VERONA – Citra Neanderthal sebagai makhluk primitif yang kasar perlahan mulai runtuh. Penemuan arkeologis terbaru di daratan Eropa menunjukkan bahwa puluhan ribu tahun sebelum manusia modern tiba, Neanderthal telah mempraktikkan budaya simbolis yang rumit, termasuk penggunaan bulu burung sebagai hiasan atau ornamen tubuh.
Selama ini, kemampuan menciptakan karya seni dan dekorasi dianggap sebagai hak eksklusif manusia modern (Homo sapiens). Namun, serangkaian penelitian di Italia dan Gibraltar memberikan perspektif baru yang mendobrak stigma lama tersebut. Paleoantropolog Marco Peresani dari Universitas Ferrara, Italia, melakukan studi mendalam di Grotta di Fumane atau "Gua Berasap" di dekat Verona. Dalam lapisan tanah berusia 44.000 tahun, tim peneliti menemukan sedikitnya 660 tulang dari 22 spesies burung yang berbeda.
Analisis mikroskopis menunjukkan adanya bekas goresan, pengelupasan, dan pemotongan oleh alat batu tepat di titik di mana bulu terbang yang besar menempel pada tulang sayap. Mengingat spesies burung tersebut memiliki nilai kuliner yang rendah, para peneliti menyimpulkan bahwa bulu-bulu tersebut diambil bukan untuk makanan, melainkan untuk keperluan dekoratif.
Beberapa burung yang diidentifikasi memiliki warna bulu yang mencolok, mulai dari jingga pada falkon kaki merah hingga warna hitam pekat dan biru-abu-abu pada merpati hutan dan burung gagah Alpen.
Penelitian serupa dilakukan oleh tim dari Museum Gibraltar yang memeriksa lebih dari 1.600 situs di Eurasia. Mereka menemukan asosiasi yang sangat jelas antara pemukiman Neanderthal dengan keberadaan sisa-sisa burung pemangsa (raptor) dan keluarga gagak (corvid).
Hasil studi menunjukkan adanya preferensi unik Neanderthal terhadap burung berbulu gelap. Di situs-situs seperti Gua Gorham dan Gua Vanguard, tulang sayap burung predator mendominasi temuan. Jika tujuan utamanya adalah daging, seharusnya bekas alat batu lebih banyak ditemukan pada area berdaging seperti tulang dada, namun kenyataannya tanda tersebut justru terkonsentrasi di area sayap dan cakar.
Bahkan, melalui eksperimen arkeologi, para peneliti menduga bahwa kulit burung raptor besar dikuliti secara utuh beserta bulunya untuk dikenakan sebagai semacam jubah atau "poncho".
Dunia Simbolisme dan Spiritualitas
Penggunaan cakar elang dan bulu burung sebagai aksesori ini menjadi bukti kuat bahwa Neanderthal memiliki kapasitas kognitif untuk memahami konsep simbolisme. Hal ini menunjukkan adanya rasa estetika, identitas kelompok, atau bahkan praktik spiritualitas yang selama ini dianggap hanya dimiliki oleh manusia modern.
Stewart Finlayson dari Museum Nasional Gibraltar menegaskan bahwa temuan ini mengubah posisi Neanderthal dalam sejarah evolusi manusia. "Bukti penggunaan bulu dan cakar mengangkat Neanderthal ke dunia simbolisme dan bahkan spiritualitas, sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai milik eksklusif manusia modern," ujar Finlayson.
Penelitian ini memberikan kesimpulan penting bahwa sebelum kepunahannya, Neanderthal telah memiliki budaya yang kaya dan pemikiran yang jauh lebih maju daripada yang pernah dibayangkan oleh para ilmuwan sebelumnya. (*)
Editor : Indra Zakaria