PROKAL.CO- Perairan dangkal Kepulauan Faroe, sebuah wilayah otonom Denmark di Atlantik Utara, kembali berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Ratusan paus pilot dibantai dalam tradisi perburuan tahunan yang dikenal sebagai Grindadrap. Foto-foto dramatis yang memperlihatkan pesisir pantai dipenuhi bangkai paus dengan air laut yang memerah pekat akibat darah langsung beredar luas di media sosial, memicu gelombang kecaman global.
Melansir laporan Daily Mail, Rabu (3/6), perburuan tradisional yang telah mengakar selama lebih dari 1.000 tahun ini dilakukan dengan cara menggiring kawanan paus pilot menggunakan barisan perahu menuju teluk dangkal. Begitu kawanan mamalia laut ini terjebak di dekat garis pantai, para nelayan setempat langsung turun ke air untuk menyembelih mereka demi diambil daging dan minyaknya.
Bagi warga setempat, aksi ini bukanlah pembunuhan massal yang kejam, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan sejak era Viking. Pemerintah Kepulauan Faroe menegaskan bahwa perburuan ini merupakan sumber pangan lokal yang penting, di mana hasil buruan tidak diperjualbelikan secara komersial, melainkan dibagikan gratis kepada masyarakat sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam turun-temurun.
Namun di mata organisasi perlindungan hewan internasional, alasan tradisi sudah tidak bisa lagi ditoleransi di era modern. Kelompok aktivis lingkungan menilai metode pembantaian ini sangat kejam karena menyebabkan penderitaan hebat pada paus pilot, mamalia yang dikenal memiliki tingkat kecerdasan dan ikatan sosial yang sangat tinggi.
"Tidak ada tradisi yang dapat membenarkan pembantaian ini. Seluruh kawanan digiring ke teluk dangkal dan dibunuh," tulis organisasi konservasi laut Sea Shepherd Conservation Society dalam laporan pemantauan mereka. Sea Shepherd sendiri tercatat telah mendokumentasikan serta mengampanyekan penghentian praktik ini sejak tahun 1983.
Senada dengan hal tersebut, organisasi Whale and Dolphin Conservation (WDC) ikut angkat bicara. Mereka menyatakan bahwa masyarakat modern Faroe saat ini sudah memiliki akses penuh terhadap berbagai sumber pangan alternatif, sehingga ketergantungan pada daging paus untuk memenuhi kebutuhan gizi sebenarnya sudah tidak ada lagi.
Para peneliti konservasi juga mengkhawatirkan dampak jangka panjang perburuan ini terhadap populasi paus pilot sirip panjang (long-finned pilot whale). Spesies ini dikenal memiliki siklus perkembangbiakan yang sangat lambat, di mana seekor induk hanya melahirkan satu anak setiap tiga hingga enam tahun sekali. Kehilangan ratusan individu dalam satu hari jelas menjadi pukulan telak bagi keberlanjutan mereka. Sebagai predator di puncak rantai makanan samudra, paus pilot memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut global. Jika populasi mereka terus digerus, stabilitas populasi spesies laut lainnya dipastikan ikut terganggu.
Meskipun tidak ada kuota resmi yang ditetapkan oleh otoritas setempat, angka pembantaian ini tetap fantastis setiap tahunnya. Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2025 lalu saja, tercatat ada sekitar 814 ekor paus pilot dan lumba-lumba sisi putih Atlantik yang tewas dalam tradisi ini.
Tragedi berdarah di Kepulauan Faroe ini menjadi potret nyata benturan keras antara pelestarian hak budaya masyarakat adat dengan tuntutan perlindungan satwa di dunia modern. Selama belum ada titik temu, laut di Atlantik Utara dipastikan akan terus memerah setiap tahunnya, memicu perdebatan yang seolah tidak ada ujungnya. (*)
Editor : Indra Zakaria