Tak Pelit Ilmu, Berbagi lewat Kursus

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Minggu, 19 Desember 2021 | 12:34 WIB
DENGAN HATI: Tanpa ada yang ditutupi, usaha rumahannya dipercaya banyak orang. Dia juga mengedepankan kualitas.
DENGAN HATI: Tanpa ada yang ditutupi, usaha rumahannya dipercaya banyak orang. Dia juga mengedepankan kualitas.

MEMASUKI 2017, Elyzabeth atau biasa disapa Elly mulai mengikuti kursus membuat aneka kudapan. Dia berkata, hampir seluruh pembuat kue pasti ingin belajar aneka resep lain. Termasuk dirinya. Dia belajar membuat lapis sagu, berguru langsung dengan seseorang asal Betawi.

“Ibaratnya sambil cari passion, kan kue macam-macam. Jadi ya guru saya yang orang Betawi itu kasih resep, terus dipandu sampai bisa. Lapis sagu buatan saya itu ternyata banyak yang tertarik. Nah, dari 2018 mulai para bakulers (sebutan penjual kue) itu pengin kursus lapis sagu sama saya, daripada jauh-jauh katanya,” bebernya.

Elly menyanggupi, beberapa kloter dia buka. Dijelaskan jika dia mengajari cara membuat lapis sagu di halaman teras rumahnya. Itu mengapa dia menamainya Teras Elvons. Namun, tentu kebersihan adalah hal utama baginya. Antusias peserta cukup tinggi.

Kini mereka yang pernah dia ajari ada yang sudah mulai berjualan masing-masing. Namun, ada pula yang memang hanya untuk konsumsi pribadi. Sejak awal, Elly tidak merasa tersaingi. Dia yakin bahwa rezeki sudah diatur.

“Sekarang kursus di tempat saya sudah tidak melayani, tapi kursus online. Jadi saya kasih resep, mereka praktik dan kirim ke saya hasilnya. Senang rasanya mereka bisa berhasil. Saya juga ngapain pelit ilmu? Saya kan juga belajar dari orang lain. Jadi sekarang semampunya saja untuk kursus kalau saya sempat,” jelasnya.

Selain lapis legit, lapis sagu dan tart susu, aneka olahan lainnya yakni marmer cake, ketan wajik, bingke kelapa, bolu pandan, putu belanda, dan lainnya dia jual. Berkah lain yang dirasakan Elly yakni, lapis legit buatannya kini menjadi salah satu pesanan jasa titip (jastip).

“Awalnya kaget, kok ada gitu yang mau jastip Samarinda. Ada jastip Balikpapan, Surabaya, Malang, Bontang juga ada. Bersyukur pastinya. Dan alhamdulillah juga kuenya bisa tahan di suhu ruang bisa sampai lima harian, rasa enggak berubah. Dan itu juga pengalaman salah satu customer,” lanjut perempuan kelahiran 1984 itu.

Sarana promosi jualannya melalui Facebook dan Instagram. Meski begitu, promosi paling paten menurutnya adalah mulut ke mulut. Keluar dari mulut mereka yang merasakan langsung hasil buatannya.

Diakui, dia tak terlalu sering promosi. Bahkan terkadang butuh waktu untuk menjawab pesan yang masuk. “Saya kan juga masak, ngadon. Saya enggak mungkin pegang handphone terus. Jadi kalau memang ada rezekinya, mau tambah admin. Dan rumah ini juga baru saya beli, khusus untuk bikin kue, peralatan segala macam. Sebelumnya di teras, makanya pelan-pelan semoga bisa punya kedai sendiri,” tutupnya lalu tersenyum. (rdm/ndu/k16)

 

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria