Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bisa Ditempuh Satu Jam, Akses Pariwisata Kian Terbuka

izak-Indra Zakaria • Rabu, 6 Februari 2019 | 12:04 WIB

Dari 1.188 km jalan yang dibangun Pemkab Kukar dalam kurun 2011 hingga 2015, ternyata 3,1 km menjadi salah satu bagian penting, lantaran membuka akses ke luar kota. Akses jalan di Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, itu bakal menjadi jalur alternatif menuju Bandara APT Pranoto di Samarinda.

MUHAMMAD RIFQI, Tenggarong

Cita-cita Kukar memiliki bandara sendiri tak kunjung terwujud. Padahal, event pariwisata nasional bahkan internasional tak lepas dari keberadaan akses bandara sebagai pintu gerbangnya. Tak ingin kehabisan akal, Pemkab Kukar sejak 2015 lalu telah merampungkan pembangunan jalan di Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, menuju Desa Batu Cermin di Samarinda.

Akses ini semula diproyeksikan sebagai penghubung antarkecamatan. Khususnya warga yang berangkat dari Kecamatan Muara Badak dan Marangkayu menuju Tenggarong. Akses jalan dari simpang tiga Muara Badak menuju kantor Bupati Kukar di Tenggarong pun dipangkas.

Namun, siapa sangka akses ini secara tidak langsung berfungsi sebagai jalan penghubung menuju Bandara APT Pranoto. Terlebih lagi, Pemprov Kaltim yang mencanangkan pembangunan jalan Ring Road III dari jalan poros Batu Besaung di Sempaja Utara hingga Sungai Siring sepanjang 10,75 km.

Nah, untuk menuju Jalan Batu Besaung inilah Pemkab Kukar membangun jalan di Desa Manunggal Jaya tersebut. Melalui jalur ini, akan tembus lebih dulu ke Desa Batu Cermin lalu menuju Batu Besaung. Sayangnya, masih tersisa sekitar 2,9 kilometer di sisi Desa Batu Cermin yang belum dilakukan peningkatan jalan. Sehingga badan jalan tanah tersebut belum bisa dilalui kendaraan roda empat, terlebih lagi saat hujan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kaltim Post, semula pihak Dinas PU Pemkab Kukar hendak membangun akses jalan dari Desa Manunggal Jaya tersebut hingga sisi Desa Batu Cermin. Belakangan, penetapan tapal batas oleh Pemprov Kaltim pada 2013 membuat Pemkab Kukar tak bisa meneruskan pembangunan badan jalan tersebut.

“Akses jalan tersebut sudah selesai sejak 2015. Awalnya sebagai penghubung antarkecamatan. Dari Muara Badak menjadi lebih dekat ke Tenggarong. Ternyata ada jalan pendekat menuju bandara di Batu Besaung. Sehingga, ini sangat menguntungkan sekali bagi Kukar,” kata Kepala Dinas PU Kukar Muhammad Yamin saat ditemui Kaltim Post di kantornya.

Awak Kaltim Post pun menyusuri jalan-jalan menuju Bandara APT Pranoto tersebut. Jika start dari kantor bupati, akses jalur dua sepanjang 14 kilometer tampak mulus dengan badan jalan cor semen. Sayangnya, sesampainya pos polisi Lembuswana sepanjang 6 kilometer jalan yang dilalui tampak rusak berlubang. Sebagian jalan ada yang berbadan jalan aspal dan cor semen. Jalur ini tercatat sudah pernah dilakukan perbaikan oleh Pemprov Kaltim, namun kembali rusak. Diduga akibat lalu lalang truk bermuatan yang melebihi tonase jalan.

Setelah 6 kilometer, tak jauh setelah dari markas Polsek Tenggarong Seberang, terdapat perempatan jalan di sebelah kanan. Badan jalan inilah yang dibangun Dinas PU Pemkab Kukar sepanjang 3,1 km menuju Desa Batu Cermin. Akses jalan tersebut tampak mulus, namun sesekali geometri jalan tampak menanjak. Sejumlah permukiman di kampung ini juga mulai berkembang bahkan sudah mulai tampak pembangunan proyek perumahan.

“Akses jalan ini sudah dekat sekali ke Samarinda. Biasanya naik sepeda motor sudah sampai ke Batu Cermin atau Batu Besaung. Tidak perlu lagi keliling ke Jalan Suryanata,” ujar Ardi, seorang warga yang ditemui Kaltim Post di Desa Manunggal Jaya.

Sementara itu, untuk rute alternatif yang sudah disiapkan Pemprov Kaltim, yakni melalui Jalan Batu Besaung-Jalan Berambai-Jalan Padaidi-Simpang Muara Badak-Bandara APT Pranoto, bila dihitung jarak tempuh melalui rute ini sekitar 32,2 kilometer. Jalan ini lebih jauh dibandingkan jalan pendekat menuju Sungai Siring.

Memasuki Jalan Batu Besaung, maksimal hanya 30-50 kilometer per jam. Jalan mulai sempit dan titik berlubang semakin banyak. Posisinya di tikungan tajam dan turun gunung. Rem harus benar-benar mantap. Kendaraan tidak bisa dipaksa melaju lebih dari 50 kilometer per jam.

Untuk penyelesaian jalan pendekat Bandara APT Pranoto dari Jalan Besaung, Sempaja Utara, ke Sungai Siring hingga saat ini masih menemui banyak kendala. Padahal, berfungsi sangat vital. Selain terkait pembebasan lahan, juga anggaran yang diharapkan dari APBN.

Akses jalan pendekat tersebut tak hanya bisa membantu mengurai kemacetan di sekitar bandara. Mempermudah akses menuju utara Samarinda dan sebaliknya. Jalan alternatif bagi warga dari L-2, Kukar, menuju Kutim dan Bontang. Hingga menjadi pilihan utama warga yang hendak ke Bandara APT Pranoto jika jalan utama melalui Jalan DI Pandjaitan terendam banjir.

Sebelumnya, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Perumahan Rakyat (PUTRPR) Kaltim Joko Setiono menuturkan, penyelesaian Jalan Batu Besaung hingga APT Pranoto masih terkendala persoalan lahan dan anggaran. Total panjang jalan 10,7 kilometer yang akan dibangun dengan dua jalur masing-masing selebar 8 meter.

Kala itu, total anggaran yang mengucur Rp 57,9 miliar. Dengan perincian, pada 2013, senilai Rp 8,28 miliar, pada 2014 Rp 34,12 miliar, 2015 Rp 7,28 miliar, dan 2016 Rp 8,21 miliar. Setelah itu, jalan sama sekali tidak mendapatkan kucuran anggaran.

Untuk menyelesaikan jalan, masih memerlukan dana yang besar, yakni Rp 252 miliar. Dana itu diperuntukkan menyelesaikan sisa pekerjaan cut and fill dalam penyiapan badan jalan dan rigid pavement senilai Rp 125 miliar dan dua jembatan Rp 127 miliar.

Kembali ke Kepala Dinas PU Kukar Muhammad Yamin. Menurutnya, pembangunan jalan menuju akses bandara yang lebih dulu dirampungkan oleh Pemkab Kukar ini juga sekaligus menyelaraskan program prioritas Pemkab Kukar terkait peningkatan sektor pendapatan asli daerah (PAD). Terutama dari sektor pariwisata. Sehingga, masyarakat dari luar kota yang hendak menuju Tenggarong, bisa mudah melalui akses jalan. Baik dari sisi jarak maupun minimnya hambatan yang dilalui. Baik dari kemacetan maupun banjir.

“Seperti yang diharapkan bapak Plt Bupati Edi Damansyah agar pembangunan infrastruktur juga memerhatikan sisi ekonomi maupun potensi peningkatan PAD. Termasuk dari sektor pariwisata dan pertanian,” tutup Yamin. (***/dwi/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Bandara BSB Samarinda