Dugaan tercemarnya Sungai Barito di perairan Kabupaten Barito Kuala (Batola) karena aktivitas pengangkutan batu bara disikapi serius DPRD Kalsel.
Tak ingin berdampak buruk terhadap masyarakat, khususnya warga sekitar, Komisi III DPRD Kalsel mendatangi Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (Ditjen PPKL) di Jakarta, Senin (9/10).
Komisi III DPRD Kalsel menyampaikan alur Sungai Barito permukaannya semakin tinggi. Lantaran banyaknya limbah dari beberapa perusahaan batu bara yang terbuang dari kapal tongkang bertahun-tahun.
Bahkan dampaknya membuat beberapa sungai kecil terkena imbas yakni berkurangnya kualitas air bersih. “Kami ingin ada tindakan kepada perusahaan-perusahaan yang mungkin dianggap nakal atau tidak memenuhi aturan,” kata Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalsel, Rosehan NB.
Ia khawatir jika tak ada tindakan yang nyata, akan membawa dampak tak baik bagi pengguna air sungai. “Khususnya lagi untuk kesehatan masyarakat pengguna air sungai,” tekannya.
Anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat, Gusti Abidinsyah menekankan bagi perusahaan yang dianggap memiliki rapor merah harus di-follow up dengan tegas. Untuk diketahui, dari 33 perusahaan pertambangan di Kalsel, hanya ada 7 yang berwarna biru.
Ada 26 perusahaan yang memiliki rapor merah. “Ke depannya kami akan lebih tegas mengawasi, dan segera kami jadwalkan untuk melihat perusahaan itu,” janjinya.
Kasubdit Perencanaan Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air Ditjen PPKL, Witono mengatakan sinergi antar stakeholder berpengaruh terhadap perizinan dan pengelolaan hingga menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS).
Menurutnya, ada peran KLHK, ada peran ESDM, dan juga peran Kementerian PUPR dalam pengelolaan DAS. “Pihak perusahaan pun harus dilibatkan. Ini menjadi perhatian serius kami juga,” kata Witono.
Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, Kepala DLH Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana memaparkan dari hasil analisis air yang dilaksanakan pada Mei 2023 lalu, status mutu air Sungai Barito sebagian besar dalam kategori cemar ringan.
Namun, di lokasi lain mengalami cemar sedang. Itu ditemukan di dua titik lokasi di Desa Tabukan, Kecamatan Tabukan, dan Desa Jambu, Kecamatan Kuripan. Berdasarkan parameter TSS (total suspended solid) yang mengendap di dasar sungai, ditemukan melebihi baku mutu di Desa Tabunganen Muara, Kecamatan Tabung Anen sebagai titik hilir bertemu laut.
Hanifah juga membeberkan parameter COD (chemical oxygen demand) juga terpantau melebihi baku mutu. Contohnya, di kawasan Jembatan Rumpiang, dan di Kecamatan Barambai, Kecamatan Kuripan, Kecamatan Tabukan.
“Di kawasan jembatan Rumpiang yang dekat dengan perusahaan PT Talenta juga menjadi titik ditemukannya COD melebihi baku mutu, hingga tingkat oksigen jadi kecil,” sebutnya.
Selain itu, dari hasil pemeriksaan juga ditemukan fakta meningkatnya kotoran manusia dan hewan mencapai 160 kali lipat hingga melebihi baku mutu. “Faktornya disebabkan masih banyak permukiman dan kegiatan MCK di sungai,” paparnya.
Anggota Komisi III DPRD Kalsel, Fahrin Nizar mengatakan pihaknya juga mendapat laporan masyarakat bahwa telah terjadi peningkatan debu batu bara baik di darat maupun di atas permukaan air khususnya kawasan yang berdekatan dengan stockpile PT Talenta Bumi di sekitar Sungai Barito.
Namun, HSE Manager dan Act CSR Manager PT Talenta Bumi, Denny Setiawan ketika dikonfirmasi menegaskan jika perusahaan batu bara di Sungai Barito bukan hanya dari PT Talenta saja. Kebetulan saja posisinya terdekat, sehingga menjadi arah tudingan. “Batu bara yang datang dari hulu banyak. Tidak hanya kami,” klaimnya.
Denny mengakui jika keluhan debu batu bara sudah lama mereka ketahui. Bahkan, sudah diselesaikan dengan masyarakat. “Kami sudah koordinasi dengan masyarakat, dan beberapa kali pertemuan, dan ada evaluasi dari DLH kabupaten dan provinsi, bahkan Pj Bupati, hingga DPRD provinsi datang,” bebernya.
Menurut Denny, pastinya segala sesuatunya sudah dipenuhi semua. Seperti baku mutu. “Memang ini kebetulan musim kemarau, sehingga momen cuaca ini mudah debu berhamburan,” katanya. “Sekitar enam kali sudah melakukan pertemuan, dan sampai sekarang kami enggak ada masalah. Stockpile beroperasi normal,” ujarnya.
“Dari sisi operasional, kami juga membuat penghalang di air menggunakan bambu. Proses loading juga dilakukan penyiraman secara manual, bahkan menggunakan mesin otomatis. Batu bara dibasahkan,” terangnya.(mof/gr/dye)
Editor : izak-Indra Zakaria