MARSEILLE – Suasana mencekam menyelimuti kota terbesar kedua di Prancis, Marseille. Kaca-kaca bangunan yang pecah serta pintu-pintu pertokoan yang tertutup rapat menjadi saksi bisu setelah gelombang unjuk rasa besar-besaran berubah menjadi kerusuhan terparah dalam sejarah modern kota pelabuhan tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada akhir pekan lalu tersebut menyebabkan kerusakan masif. Asosiasi pengusaha lokal melaporkan lebih dari 500 tempat usaha mengalami kerusakan berat dan sebagian besar di antaranya habis dijarah massa. Serikat kepolisian setempat menggambarkan situasi yang dihadapi para petugas sebagai neraka yang "apokaliptik". Sebanyak 118 personel polisi dilaporkan mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut—menyumbang lebih dari sepersepuluh dari total aparat yang terluka secara nasional.
Hingga saat ini, pihak kepolisian telah menahan 101 orang di Marseille, di mana seperempat dari jumlah tersangka tersebut diketahui masih berusia anak-anak. Guna mengantisipasi kerusuhan susulan, otoritas setempat memberlakukan larangan berkumpul dan berdemonstrasi selama delapan jam di pusat kota. Langkah ketat ini terbukti sempat meredakan ketegangan di jalanan utama.
Meski demikian, guna mencegah potensi kekacauan baru, pemerintah daerah berencana menerapkan jam malam bagi anak di bawah umur (minors) di beberapa titik wilayah Marseille.
"Itu adalah medan perang. Tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Arnaud Blaise, perwakilan dari serikat polisi UN1TE. Blaise mengungkapkan bahwa aksi penjarahan meluas hingga ke kawasan pusat bisnis utama seperti La Canebière, Rue Paradis, serta pusat perbelanjaan Centre Bourse, Grand Littoral, dan Le Merlan. Ia menyebut kerusuhan ini dipicu oleh kelompok provokator radikal (Black Bloc) yang memicu kekacauan, yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok pemuda untuk melakukan penjarahan massa.
"Kami menembakkan 4.000 granat gas air mata hingga akhirnya kami kehabisan amunisi. Pada titik itu, kami tidak punya pilihan selain mundur," tambah Blaise menanggapi tuduhan bahwa polisi bertindak pasif saat penjarahan berlangsung.
Gelombang Protes Pelajar hingga Isu Biaya Hidup
Gelombang demonstrasi ini sebenarnya bermula sejak September lalu, dipicu oleh ketidakpuasan atas kondisi fasilitas sekolah yang memprihatinkan, sebelum akhirnya meluas ke isu-isu sosial yang lebih besar seperti lonjakan biaya hidup dan ketimpangan ekonomi. Maryame (18), seorang mahasiswi yang baru beberapa minggu tinggal di Marseille, menceritakan pengalamannya ikut serta dalam aksi tersebut.
"Ini pertama kalinya saya di kota besar dan pertama kali ikut demonstrasi. Awalnya solidaritas antar-peserta sangat indah, tetapi situasi berubah menjadi sangat menakutkan ketika penjarahan dimulai," ungkap Maryame.
Ia mengakui adanya dilema di kalangan pengunjuk rasa mengenai efektivitas aksi kekerasan dalam menekan pemerintah. "Sejarah Prancis memang dibangun dari revolusi, dan terkadang kita harus memberi dampak besar agar didengar. Tapi kali ini situasi terasa sudah melampaui batas," ujarnya.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, melakukan kunjungan darurat ke Marseille untuk bertemu dengan Wali Kota Marseille dari Partai Sosialis, Benoît Payan. Balai Kota Marseille sendiri sempat diduduki secara singkat oleh para pengunjuk rasa selama kerusuhan terjadi. Wali Kota Payan melayangkan kritik tajam terhadap taktik pengamanan yang diterapkan pemerintah pusat, menyebut seluruh rangkaian penanganan tersebut sebagai sebuah kegagalan (fiasco).
"Jika tidak ada perubahan pendekatan secara radikal—jika sasaran utama petugas tetaplah para siswa sekolah menengah—maka kita akan menyaksikan aksi penjarahan ini terulang kembali," tegas Payan.
Sementara itu, kecemasan juga dirasakan oleh warga senior. Chantal Bellanger (79), seorang warga lokal, menyuarakan keprihatinannya atas kemunduran berbagai layanan publik serta kondisi daerah pinggiran yang kian terabaikan.
"Prancis seperti kehilangan kendali atas banyak hal, mulai dari layanan publik, rumah sakit, hingga pendidikan. Sangat menyakitkan melihat anak-anak muda bertindak nekat dan keluar dari tatanan sosial akibat rasa putus asa," tuturnya. Meskipun larangan berkumpul sementara dan jam malam berhasil meredakan situasi sesaat, pihak berwenang tetap bersiap menghadapi potensi aksi unjuk rasa lanjutan yang diprediksi akan kembali digelar pada akhir pekan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co