PALM BEACH COUNTY — Dua kata terakhir yang terlontar dari kokpit pesawat Learjet 60 sebelum menghantam jalanan di Palm Beach County, Florida, terdengar begitu memilukan. “Kita kehabisan waktu,” menjadi komunikasi penutup dari penerbangan berujung maut yang merenggut sembilan nyawa pada Minggu (1/11/2026). Di balik peristiwa tragis yang terjadi hanya beberapa mil dari kediaman Mar-a-Lago tersebut, sosok co-pilot berusia 20 tahun, Nathalia Gadelha Filgueiras, kini menjadi sorotan publik.
Kepastian mengenai peran Nathalia sebagai navigator dalam penerbangan nahas menuju Bahama tersebut dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga. Ibunya, Camila, serta sang ayah tiri membenarkan bahwa putri mereka berada di dalam pesawat saat musibah terjadi. Kehilangan ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang mengenalnya sebagai sosok pemberani dan berdedikasi tinggi pada dunia penerbangan.
Baca Juga: Tragedi di Florida: Pesawat Learjet Jatuh Menghantam Jalanan, 9 Orang Tewas Termasuk 1 Keluarga
Nathalia Gadelha Filgueiras bukanlah nama baru di dunia aviasi lokal Florida. Tumbuh besar di Palm Beach County, Nathalia telah menekuni dunia penerbangan sejak berusia 17 tahun. Kecintaannya pada membumbung di angkasa diturunkan dari sang ayah yang lebih dulu belajar terbang pada 2018.
Kisah unik mengiringi langkahnya saat meraih lisensi pilot pada 2023 ketika ia masih duduk di bangku akhir West Boca Raton High School. Saat itu, Nathalia resmi mengantongi izin terbang bahkan sebelum ia memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk mengendarai mobil di jalan raya.
Lulusan sekolah penerbangan ternama American Flyers tersebut kerap membagikan momen kebahagiaannya mengudara melalui media sosial. Sang ibu juga sering mengunggah kebersamaan keluarga saat terbang menggunakan pesawat-pesawat kecil, memperlihatkan betapa aviasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka.
Pembelaan dari Komunitas Aviasi dan Pimpinan NASA
Di tengah bergulirnya penyelidikan oleh Komite Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) dan Federal Aviation Administration (FAA), suara-suara spekulatif sempat beredar di media sosial mengenai rekaman komunikasi terakhir dari kokpit. Namun, kritikan tersebut langsung mendapat bantahan keras dari tokoh-tokoh terkemuka aviasi, salah satunya Administrator NASA, Jared Isaacman.
Melalui pernyataan resminya, Isaacman yang berpengalaman puluhan tahun di dunia penerbangan membela ketenangan dan profesionalisme Nathalia di detik-detik terakhir hidupnya. Menurutnya, Nathalia telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik dalam berkomunikasi dengan menara pengawas lalu lintas udara (ATC) hingga momen paling kritis di tengah situasi yang amat menakutkan.
Nathalia dipastikan telah memenuhi seluruh kualifikasi, pelatihan resmi, serta kelulusan ujian dari penguji FAA untuk mendampingi kapten pilot utama dalam penerbangan komersial tersebut.
Tragedi ini tidak hanya membawa duka bagi keluarga pilot, tetapi juga menghancurkan sebuah keluarga utuh yang menjadi penumpang. Pasangan suami istri Adam Robinson (45) dan Helen Sharp (40) tewas bersama dua anak balita mereka, Emma yang baru berusia 4 tahun dan Charlie yang berusia 2 tahun. Pengasuh anak mereka, Anita Maria Cetina, serta dua penumpang lainnya, Rachael Reed dan Charmi Fehr, turut menjadi korban dalam insiden tersebut.
Dalam pernyataan bersama, keluarga korban menyampaikan terima kasih mendalam kepada tim penyelamat dan masyarakat lokal yang telah memberikan dukungan moral. Mereka juga menegaskan bahwa duka yang mereka rasakan mengalir setara bagi keluarga kedua pilot yang juga kehilangan sosok dicintai.
Hingga kini, tim penyidik NTSB masih terus mengumpulkan puing-puing pesawat yang tersebar di radius ratusan meter serta menganalisis faktor cuaca, termasuk pembekuan es dan turbulensi hebat, guna mengurai penyebab pasti kecelakaan penerbangan tersebut. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co