Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Lokalisasi Pembatuan Bermula dari Pekerja Proyek Jablay

izak-Indra Zakaria • Rabu, 26 Oktober 2022 - 11:07 WIB
RAZIA PEKAT: Satpol PP Banjarbaru merazia PSK di Pembatuan, akhir 2017 silam. FOTO:SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN
RAZIA PEKAT: Satpol PP Banjarbaru merazia PSK di Pembatuan, akhir 2017 silam. FOTO:SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN

 Tinggal nama sejuta cerita. Warga Kalimantan Selatan, apalagi Banjarbaru, sudah pasti mengetahui Pembatuan. Minimal pernah mendengar namanya.

Pada masa jayanya, lokalisasi ini begitu kondang. Sekarang, eks lokalisasi di Jalan Kenanga Kelurahan Landasan Ulin Timur Kecamatan Landasan Ulin itu sudah ditutup.

Sebelum dikenal sebagai ibu kota provinsi yang baru, Banjarbaru juga sempat terkenal karena bisnis esek-eseknya. Bahkan, banyak yang menyebut Pembatuan merupakan lokalisasi terbesar di Banua.

Sejarah tak mencatat secara pasti, kapan lokalisasi ini berdiri. Ada yang menyebut Pembatuan mulai eksis awal tahun 2000-an. Bahkan, ada yang menyebut sejak tahun 90-an.

Lantas, mengapa diberi nama Pembatuan? Menurut sumber Radar Banjarmasin ini, dia malu menyebutkan namanya, Pembatuan memang berkaitan dengan batu.

Dikisahkan, sebelum menjadi lokalisasi, di situ merupakan area penumpukan batu split untuk proyek pembangunan Bandara Syamsudin Noor. “Masyarakat sekitar kemudian menyebut lokasi ini dengan nama Pembatuan,” ceritanya. 

Seingatnya, pada awalnya hanya ada tujuh sampai delapan rumah bordil yang beroperasi. Dan hanya ada dua mami alias mucikari yang membina.

“Kedua mami inilah merekrut PSK dari luar untuk bekerja di Pembatuan. Nah, dulu itu mayoritas pelanggannya adalah pekerja bangunan proyek bandara,” ujarnya.

Para pekerja proyek itu ujarnya sedang haus belaian. Maklum, kebanyakan banyak orang lokal. Mereka sedang berada jauh dari rumah dan istrinya.

“Entah bagaimana kisahnya, kedua mami ini mengambil momen itu. Menawarkan jasa PSK (pekerja seks komersial). Rupanya berhasil dan semakin banyak saja pelanggan yang datang,” bebernya.

Seiring waktu, nama Pembatuan kian tersohor. Sontak, pria hidung belang dari luar Banjarbaru turut bertandang.

Tak hanya masuk ke telinga hidung belang, Pembatuan juga terdengar para kupu-kupu malam. Terlebih, saat Pembatuan sedang naik daun, lokalisasi di Banjarmasin justru ditutup pemerintah.

“Ya, bisa dibilang mulanya PSK dari Banjarmasin yang pindah kemari. Tetapi memang kebanyakan rata-rata berasal dari Pulau Jawa,” katanya.

Kala sedang ramai-ramainya, Pembatuan belum “dilirik” pemerintah. Dianggap lokalisasi musiman saja.

“Tapi asumsi pemerintah keliru. Ternyata makin banyak PSK yang datang. Bahkan rumah bordilnya sudah meluas. Di setiap gang ada. Kalau ditotal mungkin 80-an rumah, PSK-nya bisa dua ratusan,” bebernya.

Akhirnya, keresahan masyarakat dan pemerintah memuncak. Muncul wacana untuk menutup tempat maksiat ini. Hingga akhirnya pada 2016, Pemko Banjarbaru resmi menutup Pembatuan.

Pemko memulangkan PSK ke daerah asalnya. Saat itu, setiap PSK diberi “pesangon” Rp5 juta. Untuk mencegah mereka kembali, Satpol PP disiagakan.

Pada waktu bersamaan, pemko juga menutup dua lokalisasi lain. Yakni lokalisasi Batu Besi dan Pal 18. Sejak saat itu, Banjarbaru “bersih” dari aktivitas pelacuran.

Namun, semua sama-sama tahu, sampai sekarang bisnis lendir itu masih ada di Pembatuan. Tentu tidak terang-terangan seperti dulu. (rvn/gr/fud)

 
 
 
Editor : izak-Indra Zakaria