Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pantang untuk Mengemis, Berjualan Kue dan Sayur Keliling

uki-Berau Post • Selasa, 29 Januari 2019 - 15:25 WIB

Usianya tak muda lagi, namun Mariatun (76) tak berpangku tangan berharap bantuan orang lain, dengan kondisi perekonomiannya yang sulit. Hidup sebatang kara di Bumi Batiwakkal, banting tulang berjualan.

DAYAT, Tanjung Redeb

SENIN (28/1) pagi, langit Tanjung Redeb masih kelabu, hujan masih membasahi bumi. Cuaca tak membuat Mariatun bermalas-malasan, sebelum berjualan sembari menunggu hujan reda, dia menyempatkan bersih-bersih di indekos berukuran sekitar 2x2,5 meter di Jalan Mangga II, Tanjung Redeb.

Wanita kelahiran Bojonegoro 1 Juli 1942 ini, ramah terhadap siapapun yang melintas di depan tempat tinggalnya. Mariatun nekat merantau ke Bumi Batiwakkal, namun dia sudah tak ingat tahun berapa.

“Mbah lupa tahun berapa ke sini (Berau, .Red), yang mbah ingat hanya kerja sebagai tukang masak di camp perusahaan kayu dengan gaji masih Rp 150 ribu per bulan,” ujarnya.

Ia yang ditinggalkan suami tercintanya beberapa puluh tahun silam, dan terpaksa merantau ke Berau, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ia mengaku bahwa tidak memiliki anak, sudah lupa sama alamat keluarga di Pulau Jawa, dan kini hanya hidup sebatang kara.

“Lupa sudah tahun berapa itu berhenti di perusahaan, terkadang kepingin seperti orang lain, punya anak dan menikmati masa tua bersama anak, namun mau bagaimana lagi,” tuturnya sembari meneteskan  air mata.

Kini, untuk membuat asap di dapur tetap mengepul, ia pun berjualan kue dan sayur mentah berkeliling jalan kaki, dari satu rumah menuju ke rumah lain, mulai pukul 10.00 hingga 14.00 Wita. Ia mengaku malu jika harus mengemis, karena merasa masih mampu untuk bekerja walaupun hanya berjualan.

“Cukuplah buat makan sama masak sayur, dapat Rp 30 Ribu sudah bersyukur sehari, diputar lagi modal untuk berjualan besok, intinya jangan pernah mengeluh sama keadaan,” lanjutnya.

Dengan menggunakan hijab warna biru tua, ia mengatakan, hanya mendapat bantuan dari Badan Amin Zakat Nasional (Baznas) berupa beras sebanyak 10 Kg, dan juga uang Rp 200 Ribu per bulan, itupun harus disisihkan untuk membayar sewa tempat tinggalnya Rp 300 per bulan.

“Pemilik rumah baik sama saya, kadang menolak jika saya ingin bayar sewa, dan mengatakan lebih baik digunakan untuk modal, tetapi jika saya banyak rezeki, saya memaksanya untuk menerima uang sewa tersebut,” tuturnya.

Menurutnya, usia senja bukanlah waktu untuk bermalas-malasan, dan ia berterima kasih kepada Tuhan, meskipun di usia tua, ia masih diberikan penglihatan dan pendengaran yang jelas, serta diberikan tenaga lebih.

“Kalau Tuhan tidak baik sama mbah, ya sudah pasti mbah hanya terbaring lemah di usia mbah yang sudah kepala 7 ini. Ya lumayan hasil jualan kan bisa buat isi pulsa listrik dan beli air buat masak dan mandi,” katanya sembari menyiapkan dagangan.

“Intinya selalu berdoa, dan berusaha, jangan putus asa sama keadaan, mengeluh hanya akan membuat semakin terpuruk,” tutupnya. (*/app)

Editor : uki-Berau Post
#feature