Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Eskalasi Memuncak: Trump Pertimbangkan Operasi Militer Besar di Iran Saat Kesabaran di Selat Hormuz Habis

Redaksi Prokal • Rabu, 13 Mei 2026 | 12:00 WIB
Presiden AS Donald Trump. (David Becker/Reuters/Files)
Presiden AS Donald Trump. (David Becker/Reuters/Files)

 
WASHINGTON — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kini berada di titik nadir seiring dengan laporan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah mempertimbangkan secara serius untuk kembali melancarkan aksi militer skala besar terhadap Iran. Langkah agresif ini muncul sebagai respons atas kebuntuan negosiasi diplomatik serta berlanjutnya penutupan Selat Hormuz yang sangat krusial bagi perdagangan dunia.

Berdasarkan laporan dari berbagai sumber di lingkaran kepresidenan, Presiden Trump dikabarkan mulai kehilangan kesabaran terhadap sikap Teheran. Frustrasi Gedung Putih kian memuncak karena blokade di Selat Hormuz belum juga dicabut, yang secara langsung mengancam stabilitas jalur pelayaran global. Sebagai langkah konkret, pemerintah AS melalui Operation Project Freedom berencana memulihkan keamanan di jalur tersebut dengan perluasan peran militer yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Presiden Trump meyakini bahwa perpecahan internal di dalam kepemimpinan Iran menjadi penghalang utama bagi tercapainya konsesi besar dalam isu nuklir. Keyakinan tersebut mendorong pergeseran kebijakan dari meja diplomasi menuju opsi kekuatan fisik yang lebih nyata. Meski demikian, situasi di dalam pemerintahan Amerika Serikat sendiri tidak sepenuhnya satu suara. Muncul dua kelompok besar di Washington; kelompok pertama mendukung serangan udara terarah secara berkelanjutan untuk melemahkan posisi tawar Teheran, sementara kelompok lainnya tetap berupaya mendorong solusi melalui jalur komunikasi internasional guna mencegah pecahnya perang terbuka.

Kerumitan ini semakin diperparah dengan munculnya keraguan Washington terhadap objektivitas Pakistan yang bertindak sebagai mediator. Pihak AS dikabarkan masih belum yakin apakah pesan-pesan diplomatik tersampaikan secara akurat di antara kedua belah pihak. Namun, keputusan final mengenai tindakan militer ini diperkirakan tidak akan diambil sebelum Presiden Trump menyelesaikan kunjungan resminya ke China pada pertengahan Mei ini.

Situasi ini menjadi sangat genting mengingat sejarah konflik fisik yang baru saja terjadi pada Februari lalu, di mana serangan udara gabungan AS dan Israel mengakibatkan jatuhnya ribuan korban jiwa. Meskipun gencatan senjata sempat disepakati pada April, kegagalan pembicaraan lanjutan di Islamabad dan aksi blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat menunjukkan bahwa perdamaian yang selama ini diupayakan kini kembali berada di ambang kehancuran. (*)

Editor : Indra Zakaria
#donald trump