Jaraknya mungkin pendek, tapi bakal melelahkan. Karena yang tersisa hanya tanjakan dan tanjakan. "Tapi, pemandangannya mantap. Kita bisa melihat banyak pohon besar dan bebatuan berlumut," tutur Rabadi, porter kami. Cerita itu menambah semangat saya untuk memotret. Namun, malam itu sulit sekali terlelap. Sampai pukul 24.00 Wita, mata masih nyalang. Sesuatu jatuh menimpa tenda. Seperti dilempari batu.
Saya duduk menyalakan senter. Menyorot dinding tenda. Syukurlah, tidak ada yang rusak. Sebab kerusakan sekecil apapun pada tenda bisa berakibat runyam. Nyamuk atau air hujan bisa menyelinap masuk. Sebelum melanjutkan tidur, sayup-sayup terdengar suara di luar tenda. Porter senior kami, Hasan tengah berbincang dengan salah seorang anggota ekspedisi.
Saya mengenali suara lawan bicara Hasan. Ia, Pius Renaldi Indra Gampung. Anggota ekspedisi yang bertugas di tim pendataan flora dan fauna. "Pian, ulun lihat kalau berjalan tidak nahap (mantap, red). Besok saat menuju puncak harus berhati-hati," ucap Hasan.
"Waduh, ada apa ini paman? Kok, saya jadi takut," sahut Pius.
"Tidak apa-apa. Ulun hanya berpesan hati-hati. Intinya, pijakan atau pegangan Pian harus nahap. Nanti ulun dampingi," balas Hasan.
Setelah itu, perbincangan berakhir. Memang, sudah sepatutnya kami fokus saat mendaki. Ketika menaiki atau menuruni tanjakan, ada saja yang terpeleset.
Saya sendiri terpeleset saat hendak memotret sebuah pohon meranti besar. Berjalan sambil melamun. Di turunan, saya ragu-ragu dan keliru menentukan pijakan kaki. Akibatnya, tak hanya kaki yang pegal, bokong juga nyut-nyutan. Jantung berdegup kencang karena kaget.
Selama perjalanan, tak jarang Hasan menawari kami mengambil waktu untuk rehat. Ia selalu berpesan, bila sudah lelah, jangan memaksakan diri. Istirahatlah sejenak. Jangan gengsi. Karena akibatnya bisa fatal. "Kalau satu orang jatuh sakit atau kenapa-kenapa, yang repot pasti seluruh rombongan," tegasnya.
Malam kian larut, saya pun melanjutkan tidur seperti kedua rekan yang terlelap. Di sebelah, Fauzi Fadillah dan Haikal tampak pulas. Mendengkur nyaring.(bersambung)