SAMARINDA–Hasil survei Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia menempatkan Kota Tepian di peringkat empat kota tak nyaman huni di Indonesia. Meski data tersebut lansiran 2018, angka itu tetap menjadi perhatian Pemkot Samarinda.
Sebelumnya, Ketua Riset, Pengembangan, dan Pelatihan IAP Kaltim, Dana Adikusuma, Samarinda punya peluang memperbaiki posisi tersebut lewat survei berikutnya pada 2020. Salah satu item penilaian adalah tentang progres pembangunan infrastruktur. Dan, hal tersebut sudah diantisipasi pemkot sejak dini.
Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II jadi proyek terakhir yang mengenakan skema tahun jamak alias multi-years contract (MYC). “Sekarang semua disesuaikan kemampuan daerah. Dan, pembangunan benar-benar menyasar ke bawah,” terang Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Samarinda Asli Nuryadin, kepada Kaltim Post, kemarin.
Pembangunan yang digelar setiap tahunnya, lanjut dia, telah menyesuaikan kesepakatan di musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat kelurahan dan kecamatan. “Dengan mengedepankan visi-misi Samarinda sebagai kota jasa, perdagangan, dan industri,” tegas mantan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda itu.
Saat ini pun mereka tengah menggencarkan pengembangan program smart city. Sasarannya adalah pembenahan estetika kota dengan memperkuat fasilitas sosial dan umum. Di antaranya, membenahi bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) dari permukiman yang sejatinya melanggar aturan ruang terbuka hijau (RTH).
Namun, untuk membenahi seluruh aliran sungai sepanjang 34 km itu, tidak bisa sekejap mata. Memindahkan permukiman masih bersandungan dengan aturan hingga penentuan lokasi baru untuk warga.
Upaya pemkot itu pun mendapat dukungan dari pemerintah pusat, melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) garapan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Memang baru 400 meter yang pasti bisa kami kerjakan tahun ini, di Jalan Perniagaan. Lahannya beralih guna jadi ruang terbuka publik (RTP),” ulasnya.
Sebelumnya, Sekretaris Kota (Sekkot) Samarinda Sugeng Chairuddin mempertanyakan hasil survei tersebut. Padahal, menurut dia, Samarinda sudah dalam perkembangan yang sangat positif.
Dalam survei yang rilis pada 2018 itu, Samarinda berada di peringkat keempat dalam jajaran kota tak nyaman huni dengan capaian 56,9 persen. Nilai terendah diraih Makassar (55,7 persen), disusul Medan (56,2), dan Lampung (56,4). Sedangkan kota teratas dalam jajaran nyaman huni yakni Solo dengan capaian 66,9 persen. (*/ryu/ndy/k8)
Editor : octa-Octa