Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Cerita Mereka yang “Dibuang” ke Paminggir, Hal yang Takuti Para PNS

izak-Indra Zakaria • Selasa, 8 November 2022 - 11:23 WIB
PENGABDIAN: Camat Rully Lesmana (kiri) saat naik speedboat menuju Paminggir.
PENGABDIAN: Camat Rully Lesmana (kiri) saat naik speedboat menuju Paminggir.

Di kalangan aparatur sipil negara (ASN), penempatan ke daerah 3T merupakan hal yang paling ditakuti. 3T adalah singkatan dari terdepan, terluar dan terpencil.

MUHAMMAD AKBAR, Amuntai

NAH, di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), cap 3T itu menempel lekat pada Kecamatan Paminggir. Sebuah padang rawa raksasa seluas 196 kilometer persegi. Dua kali lipat dari luas Kota Banjarmasin. Berada di tepi Sungai Barito, Paminggir hanya bisa dijangkau dengan perahu motor. 

PNS yang ditempatkan di sini, bisa salah paham. Merasa dibuang, merasa dihukum. Rully Lesmana sudah enam bulan bertugas di sana sebagai camat. Sejauh ini, di Paminggir ia tak menemukan hal-hal yang kerap ditakuti PNS.

Dia justru menikmatinya. Menurutnya, Paminggir punya potensi wisata alam yang luar biasa. Anda mungkin ingat. Pada zamannya, Paminggir tersohor dengan lomba balap kerbau rawanya. “Di mana ditempatkan, di situ harus bertugas. Namanya juga amanat. Syukur-syukur kalau bisa meninggalkan manfaat,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Jumat (4/11). 

Rully mengisi waktunya dengan banyak berkeliling, menemui dan mengobrol dengan warganya. Beberapa kali ia rekam. Dibikin konten, diunggah ke kanal YouTube miliknya. 

Akunnya diberi nama Akang Uliel. Video-videonya berkisah tentang kehidupan PNS di daerah terpencil.

Bukan sekadar untuk mengisi kesibukan, Rully pengin penonton dari luar HSU jadi mengenal Paminggir. Syukur kalau mereka tertarik melancong kemari.

“Apa itu Paminggir? Di mana itu Paminggir? Televisi nasional, bahkan orang dari Korea Selatan saja pernah ke sini untuk mengeksplorasi keindahan alam Paminggir,” bebernya.

Tentu tugas utama seorang camat bukan lah membuat konten. Rully harus membangun kecamatannya.

Kepada para pegawainya, dia kerap menekankan satu hal: Paminggir harus mampu bersaing dengan kecamatan lainnya di HSU.

Tidak harus melampaui, setidaknya bisa mendekati. “Pembangunan harus lebih terlihat. Agar jauh dari kisah dan kesan daerah buangan. Maka stigma tersebut harus hilang,” tegasnya.

Rully tentu bukan PNS pertama dan terakhir yang akan ditempatkan di Paminggir. Sebelumnya ada Ahadi Ilhami. Dia mantan kepsek SMP negeri di Paminggir. Bagaimana ia menghadapi pemindahan tersebut? Pertama, dikatakannya ASN harus meluruskan niat. Mesti ikhlas. Mengingat sumpahnya kembali, bahwa mereka bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh republik ini. 

Kedua, mengubah pola pikir. Ditempatkan di daerah 3T justru merupakan ajang pembuktian. Bahwa dirinya masih bisa berprestasi di tengah keterbatasan.

Ahadi berhasil mendongkrak akreditasi SMPN 2 Danau Panggang. Puluhan tahun mendapat nilai C, akhirnya akreditasi sekolah itu naik menjadi A.

Lalu menerima anugerah Ki Hajar Dewantara Award pada 2013. Sebagai hadiah, Ahadi diberangkatkan umrah oleh Pemkab HSU.

“Tidak ada kesan terbuang selama bertugas di Paminggir… Jika kita happy dan bersyukur, tentu akan lebih baik,” kata Ahadi yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan HSU.

Dan jangan coba-coba mengatakan Paminggir sebagai daerah tertinggal di depan masyarakatnya. Warga asli Paminggir, Midi menegaskan, daerahnya cuma terkendala jalur darat.

“Sinyal 4G sampai, pasar ada, fasilitas kesehatan juga tersedia, transportasi sungainya lancar. Jadi tak ada alasan untuk menyebut Paminggir sebagai daerah terpencil,” tegasnya.

Dia berharap, pemerintah akan membangun jalur darat untuk mencapai Paminggir. Bukan dari arah HSU, tapi dari arah Kabupaten Barito Kuala yang lebih dekat secara geografis. (gr/fud)

 
Editor : izak-Indra Zakaria