PROKAL.CO – Proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) senilai Rp147,4 triliun kembali menjadi sorotan tajam di tengah kekhawatiran akan masa depan keberlanjutannya. Perhatian publik kini mulai bergeser dari sekadar pro-kontra pemindahan ibu kota menjadi upaya penyelamatan aset negara agar infrastruktur masif yang telah terbangun tidak berakhir sebagai proyek yang sia-sia atau mangkrak.
Isu krusial ini mengemuka secara mendalam dalam diskusi publik bertajuk Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Ketidakpastian Global yang diselenggarakan oleh Program Doktor Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina pada Selasa (5/5/2026). Dalam forum tersebut, ekonomi senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, melontarkan kritik keras terhadap perencanaan awal proyek IKN yang dinilainya terburu-buru dan sarat dengan beban politik tanpa didukung perencanaan kebutuhan riil negara yang matang.
Didik menilai bahwa pembangunan IKN saat ini berisiko menjadi pemborosan anggaran negara dan menyia-nyiakan pajak rakyat jika tidak segera ditemukan solusi pemanfaatan yang jelas. Mengingat pembangunan fisik terus berjalan di tengah ketidaksiapan pemerintah menjadikan IKN sebagai pusat pemerintahan yang aktif secara penuh, ia menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah mencari cara agar aset negara yang sudah berdiri dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan publik.
Sebagai solusi konkret, muncul usulan strategis untuk mentransformasikan kawasan IKN menjadi pusat pendidikan dan riset nasional. Didik mengusulkan agar gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas yang telah ada dialihfungsikan menjadi kampus bagi universitas-universitas besar di Indonesia melalui pembukaan cabang baru. Nama-nama institusi pendidikan papan atas seperti UI, ITB, IPB, UGM, hingga Unair disebut sebagai penggerak utama yang bisa menghidupkan ekosistem di kawasan tersebut.
Secara kalkulasi ekonomi, jika setiap universitas mampu menyerap sekitar 5.000 mahasiswa setiap tahunnya, maka dalam kurun waktu empat tahun IKN berpotensi dihuni oleh sedikitnya 200 ribu penduduk baru. Keberadaan ratusan ribu mahasiswa ini diyakini akan menciptakan efek ekonomi berantai yang luar biasa. Aktivitas pendidikan tinggi tersebut secara otomatis akan memicu pertumbuhan sektor pangan, kuliner, transportasi, hingga perumahan, sekaligus menjadikan IKN sebagai episentrum riset dan inovasi masa depan yang produktif daripada sekadar menjadi kota hantu yang sepi penghuni.(*)
Editor : Indra Zakaria