Bisnis babi potong di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menuai sorotan. Pasalnya berdasarkan informasi yang beredar upaya untuk mendatangkan babi potong dari luar Kalbar tidak melewati pelabuhan di Kalbar. Akan tetapi babi potong tersebut dibawa melalui jalur darat.
Hal itu menyebabkan akan sulit untuk dilakukan pengawasan secara ketat sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap keselamatan konsumen.
Praktisi Kebijakan Publik, Herman Hofi Munawar menyebutkan jika babi potong didatangkan lewat pelabuhan di Provinsi Kalbar maka akan sangat mudah untuk dilakukan pengawasan. Namun ketika malah didatangkan lewat jalur darat tentu sulit untuk diawasi. Sehingga hal ini juga akan berpengaruh terhadap keselamatan konsumen.
“Kalau pelabuhan ke pelabuhan maka akan mudah untuk mendeteksinya, tetapi jika diluar itu maka kita belum memiliki instrumen untuk bisa mendeteksi barang yang masuk jenisnya itu justru akan sangat membahayakan bagi keamanan pangan dan peternak,” ungkap Herman Hofi Munawar.
Herman meminta prosedur perdagangan antar pulau terutama untuk babi dan hewan lainnya harus semakin diperjelas. Prosedur itu pun menurutnya harus dibarengi dengan regulasi yang lengkap dan dijalankan secara benar. Pasalnya hal ini akan sangat erat kaitannya dengan kesehatan pangan bagi konsumen.
“Kita berharap stakholder terkait seperti karantina dan lainnya harus betul-betul proaktif tidak hanya pada babi tetapi hewan ternak lainnya,” sambungnya.
Dirinya menambahkan semua produk yang bersifat konsumsi masyarakat harus menjadi perhatian penuh dari dinas terkait. Disamping itu semua aspek regulasi yang ada juga dijalankan dengan baik. Sehingga keselamatan dan keamanan konsumen tetap harus menjadi perhatian utama.
“Jangan sampai babi yang masuk ke Kalbar tidak melalui karantina Kalbar, ini sangat berbahaya kita berharap tidak terjadi hal seperti itu,” tegasnya. (azk)