TEHERAN — Babak baru hubungan diplomatik antara dua negara yang lama berseteru tampaknya akan segera dimulai. Pemerintah Iran secara resmi mengonfirmasi bahwa kesepakatan damai dengan Amerika Serikat (AS) telah mencapai titik temu. Jika tidak ada aral melintang, penandatanganan dokumen bersejarah tersebut dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat, 19 Juni mendatang.
Kabar mengejutkan sekaligus melegakan bagi stabilitas global ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui siaran langsung televisi nasional Iran.
"Naskah nota kesepahaman (MoU) telah difinalkan, dan penandatanganan resmi dokumen tersebut akan berlangsung di Swiss pada Jumat nanti," ujar Gharibabadi. Sebagai bagian dari komitmen awal kesepakatan besar ini, ketegangan di jalur laut dan zona konflik dipastikan akan mereda dalam waktu dekat. Gharibabadi mengungkapkan bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk mencabut blokade lautnya terhadap Iran mulai Senin (15/6) malam ini.
Tidak hanya itu, kesepakatan damai AS-Iran ini juga mencakup poin krusial berupa penghentian total seluruh operasi militer di semua lini pertempuran—termasuk ketegangan yang terjadi di Lebanon—yang juga mulai diberlakukan pada Senin malam.
Kendati kesepakatan besar ini berhasil dicapai, Teheran menegaskan bahwa langkah diplomatik ini diambil bukan berarti hubungan kedua negara langsung mencair begitu saja. Iran menyatakan tetap menaruh kewaspadaan tingkat tinggi terhadap komitmen sepihak dari Washington.
"Nota kesepahaman ini sama sekali tidak menandakan adanya kepercayaan kepada pihak lawan. Dokumen ini bahkan disusun tanpa landasan kepercayaan sedikit pun. Kami akan terus memantau dengan ketat setiap tindakan Amerika Serikat serta pemenuhan kewajibannya di lapangan," tegas Gharibabadi secara blak-blakan.
Lebih lanjut, Gharibabadi menambahkan bahwa setelah seremonial penandatanganan nota kesepahaman pada 19 Juni mendatang selesai, agenda krusial berikutnya sudah menanti. Kedua negara dijadwalkan langsung masuk ke meja perundingan strategis untuk membahas sejumlah isu sensitif yang selama ini mengganjal, mulai dari pencabutan sanksi ekonomi sepihak, persoalan program nuklir, hingga upaya pemulihan ekonomi bilateral. (*)
Editor : Indra Zakaria