PROKAL.CO – Selama berabad-abad, nama Leonardo Fibonacci sering disebut sebagai tokoh yang membawa matematika maju ke Eropa. Namun, sejarah mencatat bahwa jauh sebelum Fibonacci lahir, seorang jenius muslim bernama Abū Kāmil Shujā‘ ibn Aslam (meninggal tahun 930) telah menguasai aljabar dengan tingkat kerumitan yang melampaui masanya di era Keemasan Islam.
Abū Kāmil, yang di dunia Barat dikenal dengan nama Auoquamel, adalah matematikawan pertama yang secara konsisten menggunakan dan menerima angka irasional sebagai solusi sekaligus koefisien dalam persamaan. Terobosan ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan matematika modern, di mana teknik-tekniknya kemudian diadopsi secara luas oleh Fibonacci dalam karya-karyanya.
Kontribusi Abū Kāmil tidak berhenti pada angka irasional. Ia tercatat sebagai matematikawan Islam pertama yang mampu bekerja dengan mudah pada persamaan aljabar dengan pangkat tinggi, mulai dari x 2 hingga x8. Tidak hanya itu, ia berhasil memecahkan rangkaian persamaan simultan non-linear dengan tiga variabel yang tidak diketahui—sebuah pencapaian luar biasa pada abad ke-10.
Dalam gaya penulisannya, Abū Kāmil menggunakan metode retoris di mana masalah matematika dijelaskan melalui kata-kata tanpa notasi simbolik modern, kecuali untuk bilangan bulat. Sebagai contoh, untuk menyebutkan pangkat lima (x5), ia menggunakan istilah bahasa Arab "māl māl shay" yang secara harfiah berarti "harta-harta-sesuatu" (atau dalam konteks matematika: kuadrat-kuadrat-sesuatu).
Sejarawan dan cendekiawan besar, Ibnu Khaldun, mengklasifikasikan Abū Kāmil sebagai pakar aljabar terbesar kedua secara kronologis setelah Al-Khwarizmi. Melalui adopsi teknik yang dilakukan oleh Fibonacci, Abū Kāmil memegang peran kunci dalam menjembatani ilmu aljabar dari dunia Islam ke daratan Eropa, yang pada akhirnya memicu revolusi ilmiah di Barat.
Penemuan kembali peran Abū Kāmil ini menegaskan bahwa kemajuan matematika hari ini adalah hasil estafet pengetahuan yang panjang, di mana kecemerlangan ilmuwan muslim menjadi pilar utamanya. (*)
Editor : Indra Zakaria