PROKAL.CO – Sekilas, anak bekantan itu tampak tak berbeda dengan primata lain yang baru lahir. Tubuh mungilnya diselimuti bulu hitam pekat dengan wajah berwarna biru tua—sangat kontras dengan sosok bekantan dewasa yang ikonik lewat bulu kuning kecokelatan dan hidung besarnya. Namun seiring bertambahnya usia, waktu akan mengubah penampilannya secara perlahan hingga menyerupai karakteristik khas induknya.
Pemandangan langka yang menakjubkan inilah yang baru-baru ini terlihat di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Istimewanya, bukan hanya satu bayi yang lahir, melainkan sepasang anak kembar yang muncul di Stasiun Riset Bekantan "Camp Tim Roberts". Fasilitas ini dikelola oleh Dr. Amalia Rezeki, ahli konservasi biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), bersama yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Amalia Rezeki, atau yang akrab disapa Amel, menjelaskan bahwa dua ekor bayi kembar yang lahir pada pertengahan Juni 2026 ini berasal dari betina kelompok Alpha. Kelahiran kembar pada primata, khususnya monyet dunia lama seperti bekantan (Nasalis larvatus), merupakan fenomena yang sangat langka di alam liar karena spesies ini lazimnya hanya melahirkan satu ekor bayi dalam satu musim kehamilan yang berlangsung selama 5 hingga 6 bulan.
Fenomena bersejarah ini pertama kali disaksikan oleh Amel dan timnya saat melakukan pemantauan rutin menggunakan speed boat di area stasiun riset. Dosen Pendidikan Biologi ULM peraih penghargaan Kalpataru 2022 ini mengaku sempat meneteskan air mata haru melihat kedua bayi mungil itu sedang menyusu dalam pelukan induknya. Setelah lebih dari sepuluh tahun mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian bekantan di Pulau Curiak, ini adalah kali pertama dirinya menjumpai kelahiran kembar. Dengan tambahan ini, sepanjang pertengahan tahun 2026 saja sudah ada tiga bayi bekantan yang lahir di kawasan tersebut. Uniknya, di dalam koloni mereka, bayi-bayi ini nantinya akan dirawat bersama dengan sistem pola asuh mirip baby sister yang biasanya dilakukan oleh para betina muda.
Kabar gembira ini langsung memicu gelombang simpati dan perhatian luas dari para pakar konservasi internasional. Associate Professor Charles Lee, peneliti bekantan asal Singapura, mengaku menangis haru saat mendengar "mukjizat" luar biasa ini. Menurutnya, pertumbuhan bekantan yang sehat di Pulau Curiak menjadi bukti sahih dari perawatan luar biasa yang dilakukan tim SBI bersama penduduk desa setempat. Nada kebahagiaan serupa juga datang dari Prof. Tim Roberts dari University of Newcastle, Australia. Ilmuwan yang namanya diabadikan sebagai nama stasiun riset di Pulau Curiak tersebut memuji konsistensi Amel dan tim yang selama sedekade terakhir sukses membentengi monyet berhidung panjang ini dari ancaman kepunahan.
Dukungan ilmiah juga mengalir dari Ikki Matsuda, Ph.D. selaku peneliti dari Wildlife Research Center, Kyoto University, Jepang, yang menilai peristiwa bersejarah ini sangat luar biasa dan wajib dibagikan ke publik dunia. Sementara itu dari dalam negeri, pakar konservasi satwa liar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Hadi Alikodra, menilai kelahiran kembar ini sebagai indikator bahwa kualitas habitat alami dan ketersediaan pakan di Pulau Curiak berada dalam kondisi yang sangat baik. Meski menyambutnya sebagai harapan baru untuk mendongkrak populasi primata yang masuk dalam daftar merah Endangered Species IUCN ini, Amel mengaku tetap menyimpan kekhawatiran terkait kecukupan nutrisi kedua bayi dari satu induk tersebut. Oleh karena itu, observasi yang lebih intensif kini tengah digencarkan untuk memantau tumbuh kembang mereka.
Keberhasilan konservasi di Pulau Curiak mencatatkan angka yang impresif. Berdasarkan data SBI, saat ini terdapat 61 individu bekantan di pulau tersebut, melonjak tajam dibanding tahun 2016 yang kala itu hanya dihuni oleh 14 individu. Luas Pulau Curiak yang awalnya hanya 2,7 hektare kini telah berkembang mencapai sekitar 10 hektare berkat penanaman lebih dari 50.000 bibit mangrove rambai yang dilakukan secara swadaya, bahkan hingga membentuk pulau-pulau kecil baru di sekitarnya.
Lokasi yang berdekatan dengan kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut besutan BKSDA Kalimantan Selatan ini terbukti tidak hanya menyelamatkan satwa liar, tetapi juga menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar. Berkat ekosistem mangrove rambai yang kembali lestari, perairan di sekitarnya kini menjadi rumah bagi ikan dan udang yang melimpah, yang setiap harinya menjadi sumber mata pencaharian bagi puluhan nelayan dari sembilan desa di Kecamatan Anjir Muara.
Kini, Pemerintah Kabupaten Barito Kuala dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memberikan dukungan penuh untuk mengembangkan Pulau Curiak sebagai destinasi ekowisata minat khusus, terlebih kawasan ini merupakan bagian dari situs Meratus UNESCO Global Geopark. Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Selatan, Iwan Fitriady, menekankan pentingnya peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam membangun kesadaran masyarakat setempat untuk menjaga alam. Melalui komitmen bersama ini, diharapkan alam tetap lestari, keanekaragaman hayati berkembang, dan ekonomi masyarakat kian sejahtera lewat eksistensi sang "Monyet Belanda" yang menjadi maskot kebanggaan Kalimantan Selatan. (*)
Editor : Indra Zakaria