Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ekspedisi Gunung Hauk Bersama Walhi Kalsel (Bagian 6), Salah Berpijak Bahaya Terpeleset

Wahyu Ramadhan • Jumat, 5 April 2024 | 17:00 WIB
HATI-HATI: Rombongan ekspedisi ketika menyusuri salah satu rute menuju puncak Gunung Hauk. (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)
HATI-HATI: Rombongan ekspedisi ketika menyusuri salah satu rute menuju puncak Gunung Hauk. (FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN)

 

Jangan melamun, fokuslah ketika mendaki bersama. Kuatkan pijakan atau pegangan. Ketika lelah, jangan gengsi meminta jeda istirahat.

    ****
SEHABIS makan malam dan kekenyangan pada Minggu (24/4) malam, saya jadi mager. Memilih duduk di atas sebatang pohon, menyesap secangkir kopi ditemani sebatang kretek. Dari tenda dapur, terdengar Hasan memanggil. Mengajak bermain domino.

Saya pun mencari-cari alasan. "Mental belum siap, bang. Besok saja. Pasti ulun kalahkan pian (Anda, red)," ujarku. "Ah... kadada (tak ada) pian, jadi kurang semangat nih mainnya," sahutnya. Hasan lantas mengajak yang lain untuk bermain.

Ketika kopi tandas, saya masuk ke dalam tenda. Saya sempat melihat kawan-kawan asyik bermain domino. Terkecuali Hasan. Porter senior itu memilih berebah di samping lapak permainan.

Saya pengin tidur lebih awal. Supaya pas bangun nanti badan segar, dan lebih siap melanjutkan perjalanan. Apalagi kami sudah berada di Munjal atau Makacang. Tinggal 600 meter lagi dari puncak Gunung Hauk

Jaraknya mungkin pendek, tapi bakal melelahkan. Karena yang tersisa hanya tanjakan dan tanjakan. "Tapi, pemandangannya mantap. Kita bisa melihat banyak pohon besar dan bebatuan berlumut," tutur Rabadi, porter kami. Cerita itu menambah semangat saya untuk memotret. Namun, malam itu sulit sekali terlelap. Sampai pukul 24.00 Wita, mata masih nyalang. Sesuatu jatuh menimpa tenda. Seperti dilempari batu. 

Saya duduk menyalakan senter. Menyorot dinding tenda. Syukurlah, tidak ada yang rusak. Sebab kerusakan sekecil apapun pada tenda bisa berakibat runyam. Nyamuk atau air hujan bisa menyelinap masuk. Sebelum melanjutkan tidur, sayup-sayup terdengar suara di luar tenda. Porter senior kami, Hasan tengah berbincang dengan salah seorang anggota ekspedisi.

Saya mengenali suara lawan bicara Hasan. Ia, Pius Renaldi Indra Gampung. Anggota ekspedisi yang bertugas di tim pendataan flora dan fauna.  "Pian, ulun lihat kalau berjalan tidak nahap (mantap, red). Besok saat menuju puncak harus berhati-hati," ucap Hasan.

"Waduh, ada apa ini paman? Kok, saya jadi takut," sahut Pius.

"Tidak apa-apa. Ulun hanya berpesan hati-hati. Intinya, pijakan atau pegangan Pian harus nahap. Nanti ulun dampingi," balas Hasan.

Setelah itu, perbincangan berakhir. Memang, sudah sepatutnya kami fokus saat mendaki. Ketika menaiki atau menuruni tanjakan, ada saja yang terpeleset.

Saya sendiri terpeleset saat hendak memotret sebuah pohon meranti besar. Berjalan sambil melamun. Di turunan, saya ragu-ragu dan keliru menentukan pijakan kaki. Akibatnya, tak hanya kaki yang pegal, bokong juga nyut-nyutan. Jantung berdegup kencang karena kaget.

Selama perjalanan, tak jarang Hasan menawari kami mengambil waktu untuk rehat. Ia selalu berpesan, bila sudah lelah, jangan memaksakan diri. Istirahatlah sejenak. Jangan gengsi. Karena akibatnya bisa fatal. "Kalau satu orang jatuh sakit atau kenapa-kenapa, yang repot pasti seluruh rombongan," tegasnya.

Malam kian larut, saya pun melanjutkan tidur seperti kedua rekan yang terlelap. Di sebelah, Fauzi Fadillah dan Haikal tampak pulas. Mendengkur nyaring.(bersambung)

 
 
 
 
 
 
Editor : Indra Zakaria