Pencipta/Penulis: Unis Sagena
Penerbit: HIKMA Media Utama Tahun Terbit: 2024
Jumlah Halaman: 94
Genre: Puisi
Sinopsis Buku
Kumpulan puisi dari Unis Sagena ini beda dari yang lain. Kenapa? Karena gaya penulisannya itu mentah, jujur, dan super abstrak. Justru karena citra penulisan yang khas ini, puisinya mempunyai daya tarik yang kuat dan membuat saya menjadi aktif menafsirkan isinya. Meski tema utamanya sering menyentuh soal romansa, Unis Sagena tidak hanya terorientasi di situ saja. Buku ini punya latar tema yang sangat luas, mulai dari urusan hati sampai realitas sosial. Kekuatan utama buku ini? Jelas orisinalitasnya, Unis Sagena sukses besar menggarap materi yang tidak biasa. Intinya, pergolakan batin personal ketemu isu sosial, dibalut bahasa yang khas.
Isi Resensi
Kumpulan puisi karya Unis Sagena ini benar-benar menonjol dan berbeda dari karya-karya lain di pasaran. Mengapa demikian? Kuncinya terletak pada gaya penulisan yang menghadirkan pesona khusus, contohnya dalam karya yang bernama ”Mata Belati” pada bait yang berbunyi ”Beri aku ingatan luka, beribu mata belati rebut angina dan segala riuh.” bait ini sangat merefleksikan pernyataan saya tentang ekstrimisme karya ini. Keunikan atau 'kenormalan yang abnormal' inilah yang memberikan kekuatan magnetis pada puisinya. Bukan hanya sekadar dibaca, tetapi buku ini mendorong saya untuk secara intens dan aktif menafsirkan setiap makna di dalamnya, memicu eksplorasi pikiran yang dalam dan personal. Intinya, karya ini adalah ledakan ekspresif dari gejolak hati si penulis yang digabungkan apik dengan isu- isu sosial yang nyata. Puisinya penuh fragmen metaforis yang memang disengaja, tujuannya yaitu, mendorong kita untuk aktif menafsirkan sendiri isinya. Jadi, ini bukan hanya sekadar dibaca, tetapi saya sebagai pembaca diajak total untuk menggali, mengekstrak, dan menyerap inti serta makna terdalam dari setiap puisinya.
Salah satu alasan utama mengapa saya jatuh hati dengan karya ini adalah cara penulis memakai beragam metafora. Salah satu pengimplementasian metafora yang saya suka terdapat pada karya yang berjudul
”kupesan satu mesiu” pada bait yang berbunyi ”Bedebah! Betapa lancing kau culik jantungku tengok, getarnya seperti serdadu di front terdepan”. Penulis sangat totalitas merangkai visual dan citraan tersebut, otomatis kita jadi tertantang untuk berfikir lebih keras saat membaca setiap baitnya. Setiap metafora yang disajikan terasa begitu mendalam dan multi-dimensi. Keanekaragaman metafora ini menjadi jembatan yang menyambungkan semua curhatan hati penulis ke isu sosial yang lagi ia bahas. Maka dari itu, kita tidak hanya sekadar melihat diksi yang indah, tapi juga diajak bedah dan menyelami inti puisinya. Pengalaman ini sungguh memperkaya wawasan kita. Jadi, buku ini kompleks, kaya pengalaman, dan pasti membuat kita merenung terus menerus.
Gaya menulisnya yang reflektif dan naratif itu juga sangat memikat saya dan membuat pengalaman membaca buku ini menjadi lebih ngena dan mantap dalam menyampaikan makna. contoh pekatnya, Terdapat pada diksi yang berjudul “jejak terminal” yang berbunyi “Baginya, persahabatan seperti layaknya terminal. Tempat orang datang dan pergi lalu-lalang begitu saja tanpa kesan untuk di jejaki”. Penulis sangat mahir jua dalam menyajikan potongan-potongan kisah hidup sehari-hari, terus diolah menjadi renungan filosofis yang bikin mikir. Pendekatan unik seperti ini sangat sukses dalam menyajikan makna-makna yang awalnya terkesan abstrak dan akhirnya menjadi hal yang bisa kita resapi secara mendalam dan subjektif. Hal Ini yang membuat bukunya spesial dan tidak gampang dilupakan.
Kelebihan Buku
Selain isinya yang dalam, buku ini plus banget karena bisa menambah wawasan kita tentang kosa kata- kosa kata yang unik seperti, sekam, cakrawala, mandek DLL. Penulis sangat mahir memakai diksi-diksi unik yang fresh, kadang malah terasa "nyeleneh" dan jarang kita dengar di obrolan biasa, contoh diksi- diksi yang unik dan menurut saya tergolong “nyeleneh” terdapat pada diksi yang berjudul “Boleh kupinjam bola matamu?” berdasarkan larik yang berbunyi “Boleh kupinjam bola matamu?”, larik dari puisi ini sangat menggambarkan sikap penulisan yang tidak umum. Jadi, membaca buku ini bukan cuma menambah kata biasa, tapi kita dapat bonus upgrade bahasa yang berbobot dan terasa sastra. Efeknya? Wawasan kita tentang kosa kata-kosa kata untuk berbicara dan menulis sangat bertambah.
Kekurangan Buku
Buku ini memang menyediakan tema yang raw dan abstrak tetapi ini menjadi sebuah tantangan bagi pembaca, kenapa? Karena hal ini pembaca memerlukan lebih banyak waktu dan effort agar dapat mendalami setiap makna yang terkandung pada suatu diksinya contoh, di dalam diksi yang bernama “SETELAH SANDY SONDORO MENIKAH” pada bait pertama yang berbunyi “Puisi tak lagi tertulis cinta, abjad menjadi sekam, segala rima lesap-larik larik terkutuk”. Sifatnya yang ekspresif itu menuntut kita sebagai pembaca buat butuh waktu yang lumayan lama hanya untuk mendalami setiap makna yang ada di dalam pilihan kata puitisnya. Konsekuensinya, kita sering kesulitan saat mencoba menyusun dan menghubungkan kata-kata itu biar bisa menangkap maksud utuh yang ingin disampaikan oleh penulis.
Kesimpulan
Buku Unis Sagena ini benar-benar menonjol lewat orisinalitas ekstrem dan tema yang dikemas secara unik dan bernuansa konseptual. Walaupun gaya puitisnya menuntut kesabaran dan effort ekstra untuk menafsirkan arti initnya, karya ini justru efektif melatih kekritisan berpikir pembaca. Lebih dari itu, buku ini memperkaya kosakata unik yang berbobot sastra, membuat wawasan verbal kita bertambah. Intinya, ini adalah ledakan ekspresif yang berhasil menyatukan gejolak batin penulis dengan isu sosial yang relevan, Kompleks, menantang, dan sangat membekas.
Seperti yang saya katakan, buku ini menyimpan makna filosofi dan seru umtuk dibahas. Karena judulnya sudah pasti mengarah ke romansa, otomatis topik "cinta" jadi salah satu pusatnya. Secara filosofi, kita tahu, kalau cinta itu murni urusan subjektif. Melalui puisi-puisi Unis Sagena, kita jadi mengerti bahwa cinta itu bukan seperti template atau rumus yang sama untuk semua orang. Penulis mengajak kita melihat cinta sebagai pengalaman batin yang liar, bukan definisi baku dari kamus mana pun. Puisi ini berhasil membongkar bahwa makna sejati cinta itu 100% tergantung pada bagaimana hati dan mindset kita merasakannya, semua tergantung interpretasi personal. Jadi, saat baca buku ini, kita seperti sedang meditasi serius yang memaksa kita menjawab, sebenarnya cinta itu apa sih untuk saya? Ini bukan sekadar baca cerita, tapi adu argumen filosofis antara kita dan kata-kata penulis.
Secara pribadi, puisi yang paling saya gemari dalam karya tulis ini berjudul “musim gugur bersamamu” terutama pada bait terakhir yang berbunyi ”Tapi cintaku padamu tidak bermusim, Sayangku. sepanjang kita duduk bersisian seperti ini, menunggu musim berganti hingga musim semi menjelang bunga-bunga kembali berseri, berdua saja kita, lebur dalam musim” karya ini sangat relate dengan cerita asmara yang saya jalani dengan seorang mahasiswi yang sudah saya kenali lama sebelum duduk di bangku perkuliahan. Saya harapkan walaupun perjalanan asmara ini akan sekering musim panas yang melanda kota furnace creek atau sedingin kota Yakutsk pada saat musim dingin. Tetapi, akan ada waktunya hubungan asmara ini akan terasa seperti hangat yang menyelimuti Amsterdam di kala musim semi.
Resensi ini ditulis oleh Naufal Raghip An-Nabih, yang biasa dikenal sebagai Naufal atau Raghip, adalah seorang mahasiswa baru Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman. Ia besar di Balikpapan dan sedang menmpuh pendidikan serta mencoba menjadi salah satu mahasiswa yang aktif di bangku perkuliahan. Minatnya dalam dunia literasi tumbuh ketika ia masuk ke dunia perkuliahan dengan banyaknya pengetahuan yang diperoleh dari dosen-dosenya, Raghip menjadi semakin haus akan pengetahuan-pengetahuan yang ada didalam buku-buku, terutama buku yang berbau ilmu sosial atau filsafat. Raghip yakin bahwa salah satu cabang pengetahuan yang paling relevan, akurat, dan efektif di masa modern ini adalah pengetahuan-pengetahuan yang tertulis didalam buku. Walaupun di zaman modern ini sudah banyak media-media yang menyiapkan informasi secara instan, tetapi menurut Raghip, dengan membaca buku kita tidak hanya menyerap informasi secara cuma-cuma tetapi juga mempelajari, mendalami, dan melatih kekritisan kita. (*)
Editor : Redaksi Prokal