Dentuman musik koplo itu menggiring kami ke kawasan lawas di Sentra Antasari. Di lantai II bagian belakang gedung pasar itu, kami melihat sisi lain Banjarmasin sebagai kota perdagangan dan jasa.
****
Menjelang akhir Januari 2023 tadi, Kepala Satpol PP Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin menegaskan, pihaknya tak akan menoleransi kegiatan yang mengarah pada prostitusi. Itu dijanjikannya dengan mengatakan, bahwa hingga beberapa bulan ke depan, pihaknya bakal menggiatkan operasi penyakit masyarakat (pekat).
Setidaknya, itu yang diungkapkannya seusai menyisir kawasan di tiga pasar di Banjarmasin, pada Sabtu (28/1) dini hari. Yakni Pasar Sudimampir, Harum Manis dan Pasar Ujung Murung. Dari tiga pasar tetsebut, personel Satpol PP setidaknya menertibkan sejumlah orang yang diduga sebagai wanita tuna susila (WTS), pada Sabtu (28/1) dini hari.
Lalu, bagaimana dengan penertiban di kawasan pasar lain yang diduga marak dengan aktivitas WTS? Misalnya los Pasar Kasbah di kawasan Sentra Antasari. Menjawab hal itu, Muzaiyin bilang bahwa ke depan, pihaknya akan mencoba melakukan penyisiran ke kawasan tersebut.
“Penertiban ini bertahap. Rutin. Dilakukan Secara periodik. Sementara ini, kami evaluasi dahulu. Kawasan mana saja yang bakal disasar,” ujarnya. “Titik kawasan yang kami sasar itu berdasarkan berdasarkan hasil laporan atau aduan masyarakat. Ada pula penyelidikan atau temuan di lapangan,” tekannya. Selasa (31/1) siang, penulis mengunjungi los Pasar Kasbah di kawasan yang dimaksud. Dugaan maraknya WTS di situ bukan lagi sebuah rahasia. Tampak terang-terangan.
Lokasi persis ada di lantai II di belakang di kawasan gedung Sentra Antasari. Mengunjungi kawasan itu, Anda bakal menemukan banyak toko atau kios yang menjual pakaian baru, juga pakaian dan barang bekas lainnya.Lalu, Anda juga akan menemukan warung-warung yang menjual makanan dan minuman. Setelah itu, Anda bakal mendengar dentuman musik koplo.
Berjarak beberapa langkah Anda juga bakal menyaksikan ada banyak kios yang tutup. Mayoritas kios tampak tidak terpakai lagi. Berdasarkan pendataan yang dilakukan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Banjarmasin, pada September tahun 2020 lalu. Di kawasan Sentra Antasari, setidaknya ada 3.530 toko, kios atau los. Dari data itu, tidak semua terisi. Ada banyak toko, kios atau los yang kosong atau non aktif. Rinciannya pedagang yang aktif berjumlah 1.920. Sedangkan pedagang yang non aktif berjumlah 1.610.
Jumlah itu, tentu belum termasuk dengan pedagang kaki lima (PKL). Dari hasil pantauan penulis, lorong-lorong kios pasar yang tutup di lantai II itu tampak kotor. Ada banyak sampah, juga pakaian bekas yang berserakan. Menguarkan bau yang tidak mengenakkan.
Di sana-sini, juga minim pencahayaan. Namun, bukan berarti tak ada kehidupan. Makin masuk ke dalam lorong, makin ramai. Di tengah deru dentuman musik koplo, sejumlah laki-laki dan perempuan asyik berdiri dan bernyanyi bersama. Ada yang bergandengan tangan, ada yang berangkulan.
Tak jauh dari situ, Anda juga bakal melihat sejumlah kios yang berubah fungsi. Yang bagian dalamnya disulap laiknya tempat tidur. Ada kasur, bantal.
Beberapa kios juga tampak menyediakan fasilitas lain berupa kipas angin. Uniknya, sebagian pintu kios itu hanya mengandalkan tirai. Warnanya beragam. Ada tirai berkelir biru, juga pink dengan warnanya yang tampak puudar.
Di depan kios itu, duduk sejumlah perempuan. Di situlah lokasi yang diduga menjadi wadah serta geliat aktifitas WTS itu berlangsung. Buktinya, ketika penulis melintas di lorong-lorong kios itu, panggilan manja hingga ajakan ‘ngamar’, kerap terdengar.
“Ngamar kah? Masing-masing satu orang, pas,” ujar salah seorang perempuan berkaos putih. Saat itu, dia tampak berdiri dengan seorang perempuan lain di depan sebuah kios. Ditaksir, usianya 30-an tahun. Tidak hanya sampai di situ, seorang rekan penulis bahkan sempat diiringi oleh salah seorang perempuan berkaos pink, bercelana jins panjang selutut. Ditaksir, usianya sekitar 35 tahun. Perempuan berambut panjang hampir sepinggang, itu tak segan menawarkan jasanya. Terang-terangan, di antara deretan kios demi kios yang penulis lewati.
Syukurlah, ketika rekan penulis menolak ajakannya, perempuan itu berhenti mengikuti. Perempuan itu juga tampak membalikkan badannya. Menjauh.
Mengakses kawasan yang dikunjungi penulis kemarin (31/1) itu cukup mudah. Hanya berjarak 2,3 kilometer dari Balai Kota Banjarmasin. Jarak yang sebenarnya cukup dekat.
Namun demikian, kesan tak nyaman tentu ada. Persisnya, ketika penulis memasuki lorong, melintasi kios demi kios di kawasan tersebut. Ada saja, lelaki atau perempuan yang menatap curiga.
Di sisi lain, adanya dugaan praktik yang mengarah pada prostitusi itu di kawasan tersebut, sebenarnya bukan lagi rahasia umum.
Bahkan, sudah diketahui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar I Sentra Antasari, Aziz. Namun ia menegaskan, pihaknya tak pernah mengizinkan adanya aktifitas itu.
Diungkapkannya, di kawasan pasar tersebut mulanya hanya ada tempat karaoke. Kemudian disusul dengan adanya tempat pijat.
“Sejak tahun 2012 saya jadi bagian UPT Pasar, aktifitas itu sudah ada,” ungkapnya, (31/1). “Menurut informasi, tempat pijat itu yang diubah menjadi tempat yang tidak senonoh,” lanjutnya.
“Dari data yang ada, kini di situ ada 10 kios yang dijadikan tempat karaoke. Lalu, ada 39 tempat pijat,” tambahnya. Disinggung apa yang menjadi penyebab, Aziz menduga, itu terjadi lantaran banyak kios yang dibiarkan kosong.
Pihaknya bukan tak pernah melakukan penertiban. Ia bilang, pihaknya pernah menggelar razia bersama jajaran satpol pp. “Hasilnya, hampir tiap hari kantor kami didatangi. Kami jelaskan bahwa yang mereka langgar adalah persoalan izin penempatan,” tekannya.
“Mereka memaklumi, Tapi itu hanya bertahan sebulan. Sesudah itu mereka kembali lagi,” bebernya. Aziz mengaku tidak bisa berbuat banyak. Ia bilang, lantaran pasar itu saat ini masih dikelola oleh pihak ketiga. “Berdasarkan informasi, tahun 2023 ini pengelolaannya berakhir. Kita tunggu saja bagaimana hasilnya nanti,” tutupnya. (war)
Editor : izak-Indra Zakaria