Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ancaman Eskalasi Tertinggi: Senator AS Peringatkan Trump Akan "Habisi" Pemimpin Iran Jika Protes Berdarah Berlanjut

Redaksi Prokal • 2026-01-08 14:45:00
Presiden AS Donald Trump disebut senator Lindsey Graham akan bunuh Ayatollah Ali Khamenei. (Ilustrasi/Gemini AI)
Presiden AS Donald Trump disebut senator Lindsey Graham akan bunuh Ayatollah Ali Khamenei. (Ilustrasi/Gemini AI)

 

WASHINGTON D.C. – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik didih baru menyusul pernyataan provokatif dari Senator senior AS, Lindsey Graham. Dalam sebuah wawancara tajam dengan Fox News pada Selasa (7/1/2026), Graham memberikan peringatan keras bahwa Presiden Donald Trump tidak akan segan mengambil tindakan militer ekstrem terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Pernyataan Graham ini muncul sebagai respons atas tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap gelombang unjuk rasa besar-besaran yang dipicu oleh krisis ekonomi hebat di negara tersebut. Graham menyamakan rezim Teheran saat ini dengan "rezim Nazi" dan menjanjikan bahwa bantuan Amerika sedang bergerak menuju rakyat Iran.

“Kepada para Ayatollah, kalian harus memahami ini: jika kalian terus membunuh rakyat kalian yang menuntut kehidupan yang lebih baik, Donald J. Trump akan membunuh kalian,” tegas Graham. Ia menambahkan bahwa perubahan besar sedang menghampiri Iran, yang ia prediksi sebagai pergeseran sejarah terbesar di Timur Tengah.

Ekonomi Iran di Titik Nadir

Gelombang protes yang mengguncang Iran saat ini dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang Rial yang menembus angka fantastis 1.350.000 per dolar AS. Inflasi yang tidak terkendali telah membuat harga kebutuhan pokok meroket, memaksa warga turun ke jalan di berbagai kota, termasuk ibu kota Teheran.

Situasi di lapangan dilaporkan semakin memanas dengan adanya korban jiwa baik dari sisi pengunjuk rasa maupun aparat kepolisian. Meskipun Ayatollah Khamenei secara terbuka mengakui bahwa tuntutan ekonomi rakyat adalah hal yang wajar, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi aksi yang dianggapnya sebagai kerusuhan atau sabotase asing.

Ancaman Graham memperkuat pernyataan Donald Trump sebelumnya yang mengeklaim bahwa Washington siap "datang untuk menyelamatkan" para pengunjuk rasa jika Teheran menggunakan kekuatan mematikan. Dengan latar belakang operasi militer AS baru-baru ini di Venezuela, ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran ini dinilai oleh para pengamat internasional bukan sekadar gertakan politik biasa.

Langkah ini telah memicu reaksi keras dari para pejabat tinggi di Teheran yang menuduh Washington mencampuri urusan dalam negeri mereka secara ilegal. Para analis khawatir bahwa retorika "penghancuran rezim" ini dapat memicu konflik terbuka di kawasan yang lebih luas, terutama mengingat Iran memiliki kapabilitas rudal balistik dan jaringan pengaruh yang kuat di seluruh Timur Tengah. (*)

Editor : Indra Zakaria