. Termasuk penghargaan Upakarti, penghargaan tertinggi dari pemerintah kepada mereka yang berdedikasi tinggi melakukan upaya dalam pengembangan industri kecil dan menengah. Dia juga menyandang penghargaan warga berprestasi Balikpapan dalam bidang UKM.
“Saya enggak pernah berharap dapat penghargaan tinggi seperti itu. Bahkan kepikiran untuk menjadikan olahan saya oleh-oleh enggak sama sekali. Tapi, Allah Maha Baik. Akan mempermudah selagi niatnya juga baik,” pungkasnya. (*/nul*/rdm2/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria