Kemeriaan Perayaan Imlek 2570 juga terasa di Balikpapan salah satunya di perkampungan padat masyarakat Tionghoa. Lokasinya berada di Jalan Al Falah, Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat. Untuk menuju ke perkampungan ini mudah dijangkau, berada di pusat keramaian kota, dekat Pasar Kebun Sayur. Bila sudah temukan Puskesmas Baru Ilir maka sudah masuk ke perkampungan ini, lokasinya persis di belakang puskesmas.
WARGA yang tinggal di perkampungan Tionghoa, Jalan Al Falah sudah tidak dominan lagi dihuni masyarakat Tionghoa. Warga sudah bercampur baur. Menurut tokoh masyarakat Tionghoa Balikpapan Tjan Hariyanto Chandra, sebelumnya nama Jalan Al Falah dahulunya dinamakan Jalan Kilat. Namun waktu tahun 1970-an, daerah ini disebut Kampung Lo Si Kay.
“Sebutan Lo Si Kay itu jalan tikus. Perkampungannya punya jalan-jalan kecil seperti jalan tikus,” ujar Tjan Hariyanto Chandra kepada Balikpapan Pos, Selasa (5/2) kemarin.
Lanjut Hariyanto, tempat perkampungan tersebut paling banyak diisi oleh suku Khong Hu yang dikenal masyarakat yang kebanyakan tekuni pekerjaan sebagai tukang kayu dan montir, namun dengan berkembangkan zaman keturunan Tionghoa di Jalan Kilat banyak yang sudah pindah, apalagi sesudah ada kejadian kebakaran besar di tahun 1987.
“Untuk saat ini jumlah keturunan Tionghoa di kawasan tersebut hanya sekitar puluhan kepala keluarga,” aku Hariyanto.
Disetiap momen Imlek seperti saat ini masih ada warga Tionghoa setempat yang masih melakukan tradisi. Pengamatan Balikpapan Pos ada beberapa warga yang sembahyang lakukan ritual doa cara Tionghoa. Salah satunya Stefanus Wong yang melaksanakan sembayang bersama dengan keluarga besarnya.
Stefanus mengaku bahwa sudah menjadi tradisi dan budaya leluhur dalam keluarganya dalam menyambut imlek banyak hal yang dilakukan seperti membersihkan seluruh rumah serta membuang semua peralatan yang sudah dianggap tidak terpakai, serta menghiasi rumah dengan lampion.
“Pada saat malam Tahun Baru Imlek adalah waktu untuk berkumpul dan makan bersama keluarga, serta menghormati leluhur dan mengucap syukur dengan mengadakan sembayang,” ucap Stefanus Wong.
Dikatakan Stefanus pada dasarnya imlek merupakan sebuah tradisi dari Tiongkok yang dirayakan oleh setiap keturunan tiongkok. Nah, dalam tradisi Imlek ini biasanya sanak keluarga yang jauh untuk merantau akan pulang ke daerahnya masing-masing. Sementara itu, pada malam sebelum imlek, setiap kepala keluarga melakukan acara reuni keluarga dengan makan bersama untuk mengikat tali persaudaraan agar makin erat.
“Biasanya sebelum Imlek para keluarga sembayang untuk memanjatkan syukur kepada tuhan bahwa sethun sudah terlewati dengan baik, kami juga membuat pengharapan tahun yang akan datang lebih baik lagi dari pada tahun sebelumnya,” tuturnya.
Lanjut Stefanus saat ini penggunaan gadget dalam Tahun Baru Imlek memang penting dilakukan, mengingat adanya keluarga Tionghoa yang jauh sehingga sulit untuk mengucapkan perayaan iImlek secara langsung.
“Gadget ini digunakan kalau keluarga yang jauh, tapi kalau masih dekat maka kami bertemu langsung untuk mengucapkan selamat imlek,” imbuhnya
Sayangnya, Imlek belakangan, menurut Stevanus semakin berkurang kemeriahannya. Hal tersebut dikarenakan adanya perkembangan teknologi gadget saat ini yang telah melebur di masyarakat.
“Kalau dulu kan belum ada gadget, jadi biasa meriah, tapi sekarang ada gadget jadi silarutahmi sudah jarang dilakukan,” ujarnya.
Menurutnya dengan kehadiran gadget pada dasarnya harus membuat masyarakat lebih menjalin silaturami dengan semakin baik dan tetap mempertahankan tradisi, jika hanya disampaikan lewat aplikasi media sosial tidak cukup menyemarakkan pelaksanaan imlek.
“Lebih baik jika bertemu sapa dan bersalaman untuk merayakan imlek, sama-sama intropeksi diri semoga tahun baru membawa kebahagian,” ucapnya.
Saat imlek hari tahun baru China seperti saat ini, warga setempat saling berkunjung satu sama lain. Bahkan warga di luar Tionghoa merasakan denyut nadi perayaan imlek. Toleransi antar suku dan agama berjalan baik. (dan/rus)
Editor : adminbp-Admin Balpos