Dinas PUPR Kota Banjarbaru mengakui progres pembangunan Embung Gunung Kupang bakal molor dari waktu yang sudah ditargetkan. Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Banjarbaru, Subrianto mengungkapkan kondisi itu terjadi akibat terkendala cuaca.
“Akibat hujan, tanah galian basah, permukaan air tinggi, angkutan tanah terkendala karena akses jalan becek,” ungkap Subri saat dikonfirmasi awak media, Senin (4/12) siang..
Subri mengakui akibat hal tersebut pihaknya baru bisa menyelesaikan progres Embung Gunung Kupang sekitar 72,8 persen. Padahal, masa kontrak pihak penyelenggara proyek Embung Gunung Kupang dengan Dinas PUPR Kota Banjarbaru hanya sampai 7 Desember 2023. “Untuk target memang tetap sesuai kontrak. Namun karena saat ini sudah memasuki musim penghujan, maka penyelesaiannya diprediksi akan bergeser,” ujarnya.
Selain faktor cuaca, keterlambatan progres pembangunan ini, diakuinya juga disebabkan oleh faktor lain. Salah satunya adalah lokasi penempatan tanah bekas galian. Diakui Subri, tanah hasil galian hanya diletakkan di bantaran atau tanggul embung. “Selain itu, juga ada di sekitar lokasi embung. Namun, tetap di tanah pemko. Di area tanah masyarakat juga ada,” tambahnya.
Kemudian, keterlambatan juga terjadi akibat adanya protes warga yang merasa terganggu dengan banyaknya debu dan suara akibat kegiatan angkutan pada saat pengerjaan dilemburkan. “Sekarang kegiatan struktur outlet sudah dilakukan lembur, tapi untuk pekerjaan galian dan buangan tanah masih belum diizinkan warga sekitar,” ungkap Subri.
Padahal kata Subri, pihaknya sudah membuat surat izin untuk dapat diperbolehkan bekerja di malam hari. “Inilah masalah sosial yang sedang dihadapi pelaksana saat ini,” tuturnya.
Walaupun terlambat, Subri mengaku tetap optimis bisa menyelesaikan pembangunan Embung Gunung Kupang ini sebelum tahun 2024. “Saat ini masih ada waktu penyelesaian sampai akhir tahun, secara action plan masih dimungkinkan untuk mengejar target,” klaimnya.
Hal senada juga diungkapkan pihak Konsultan Supervisi PT Wahana Prakarsa Utama, Tian. Menurutnya, saat ini pihak terus mengejar target agar penyelesaian Embung Gunung Kupang bisa sesuai dengan target. “Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memaksimalkan penggunaan lima unit mesin pompa yang ada. Dan sekarang tidak ada peninggian muka air. Saat ini kami masih mengerjakan bagian outlet dan galian tanah mekanis,” pungkas Tian. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria