PROKAL.CO- Serangan udara Iran terhadap pangkalan militer Serikat di Yordania yang menewaskan tiga prajurit Amerika Serikat menyingkap fakta baru mengenai kapabilitas tempur Garda Revolusi Iran (IRGC). Memasuki bulan kelima perang antara AS-Israel melawan Iran, Teheran terbukti masih memiliki kemampuan presisi untuk menimbulkan korban jiwa. Kejadian fatal ini menjadi kasus kematian pertama tentara AS akibat gempuran langsung Iran ke fasilitas militer Amerika sejak awal Maret. Momen tersebut menggarisbawahi realitas pahit bagi Washington: terlepas dari rentetan gempuran udara masif oleh militer AS, Iran terus memulihkan serta meningkatkan kekuatan tempurnya.
Tingginya efektivitas serangan Iran dipicu oleh sejumlah faktor utama. Sekitar 50.000 personel AS ditempatkan di pangkalan-pangkalan tetap yang berada dalam jangkauan jelajah rudal dan drone Iran. Fasilitas semi-permanen yang ada umumnya dirancang untuk menangani roket atau bom rakitan, bukan rudal balistik berhulu ledak besar. Selain itu, Iran memadukan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone bersenjata yang diluncurkan dengan kecepatan serta lintasan berbeda. Strategi ini sanggup melampaui kapasitas sistem pertahanan canggih seperti Patriot dan THAAD. Peningkatan akurasi rudal Iran juga disinyalir mendapat dukungan data intelijen serta adaptasi strategi di lapangan, ditambah keunggulan asimetri biaya karena stok drone dan rudal Iran jauh lebih murah untuk diproduksi dibandingkan dengan biaya misil pencegat yang harus dikeluarkan oleh AS.
Dampak dari serangan presisi ini memicu kritik tajam di tingkat domestik AS. Komite Angkatan Bersenjata Senat AS mencecar Menteri Pertahanan Pete Hegseth terkait klaim sebelumnya yang menyatakan bahwa kekuatan militer Iran telah dihancurkan dan tidak efektif dalam bertempur. Meski Hegseth mengklaim bahwa angkatan laut dan basis industri pertahanan Iran telah lumpuh secara signifikan, para pakar menilai Washington telah terlalu cepat menyimpulkan karena Iran terbukti masih menyimpan serta menggunakan rudal-rudal balistik berukuran besar yang sanggup meloloskan diri dari radar pertahanan.
Secara keseluruhan, korban tewas resmi di pihak militer AS sejak perang bergejolak telah mencapai 18 prajurit, dengan sekitar 500 personel lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, lebih dari 220 fasilitas dan peralatan militer utama AS dilaporkan rusak atau hancur sejak pecahnya kembali konflik pada awal Juli. Bagi Iran, kemenangan militer mutlak tidak diperlukan; mereka hanya perlu terus menembus pertahanan lawan untuk memberikan tekanan politik dan operasional yang tinggi bagi kehadiran AS di kawasan tersebut. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co