Misi Tiga Suku Asli Amerika Hidupkan Kembali Ikan Arctic Grayling yang Punah Seabad di Michigan

Indra Zakaria • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 10:22 WIB
Ikan Arctic grayling muda berenang di dalam tangki penampungan di fasilitas penangkaran tepi sungai milik Suku Grand Traverse Band of Ottawa and Chippewa Indians dekat Traverse City. (Vivian La / IPR News)
Ikan Arctic grayling muda berenang di dalam tangki penampungan di fasilitas penangkaran tepi sungai milik Suku Grand Traverse Band of Ottawa and Chippewa Indians dekat Traverse City. (Vivian La / IPR News)

 
MICHIGAN – Di tengah arus jernih Sungai Boardman-Ottaway, warna-warni kilau perak dan kebiruan terpancar dari kawanan ikan Arctic grayling muda. Bagi masyarakat lokal dan para ahli biologi di bagian utara Michigan, pemandangan ini bukan sekadar upaya konservasi biasa, melainkan sebuah misi pemulihan sejarah dan budaya yang telah hilang selama hampir satu abad.

Ikan Arctic grayling diketahui telah melenyap dari perairan Michigan sejak dekade 1930-an. Aktivitas industri seperti pembalakan kayu (logging), penangkapan ikan berlebihan (overfishing), serta persaingan dengan spesies non-lokal memusnahkan populasi ikan air tawar ini.

Kini, tiga suku asli Amerika di utara Michigan—Grand Traverse Band of Ottawa and Chippewa Indians, Little River Band of Ottawa Indians, dan Little Traverse Bay Bands of Odawa Indians—bekerja sama dengan pemerintah negara bagian untuk menghidupkan kembali spesies legendaris tersebut.

"Menjaga dan membantu mereka membangun kembali populasinya adalah cara kami memulihkan diri kami sendiri, budaya, serta tradisi kami," ujar Tina Frankenberger, koordinator ketahanan lingkungan dari Grand Traverse Band. Proyek restorasi ini digagas dengan memboyong telur Arctic grayling dari Sungai Chena di Alaska, wilayah di mana spesies ini masih berkembang biak secara alami dengan keragaman genetik yang baik.

Sepanjang musim panas dan awal musim gugur, suku Grand Traverse Band berhasil membesarkan sekitar 8.000 ekor grayling muda di fasilitas penangkaran tepi sungai sebelum melepaskannya ke alam liar. Jumlah ini meningkat empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat terkendala pemadaman listrik.

Meski demikian, membesarkan ikan di penangkaran hanyalah separuh dari tantangan. Melacak keberadaan dan tingkat kelangsungan hidup ikan yang telah dilepas di sungai seluas itu menjadi tantangan besar lainnya.

"Ini seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami, dan jeraminya sebesar ukuran sungai," kata Alex Ontkos, ahli perikanan darat dari Little River Band of Ottawa Indians. Selain itu, faktor cuaca ekstrem seperti badai es dan banjir bandang dalam dua tahun terakhir turut menyulitkan tim biologi untuk mengevaluasi perkembangan ikan di sepanjang aliran sungai.

Menghadapi Ancaman Perubahan Iklim

Spesies Arctic grayling sangat bergantung pada air sungai yang bersuhu dingin dan jernih. Para peneliti mengkhawatirkan tren pemanasan global di masa depan dapat memengaruhi keberhasilan jangka panjang dari proyek pemulihan ini.

Guna mengantisipasi perubahan iklim, para ilmuwan dan perwakilan suku berencana memperbarui sistem inkubasi telur agar ikan dapat tumbuh lebih besar sebelum dilepasliarkan, sehingga memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat terhadap pemangsa dan perubahan suhu.

Diperlukan waktu sekitar enam hingga delapan tahun bagi para peneliti untuk menyimpulkan apakah reintroduksi ikan Arctic grayling di Michigan ini berhasil secara permanen.

Proses pelepasan ikan diiringi dengan tradisi Anishinaabe. Sebelum menumpahkan ember berisi ikan grayling ke aliran sungai, Frankenberger menaburkan sedikit tembakau di atas air sebagai simbol doa kepada para leluhur.

"Saya memikirkan tentang bagaimana ikan-ikan ini membangun kembali hubungan mereka dengan sungai ini. Saya percaya hal ini juga akan membantu membangun kembali keterikatan emosional dan budaya bagi masyarakat kami," pungkasnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
michigan