Wabah di Eropa Kian Parah, Iran Tuding Amerika sebagai Pencipta Virus

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Selasa, 24 Maret 2020 | 13:18 WIB
Seorang wanita dengan memakai masker di depan Bank of England, London. Pemerintah Inggris meminta warga terutama yang rentan tak keluar rumah selama 12 pekan. (kredit: Reuters)  Read more at: https://www.deccanherald.com/international/5000-10000-people-li
Seorang wanita dengan memakai masker di depan Bank of England, London. Pemerintah Inggris meminta warga terutama yang rentan tak keluar rumah selama 12 pekan. (kredit: Reuters) Read more at: https://www.deccanherald.com/international/5000-10000-people-li

LONDON - Inggris tak mau bernasib sama dengan Italia. Minggu (22/3) mereka menyatakan akan mengirimkan surat kepada sekitar 1,5 juta penduduknya yang rawan tertular virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Mereka diminta tidak keluar dari rumah. Bukan satu dua pekan, tapi 12 pekan.

Sekitar 40 persen yang menerima imbauan itu sudah berusia 75 tahun ke atas. Selama ini mayoritas korban meninggal akibat Covid-19 memang lansia. Sisanya adalah orang-orang yang memiliki riwayat sakit parah. Misalnya, kanker, penerima transplantasi organ, memiliki kelainan imunitas, punya penyakit pernapasan seperti asma, dan lain sebagainya.

Mereka dilarang berbelanja, jalan-jalan, dan harus meminimalkan kontak dengan siapa pun. Saat pesan barang atau makanan pun, itu harus ditinggal di depan pintu agar yang bersangkutan tidak kontak dengan kurir yang membawa.

Saat ini ada 5.683 penularan. Selain itu, 281 orang meninggal, yang termuda berusia 18 tahun. PM Inggris Boris Johnson meminta penduduknya menaati setiap langkah yang diambil pemerintah. Jika tidak, dia akan membuat aturan yang lebih ketat. Situasi di Inggris saat ini mirip dengan Italia di awal penularan. Tidak tertutup kemungkinan lockdown seperti di Italia juga akan diterapkan.

Di Italia, 5.500 orang dinyatakan positif per hari. Agence France-Presse mengungkapkan, penduduk yang tertular mencapai 59.138 orang dan korban tewas 5.476 orang. Italia kini menutup hampir semua pabrik dan melarang pergerakan penduduk di dalam negeri.

Kanselir Jerman Angela Merkel pun kini mengisolasi diri. Sebab, dokter yang selama ini merawatnya ternyata tertular Covid-19. Meski memiliki jumlah lansia yang tinggi, tingkat kematian di Jerman rendah. Para pengamat memperkirakan bahwa gelombang kematian akibat virus korona itu bakal terjadi beberapa pekan ke depan.

Selandia Baru memilih untuk lockdown mulai hari ini. Sementara itu, India hanya me- lockdown 80 kota dan distrik. Di Timur Tengah, pemerintah Arab Saudi memilih memberlakukan jam malam selama 21 hari ke depan. Pasalnya, sudah ada 511 kasus di Saudi, yang tertinggi di antara negara-negara Teluk.

Di Jordania, Pengawas Obat dan Makanan memperbolehkan dokter untuk menggunakan hydroxychloroquine dan campuran obat lainnya guna menyembuhkan pasien Covid-19 yang sudah parah. Itu adalah obat untuk malaria. Penjualan obat tersebut di apotek dilarang agar penduduk tidak panik membeli dan membuatnya jadi langka.

Iran, salah satu negara terdampak paling parah, malah mencoba mencari kambing hitam. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menuding AS sebagai dalang persebaran virus korona. Menurut dia, virus itu sengaja dibuat untuk menyerang Iran dan menggunakan kode genetik penduduk Iran. Saat ini di Negeri Para Mullah itu ada 1.812 orang yang meninggal dunia akibat Covid-19. Khamenei menolak bantuan dari AS.

’’Bisa saja obat Anda adalah salah satu cara untuk menyebarkan virus lebih luas lagi,’’ terang dia seperti dikutip Al Jazeera.

Di Asia gelombang penularan juga belum terbendung. Di Thailand ada 721 kasus. Itu tertinggi se-Asia Tenggara. Namun, angka kematiannya rendah, hanya satu orang. Hampir semua pertokoan tutup. Para pekerja yang berasal dari negara-negara di sekitarnya berbondong-bondong pulang.

Sepanjang akhir pekan 84 ribu penumpang memenuhi tiga stasiun bus utama di Bangkok. Mereka rata-rata menuju Laos. Sementara itu, kemarin sekitar 9 ribu orang menyeberang ke Myanmar. Jembatan yang menghubungkan Thailand?Myanmar akhirnya ditutup karena eksodus tersebut. Pemerintah Thailand sudah meminta para pekerja migran tersebut agar tidak pulang supaya tidak menyebarkan virus. Namun, mereka tidak mendengarkan.

Di Singapura hingga Minggu malam ada 455 kasus, ada penambahan 23 kasus baru. Pemerintah Singapura memiliki aplikasi untuk melacak orang-orang yang membuat kontak dengan pasien Covid-19. Aplikasi itu akan gratis agar bisa diunduh orang-orang di seluruh dunia. Harapannya, itu bisa menekan angka penularan virus korona secara global. (sha/c10/dos)

Editor : izak-Indra Zakaria
Mancanegara