Penggemar miniatur mobil atau diecast di Banjarmasin membentuk sejumlah komunitas. Salah satunya Wasaka Diecast Community Indonesia.
-- Oleh: ENDANG, Banjarmasin --
KOMUNITAS ini terbentuk dua tahun silam. Anggotanya sebenarnya ratusan. Tapi yang aktif sekitar 50 orang saja. Dari muda sampai tua.
Mereka biasanya nongkrong di Depot Mie Sky atau di rumah Tons Diorama, keduanya berada di Jalan Veteran.
Penulis bertemu komunitas ini kemarin. Kebetulan lima anggotanya sedang ngumpul di depot. Mereka adalah Abrar Damisi, Riza, Rio Novianos, Bernadus Alfonso dan Hartono.
Mereka memamerkan koleksi diecast-nya masing-masing. Awal ketertarikan, kebanyakan gara-gara diracuni kawan.
Koleksi mereka dari skala 1:82, 1:64, 1:43, 1:24, dan 1:18. Bahkan ada yang sangat kecil, atau malah besar sekali.
“Sebenarnya banyak, tapi tidak semua bisa hadir, karena kesibukan kerja. Tapi kami coba rutin kumpul minimal sebulan sekali,” kata Abrar Damisi yang tak lain Ketua WDCI.
Sejarah singkat diecast, mulai diproduksi pada awal abad ke-20 oleh produsen Meccano (Dinky Toys) di Inggris, Dowst Brothers (TootsieToys) di Amerika Serikat dan Fonderie de presisi de Nanterre (Solido) di Prancis.
Mulanya diecast diciptakan dengan bahan dasar cetakan kaleng dengan pewarnaan manual. Tapi kemudian berkembang menjadi cetakan besi. Kian mutakhir setelah diwarnai dengan decal.
Kemudian, Matchbox mulai diproduksi pada 1947. Pada masanya, Matchbox dijual dalam satu paket serial. Antara 1 hingga 75 jenis dalam satu kemasan.
Tahun 1950-an, muncul berbagai merek yang ikut bermain. Hingga tahun 1968, diecast Hot Wheels mulai diperkenalkan jenama Mattel. Inilah yang familiar di Banua.
Abrar memiliki koleksi sekitar 50 unit diecast. Diakuinya, banyak yang bingung. Bertanya-tanya, kenapa sih mau mengoleksi mainan murahan milik anak-anak murahan.
Padahal, diecast bisa menjadi investasi. Di beberapa negara, diecast dilelang, nominalnya bisa fantastis.
Di Indonesia, diecast sudah memiliki pasar tersendiri. Para kolektor biasanya sudah paham. Penilaiannya dari keunikan, kelangkaan, maupun kualitas detail. Utamanya dari tahun pembuatan.
“Salah satu anggota WDCI beberapa bulan lalu mampu menjual satu unit diecast tembus sampai Rp20 juta. Diecast seri Chevy Bel Air Gasser. Kebetulan seri ini paling dicari,” ujarnya seraya menunjuk temannya Riza.
Harga di pasaran, satu unit diecast Rp30 ribu. Tapi jika ada yang berminat, bisa sampai Rp70 ribu. “Kalau dua kali lipat sudah sering. Ada juga anggota WDCI yang mampu menjual sampai Rp 450 ribu,” katanya.
Peminat diecast di Banjarmasin semakin berkembang seiring zaman. Dahulu diecast digunakan sebagai mainan anak kecil. Tapi seiring waktu merambah semua usia.
“Belinya diam-diam. Kalau sudah seminggu baru dikeluarkan, takut ketahuan istri susah. Karena kalau beli satu rasanya gimana gitu. Jadi mesti semua serinya dibeli,” ucap Rio seraya tersenyum.
“Awal-awalnya istri marah, sekarang enggak lagi, setelah tahu keuntungan hasil penjualan. Karena semuanya saya kasihkan sama ibu negara,” timpal Riza seraya tertawa. "Sekarang malah sering ditanya oleh istri, kenapa enggak hunting diecast,” tambahnya.
Terkadang, demi satu diecast, harus berangkat ke Jakarta. Bahkan berburu ke luar negeri. Tapi itu dulu. Sekarang, tinggal menjelajah lapak-lapak online.
Dan bisa mempertemukan orang-orang dengan hobi yang sama. Lalu kopi darat sembari berbagi pengetahuan diecast.
Anggota komunitas WDCI terbilang lengkap. Ada spesialis hunting diecast online, membuat diorama (miniatur tiga dimensi garasi mobil), custom, dan diecast fotografi. (fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin