PROKAL.CO– Spekulasi besar kini tengah menyelimuti kekuatan udara Amerika Serikat setelah sebuah jet tempur siluman F-35 dilaporkan melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara regional usai menjalankan misi tempur di wilayah Iran. Insiden yang terjadi pada Kamis waktu setempat ini memicu perdebatan panas mengenai kerentanan teknologi militer paling canggih milik Barat tersebut, dengan munculnya dugaan kuat bahwa pesawat senilai 100 juta dolar AS itu berhasil terkena serangan musuh untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Pihak Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui juru bicaranya, Kapten Tim Hawkins, mengonfirmasi bahwa pesawat mendarat dengan selamat dan pilot berada dalam kondisi stabil. Namun, Hawkins masih enggan merinci penyebab pasti pendaratan darurat tersebut dan menyatakan bahwa investigasi mendalam tengah dilakukan.
Di balik pernyataan resmi yang hati-hati, laporan internal yang dikutip oleh CNN menyebutkan adanya kemungkinan besar pesawat siluman tersebut terkena tembakan saat beroperasi di atas wilayah udara Iran. Klaim ini semakin diperkuat oleh pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang mengklaim telah berhasil menargetkan pesawat militer Amerika dalam operasi pertahanan mereka.
Jika dugaan ini terbukti secara faktual, maka insiden ini akan menjadi catatan sejarah baru bagi dunia penerbangan militer. Sejak pertama kali dikerahkan dalam operasi tempur pada tahun 2018, F-35 telah dikenal sebagai jet yang nyaris tak tersentuh oleh sistem radar dan pertahanan musuh mana pun. Jatuhnya reputasi "tak terlihat" dari F-35 berpotensi mengubah peta kekuatan udara global dan memberikan dorongan moral bagi sistem pertahanan Iran di tengah konflik yang terus memanas sejak akhir Februari lalu.
Sejauh ini, kerugian militer Amerika Serikat di kawasan memang terus menunjukkan tren meningkat. Tercatat sekitar 12 drone MQ-9 Reaper dilaporkan jatuh, serta lima pesawat pengisian bahan bakar KC-135 mengalami kerusakan akibat hantaman rudal di pangkalan Arab Saudi. Selain itu, catatan kelam juga mewarnai operasi ini ketika tiga jet F-15E Strike Eagle jatuh akibat insiden salah tembak oleh pesawat Kuwait pada awal Maret. Dari sisi kemanusiaan, korban jiwa di kedua belah pihak terus berjatuhan dengan angka yang mengkhawatirkan, di mana otoritas kesehatan Iran mencatat lebih dari 1.400 orang tewas sejak dimulainya agresi gabungan AS-Israel.
Kendati menghadapi tantangan teknis dan kerugian personel, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa mandat "America First" dari Presiden Donald Trump tidak akan goyah. Fokus utama militer AS tetap pada penghancuran peluncur rudal, pelemahan industri pertahanan, serta pencegahan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, turut menambahkan bahwa meski Iran masih memiliki kemampuan rudal yang signifikan, militer AS tetap berada pada jalur untuk memperluas jangkauan serangan ke wilayah yang lebih dalam. Kini, dunia menantikan hasil investigasi terhadap F-35 tersebut untuk melihat apakah dominasi teknologi siluman Amerika benar-benar telah menemukan tandingannya di langit Timur Tengah.(*)
Editor : Indra Zakaria