"Berbeda sekali dengan Hulu Sungai Tengah (HST), merantinya tinggal sedikit," tambah anggota Walhi Kalsel itu. Kami juga sempat menemui jejak kaki kijang. "Ini jejak baru. Bekasnya masih dalam," kata Rabadi. "Sepertinya ia kabur ketika melihat kita datang," tambahnya, lantas melihat ke sekitar.
Sekitar 10.45 Wita, kami tiba di punggung gunung. Masyarakat adat Dayak Pitap menamai kawasan itu Canting Lamak Bayi.
Baca Juga: Ekspedisi Gunung Hauk Bersama Walhi Kalsel (Bagian 5), Kabar dari Alam Leluhur
Di sini, pepohonan dan bebatuannya masih ditutupi lumut. Kami putuskan untuk rehat. Saat berselonjor, darah mengucur dari punggung kaki kanan. Saya mengelapnya dengan tisu. Namun, darah terus saja keluar. Padahal tak ada bekas luka. Hanya ada bintik kecil berwarna merah. "Sudah pasti gara-gara pacet," kata Rabadi.
"Sudah. Tak usah dilap lagi. Biarkan saja mengering sendiri. Toh yang keluar darah kotor," sambungnya. Kaki Raden juga digigit pacet. Ukurannya sudah membesar. Hampir seukuran jari kelingking. Pacet itu masih menempel. Rupanya belum kenyang mengisap darah mangsanya. Raden mencopotnya, dan melemparnya jauh-jauh. Seolah tak terjadi apa-apa.
Dari Canting Lamak Bayi, tinggal puluhan meter lagi. Tapi, jarak bukan persoalan. Di hadapan kami ada jurang. Keliru berpijak, bisa fatal. Pukul 11.15 Wita, kami mendekati puncak. Di kawasan bernama Pahajatan, awan hitam tampak menggantung. Disebut Pahajatan, karena di sini tempat masyarakat adat meletakkan seserahan atau sesajen."Kalau sedang ada hajat atau keinginan, masyarakat kami biasa menghaturkan doa di sini," jelas Rabadi.
Saat itu, saya dan Rabadi lebih dulu sampai di Pahajatan. Rabadi menyalakan sebatang tembakau. Meletakkannya di sebuah tiang ulin setinggi pinggang.
Mulutnya komat-kamit. Terdengar seperti berdoa. Saya mencuri dengar, ia meminta semua anggota ekspedisi diberikan keselamatan.
"Dahulu, tiang ini berbentuk semacam wadah. Di sini juga diletakkan kain kuning," jelasnya. "Tapi, sudah hancur dimakan usia. Yang tersisa hanya satu tiang ulin ini," tambahnya. Tak lama, Dinas tiba di Pahajatan. Ia mendekati tiang itu. "Hancur ya," komentarnya singkat.
Dari Pahajatan, kami terus mendaki ke arah puncak. Lumut tebal melapisi bebatuan. Kaki seperti menginjak karpet empuk. Di sana sungguh indah. Saya melihat banyak kantong semar. Masyarakat adat menyebutnya cicibuk gunung.Dari sini, terlihat hutan lebat di bawah. Juga perbukitan yang mengelilinginya.
Apakah kami sudah sampai puncak? Belum. Langkah kami terhenti di depan sebuah dinding tebing batu setinggi empat meter. (bersambung)