Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

13 Tentara AS Tewas dan Belasan Pangkalan Militer Lumpuh Diterjang Rudal Iran

Redaksi Prokal • Minggu, 3 Mei 2026 | 08:45 WIB
Pasukan AS membawa peti jenazah Sersan Angkatan Darat Amerika Serikat Benjamin Pennington, yang tewas pada 8 Maret akibat serangan Iran.
Pasukan AS membawa peti jenazah Sersan Angkatan Darat Amerika Serikat Benjamin Pennington, yang tewas pada 8 Maret akibat serangan Iran.

PROKAL.CO- Dampak perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran ternyata jauh lebih destruktif dan berdarah dari yang selama ini diungkapkan oleh Pentagon ke hadapan publik. Konflik bersenjata yang meletus sejak akhir Februari 2026 tersebut tidak hanya menghancurkan infrastruktur militer di Timur Tengah, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi militer Washington. Data resmi terbaru menunjukkan sedikitnya 13 personel Amerika Serikat tewas dan 381 lainnya terluka akibat hantaman kombinasi rudal balistik, drone kamikaze, hingga ledakan hebat di berbagai pangkalan utama kawasan Teluk. Namun, angka ini diyakini banyak pihak hanyalah puncak gunung es, mengingat investigasi media internasional mensinyalir adanya upaya pembatasan informasi terkait skala kerusakan dan jumlah korban di lapangan.

Eskalasi mematikan ini bermula hanya beberapa jam setelah Washington meluncurkan Operasi Epic Fury pada 28 Februari lalu. Teheran merespons dengan serangan balasan simultan yang menyasar instalasi militer Amerika di delapan negara berbeda. Akibatnya, sedikitnya 16 pangkalan militer Amerika dilaporkan mengalami kerusakan serius, bahkan beberapa di antaranya nyaris lumpuh total. Korban jiwa pertama mulai berjatuhan saat drone Iran menghantam fasilitas militer di Kuwait pada awal Maret yang menewaskan enam tentara seketika, disusul gugurnya personel lain dalam serangan lanjutan di Irak dan Arab Saudi. Ratusan prajurit lainnya kini harus berjuang pulih dari trauma ledakan, luka bakar, hingga gegar otak, dengan sebagian besar harus dievakuasi ke pusat medis militer di Jerman dan Amerika Serikat karena kondisi yang kritis.

Salah satu serangan paling telak terjadi di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi, di mana rudal Iran berhasil menghancurkan area radar, gudang logistik, serta hanggar yang berisi pesawat pengintai bernilai tinggi. Selain itu, pangkalan strategis seperti Camp Arifjan di Kuwait, Al Udeid di Qatar, hingga instalasi komunikasi di Uni Emirat Arab juga menjadi bulan-bulanan serangan yang menyasar kubah radar jarak jauh dan pusat komando satelit. Meski kerugian materil diperkirakan mencapai angka fantastis hingga USD 50 miliar, Pentagon dinilai minim transparansi. Washington bahkan dikabarkan meminta perusahaan citra satelit komersial untuk menunda penyebaran gambar lokasi pangkalan yang terdampak, sebuah langkah yang memicu tudingan bahwa Amerika Serikat tengah berupaya menutupi narasi kekalahan simbolik di hadapan Teheran.

Kini, fokus publik Amerika mulai bergeser dari biaya perang yang membengkak menuju daftar panjang tentara yang tewas dan terluka, apalagi ketegangan sporadis masih terus menghantui kawasan meski Gedung Putih mengklaim permusuhan telah berakhir. Perang ini tidak hanya memukul militer AS, tetapi juga menjadi tragedi kemanusiaan yang mengerikan dengan laporan lebih dari 3.500 warga sipil tewas di Iran akibat bombardir udara. Dengan rontoknya pangkalan-pangkalan strategis dan tingginya angka kematian di kedua belah pihak, bentrokan ini tercatat sebagai salah satu konflik militer paling mahal dan paling berdarah di Timur Tengah dalam satu dekade terakhir. (*)

Editor : Indra Zakaria
#as #iran