PROKAL.CO– Hubungan Amerika Serikat dan Iran yang sempat kembali membara dilaporkan mulai mendingin setelah kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan seluruh aktivitas kinetik atau operasi bersenjata. Langkah darurat ini diambil menjelang pertemuan krusial yang dijadwalkan berlangsung di Doha, Qatar, pada Selasa besok untuk membahas perselisihan panas terkait jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Bentrokan bersenjata yang sempat pecah belakangan ini dipicu oleh adanya perbedaan penafsiran dalam mengimplementasikan poin-poin Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang menandai berakhirnya perang. Di dalam dokumen perdamaian yang ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian pada 18 Juni lalu, tercantum klausul di mana Iran berjanji menjamin keselamatan kapal dagang di Selat Hormuz, sementara AS berkomitmen mencabut blokade di berbagai pelabuhan Iran. Namun, interpretasi yang berbeda mengenai aturan main di lapangan membuat situasi sempat berada dalam fase kebuntuan.
Sebagai upaya meredam ketegangan, Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran sebenarnya telah sepakat untuk membentuk jalur komunikasi langsung antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) saat bertemu di Swiss pekan lalu. Jalur khusus ini dirancang untuk mengoordinasikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Sayangnya, hingga Sabtu kemarin, saluran komunikasi darurat tersebut dilaporkan belum juga beroperasi secara efektif, sementara Teheran tetap bersikeras agar setiap kapal asing melakukan koordinasi terlebih dahulu sebelum melintas.
Ketegangan di lapangan ini akhirnya memaksa kedua negara mengubah strategi diplomasi mereka. Pertemuan yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss untuk membahas program nuklir Iran kini resmi dialihkan lokasinya ke Doha, Qatar. Tidak hanya tempat yang bergeser, fokus utama pembahasan pun kini dirombak total untuk memprioritaskan penyelesaian krisis di Selat Hormuz demi mencegah runtuhnya MoU Islamabad yang baru seumur jagung. (*)
Editor : Indra Zakaria