Gambut Mengering, Karhutla Meluas di Delapan Daerah Kalbar: Helikopter Water Bombing Dikerahkan ke Kubu Raya

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 10:45 WIB
Petugas BPBD Kalbar berjibaku memadamkan api Karhutla di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Senin (27/7/2026) (Antara)
Petugas BPBD Kalbar berjibaku memadamkan api Karhutla di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Senin (27/7/2026) (Antara)

 

PROKAL.CO- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat kian mengkhawatirkan. Laporan harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar mencatat operasi pemadaman kini meluas dan tersebar di sedikitnya delapan kabupaten, yakni Kubu Raya, Ketapang, Kayong Utara, Mempawah, Bengkayang, Sambas, Sintang, hingga Melawi.

Kabupaten Kubu Raya menjadi daerah dengan intensitas penanganan paling tinggi, di mana titik api di kawasan seperti Desa Limbung, Kuala Dua, Punggur Kecil, Arang Limbung, hingga Rasau Jaya terus membesar. Bahkan di kawasan Komplek Bumi Serdam Indah, Sungai Raya, kobaran api sempat berkobar mendekati permukiman dan hanya berjarak dua meter dari rumah warga. Selain di Kubu Raya, titik api berskala luas juga melalap kawasan lain, seperti di Desa Peniti Besar, Kabupaten Mempawah, yang menghanguskan sekitar 12 hektare lahan.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengungkapkan bahwa tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, KPH, hingga relawan masyarakat terus berjibaku di lapangan melalui operasi darat dan udara.

"Operasi darat terus dilakukan oleh BPBD kabupaten/kota bersama TNI, Polri, Manggala Agni, KPH, pemerintah desa hingga masyarakat sesuai kondisi di masing-masing daerah," ujar Daniel pada Senin (27/7/2026).

Daniel membeberkan, krisis air dan sulitnya akses menuju lokasi gambut menjadi kendala utama pemadaman darat. Untuk mengatasi hambatan tersebut, operasi udara mengandalkan helikopter water bombing yang difokuskan menyisir dan mengguyur titik api di Desa Limbung, Kubu Raya, serta helikopter patroli yang menyisir kawasan Kayong Utara dan Ketapang.

Maraknya karhutla di Kalbar erat kaitannya dengan kerentanan ekosistem gambut. Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Pontianak, Yunus Sudaryanti, mengingatkan bahwa Kalbar memiliki 2,79 juta hektare ekosistem gambut—dengan Kubu Raya sebagai pemilik area gambut terluas (785,9 ribu hektare). Ketika gambut mengering pada musim kemarau, risiko kebakaran hebat tak terelakkan.

"Pengelolaan yang terintegrasi tidak hanya menjaga fungsi hidrologis gambut dan mencegah kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan gambut yang berkelanjutan," jelas Yunus.

Kebakaran gambut menghasilkan lonjakan partikel halus PM2.5 beracun yang berdampak buruk pada kesehatan masyarakat. Dengan status kualitas udara yang menyentuh tingkat "Sangat Tidak Sehat", warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker berstandar tinggi seperti KN95 demi menghindari risiko gangguan pernapasan. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Pontianak Post
karhutla