Talas atau keladi kerap dipandang sebelah mata lantaran harganya yang relatif murah. Namun belakangan tanaman ini mulai menjadi primadona di Kalimantan Barat. Keladi bisa menjadi berbagai macam olahan pangan hingga pengganti tembakau. Hampir seluruh bagian tanaman ini punya nilai jual. Stik keladi Kalbar bahkan menjadi camilan tetamu agung dalam event G20 di Bali tahun lalu.
KASBI (62 tahun) memasukan potongan keladi yang telah dikupas ke dalam mesin perajang di pabrik mini belakang rumahnya. Mesin ini baru dibelinya akhir tahun lalu dari Tiktok Shop.
"Anak saya nonton Live Tiktoknya pembuat mesin rajang dari Malang. Kayaknya mesinnya bagus, makanya kami beli," ujarnya saat disambangi Pontianak Post di pabrik Stik Keladi Enggang Gading, Jl Trans Kalimantan, Desa Jawa Tengah, Kecamatan Sungai Ambang, Kabupaten Kubu Raya. Demi membeli mesin yang harganya hampir Rp100 juta itu, ia pun mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp200 juta. Ini kali kedua Kasbi mengambil KUR, setelah empat tahun lalu.
"Untungnya dari pengajuan sampai pencarian (KUR) BRI cepat sekali. Kita memang lagi butuh mesin perajang untuk mengejar produksi, karena karyawan kita sekarang tidak sebanyak dulu," ungkap dia.
Sebelum pandemi Covid-19 datang, Kasbi punya 19 orang karyawan untuk mengerjakan 1-2 ton talas per hari. Ada yang bagian mengupas talas, memotong, merajang, menggoreng, hingga mengemas produk akhir. Namun sejak pandemi, permintaan turun drastis. Kasbi terpaksa mengurangi kapasitas produksi. Pengurangan karyawan pun tak terelakkan.
Walau kini permintaan mulai meningkat, namun belum sebanyak dulu. "Sekarang produksi kita bisa setengah ton sehari. Tetapi kita belum berani ambil banyak karyawan. Sekarang yang kerja ada 14 orang saja, termasuk saya dan tiga anak saya," ujarnya.
Usaha ini dikelola Kasbi bersama tiga anaknya; Junaidi (44), Juhardi (43), dan Nursiah (40). "Kami semua fokus mengembangkan usaha ini. Kami bagi-bagi tugas. Saya dan abang saya fokus di produksi, sedangkan adik saya yang cewek di pemasarannya," ujar Juhardi, si tengah dari tiga bersaudara.
Kendala terbesar usaha ini, kata Juhardi, adalah bahan baku. "Setiap daerah punya talas yang berbeda-beda kualitas dan rendemennya. Harganya dari Rp4000 sampai Rp8000 per Kg. Paling bagus dari Jawai, Sambas dekat perbatasan Malaysia. Tetapi jaraknya jauh dan stoknya terbatas. Ada juga yang dekat-dekat sini, cuma kualitas umbinya agak kurang," sebut dia.
Sementara untuk pemasaran, Si bungsu, Nursiah menyebut kendala terbesar adalah sulitnya mengirim produk ini keluar Kalbar dalam jumlah besar. "Pernah ada pembeli di Jakarta pesan banyak sekali, tetapi sampai di sana produknya banyak yang remuk. Karena stik keladi ini memang rentan patah kalau ditimpa benda lain atau kena guncangan," sebutnya.
Stik Keladi Enggang Gading sendiri memiliki dua varian rasa, yaitu balado dan original. Harganya terbagi empat, tergantung tingkatan kualitas. Setiap kilogramnya, produk berkualitas A dijual Rp110 ribu, grade B Rp100 ribu, C Rp70.000, dan D Rp50.000.
Brand Stik Keladi Enggang Gading yang berdiri sejak tahun 2011 sangat terkenal di Pontianak. Lantaran kualitasnya yang baik dan harganya murah. Mereka hanya menjual kepada pengecer atau orang yang datang langsung ke pabrik.
Sekarang brand ini punya 15 reseller tetap, termasuk sejumlah supermarlet dan toko oleh-oleh top di Pontianak. Namun pada hari besar seperti Idulfitri, Natal, dan Tahun Baru Imlek banyak muncul reseller dadakan. "Kayak Lebaran kemarin ini, ada kali 100 orang yang ngambil (stik keladi) ke sini," sebut Nursiah.
Suriyadi Raup Rp60 Juta Sebulan
Aneka camilan berbahan dasar keladi terhidang di Sekretariat Kelompok Pengolahan Hasil (Poksil) Bulan Purnama, Sungai Bulan, Kota Singkawang saat Pontianak Post berkunjung ke sana, beberapa waktu lalu. Sebut saja seperti keripik, stik, bolu, klepon, dan olahan keladi lainnya. Kelompok ini berdiri tahun 2015 dan memiliki belasan anggota. Semuanya adalah pengolah keladi. Salah satu anggotanya adalah Suriyadi. Saban hari di rumahnya, dia bersama sang istri memproduksi keripik, dan stik keladi. "Sehari saya rata-rata kami bisa memproduksi 30 kilogram stik dan keripik. Untungnya saya tidak kesulitan bahan baku, karena punya kebun keladi sendiri.," ucapnya.
Produk ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Kota Singkawang saja. Melainkan dikirim ke berbagai daerah, terutama Kota Pontianak. Suriyadi bahkan pernah mengirim hingga ke Malaysia. Omzetnya tidak main-main. "Sebulan rata-rata omzet saya Rp60 juta. Atau sehari sekitar Rp2 juta," ungkapnya.
Kunci kesuksesan usahanya ini ada pada rasa dan bumbu. Menurutnya, setiap jenis keladi perlu diperlakukan berbeda. "Ada umbi yang padat dan kandungan airnya sedikit. Ada juga yang airnya banyak. Itu bumbunya tidak sama takarannya. Kami ada beberapa orang yang membantu (karyawan). Tapi untuk urusan memberi bumbu dan menggoreng, hanya saya dan istri yang bisa," sebut dia.
Stik dan keripik memang menjadi produk yang paling jamak dibuat oleh para pengolah keladi. Namun belakangan Poksil Bulan Purnama mulai memperluas produk olahannya. Salah satunya adalah membuat tepung keladi, yang bisa menggantikan tepung terigu. Bahkan tepung keladi memiliki lebih banyak manfaat untuk kesehatan.
Tepung keladi itu sendiri sudah dikemas menarik dan diberi merek Tepung Keladi Singkawang. Ketua Poksil Bulan Purnama Mariati mengatakan, tepung talas ini dihargai Rp50.000,- per kilogramnya. Memang jauh lebih tinggi dibanding dibandingkan tepung terigu. Tetapi tepung keladi ini lebih rendah kalori dan gula sehingga bagus untuk kesehatan. Seratnya juga tinggi. Sangat cocok untuk orang tua, pengidap diabetes maupun untuk diet," kata dia.
Pengganti Tembakau
Rudyzar Zaidar Mochtar meremas daun keladi di tangannya. Remasan itu lalu dimasukan ke mesin pencacah berbentuk kotak sebesar meja kompor. Tak lama kemudian, daun itu sudah tercacah menjadi rajangan seukuran batang korek api. Deru mesin membuat eksportir ini sedikit menaikkan volume suara. "Rajangan daun talas ini lah yang diekspor. Saya hanya mengirim rajangan daun keladi saja," katanya kepada Pontianak Post di pabriknya, Jalan Pal V, Sungai Jawi, Pontianak.
Bulan lalu, untuk pertama kalinya, dia mengekspor cacahan daun talas ini ke Eropa. Totalnya ada 10 ton. Di negara tujuan, cacahan ini dijadikan pengganti tembakau untuk bahan baku rokok. Menurut dia, pajak tembakau di Eropa dan sejumlah negara lain sekarang tinggi sekali. "Jadi perusahaan di sana mencari alternatif tembakau. Salah satunya adalah daun keladi," katanya.
Menurut dia, daun keladi yang telah dicacah kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Warna dan tekstur rajangan keladi kering ini kemudian akan mirip dengan rajangan tembakau. "Di negara penerima, tembakau keladi ini juga akan diberikan perasa. Macam-macam rasanya, seperti kopi, pisang, vanila dan lain-lain. Mirip seperti rokok elektrik vape yang ada banyak rasa dan bau," jelas orang yang juga Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Kalbar ini.
Di pabrik itu sendiri perangkatnya lengkap. Mulai dari mesin penggiling, pencacah, hingga rumah pengering. Rudyzar sendiri mendatangkan 20.000 bibit keladi jenis Beneng dari Jawa pada Agustus tahun lalu. Talas ini dipilih lantaran daunnya yang lebih lebar dibanding jenis lain. Kendati umbinya relatif kecil. Bibit ini kemudian dibagikan kepada sejumlah petani untuk ditanam. "Saya menggunakan sistem bagi hasil," ujar dia.
Menurutnya komoditas ini berpotensi untuk dikembangkan. Selain tidak membutuhkan perawatan berlebih, keladi juga tergolong tanaman yang cepat panen. Setiap tiga bulan daunnya sudah bisa dipanen. Satu kilogram daun basah bisa menghasilkan satu sampai dua ons daun kering untuk tujuan ekspor. Selain itu daun, pelepah atau batangnya juga bisa dijadikan olahan makanan. Begitu juga umbinya yang mengandung nutrisi. Jadi tidak ada bagian dari tanaman ini yang tidak bisa menjadi nilai ekonomis. "Hal itu yang bikin saya tertarik untuk mengembangkannya di Kalbar,” kata dia.
Camilan Tamu Agung G20
Event G20 di Bali tahun 2022 membawa berkah buat Indonesia. Tidak terkecuali UMKM di Singkawang, Kalimantan Barat. Stik keladi dari provinsi ini terplih menjadi salah satu camilan resmi yang dihidangkan untuk para tetamu dalam ajang akbar 20 negara terbesar dunia tersebut.
Staf Ahli Wali Kota Singkawang Bidang Kemasyarakatan dan SDM Bujang Syukri menyebut hadirnya stik keladi Singkawang dalam event tersebut lantaran bantuan promosi dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Menurutnya ini menjadi suatu bentuk dukungan dalam mendukung para pelaku UMKM dan petani keladi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada KPw BI Kalbar dan berbagai pihak lainnya yang telah membantu dan mengawal perjalanan keripik Singkawang menjadi salah satu suguhan pertemuan G20 di Bali,” ujarnya kala itu. Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Barat Heronimus Hero menambahkan, keladi di Kalbar. Oleh karena itu, ia meminta seluruh pelaku UMKM untuk lebih melek perkembangan teknologi guna memasarkan produk-produk olahan pangan.
“Singkawang kini telah menyapa dunia melalui pangan lokalnya yaitu Keladi atau Talas. Melalui kegiatan talkshow ini, kita berupaya untuk tidak hanya mempromosikan produk olahannya saja. Kita juga semakin mengetahui ragam-ragam manfaat dari pangan lokal tersebut bagi kesehatan,” ujarnya. (Aristono)
Editor : izak-Indra Zakaria