JELANG Natal dan Tahun Baru (Nataru), biasanya banyak kunjungan ke pasar. Yang diamati, fluktuasi harga bahan pokok. Yang diharapkan harganya tetap stabil. Bila perlu murah.
Saya berkunjung bukan dalam rangka Nataru. Kunjungan biasa saja. Ingin menyapa warga pasar. Biasanya kalau jumpa selalu bilang “ke mana saja, lama sekali tidak berjumpa”.
Sejak Pasar Sanggam Adji Dilayas beroperasi hingga sekarang, yang berjualan banyak berganti. Mungkin di awal yang jaga petak atau kios orangtuanya. Sekarang gantian dengan anaknya.
Saya masuk melalui pintu yang berhadapan dengan masjid. Masih ada yang menyapa. Saya tahu dia pedagang sejak awal. Melangkah ke dalam lagi, tidak menyapa hanya memberi senyum.
Ada juga yang langsung menawarkan telur. “Telur pak, ini telur ayam lokal,” penjualnya cantik. Berjilbab hitam. Wajahnya bersih. Ada tahi lalat di antara hidung dan bibirnya. Posisinya lebih ke kiri.
Dialah salah satu yang saya maksud penjualnya telah berganti. Mungkin dia sang anak pemilik petak. Atau bisa juga sang menantu yang ditugaskan menjaga toko.
Kalau tak salah, masuk pasar Sanggam Adji Dilayas ada delapan pintu. Khusus petak pasar basah, ada pintu. Begitu masuk disambut aroma ikan asin. Memang ditempati lebih banyak ikan asin dan terasi.
Ada juga pintu masuk langsung mengarah ke petak penjual ikan segar dan ayam potong. Bila melalui pintu utama, bertemu penjual pisang dan sayur-mayur. Tinggal memilih pintu masuk.
Ada yang sering saya cari, tapi sangat jarang ditawarkan penjual. Buah Kelor. Yang ada hanya daun kelornya. Buah kelor enak disayur asam. Daunnya enak juga. Direbus dengan kacang hijau. Katanya khasiatnya sangat besar.
Di petak penjual sayur inilah jumpa salah seorang yang duduk di belakang petak jualan. Badannya mungil. Sibuk merapikan ikatan sayur sawi.
Saya ingat teman saya. Mungkin gadis inilah yang ia sering sebut-sebut. Namanya Halimah. Perempuan berdarah Bugis dan Madura. Perempuan yang memilih membantu keluarganya berjualan di pasar. Di usia remajanya.
Awalnya saya bertanya, mengapa tempe dalam kemasan daun pisang sudah sangat jarang terlihat di jual. “Iya sudah lama pak. Saya juga tidak pernah melihat lagi,” kata Halimah.
Hampir tak ada perbedaan, tempe yang dikemas dengan daun pisang maupun yang tanpa kemasan. Tapi karena kemasan itulah, banyak yang mencari. Termasuk saya.
Halimah gadis cerdas. Ia bisa bercerita mewakili para pedagang di pasar basah. Ia bisa menjelaskan bagaimana cabe merah harganya bisa melonjak. Dan, sekarang sudah mulai normal kembali.
Bagaimana ia menjelaskan, dari mana saja ia mendapatkan sayur-mayur yang dijual. Juga menjelaskan, kalau belakangan harga bawang merah yang lumayan mahal.
Saya pernah membaca di media online, saat-saat kampanye Pilpres lalu. Ketika Sandiaga Uno mengunjungi Pasar 10 Ulu Palembang. Ia ‘diceramahi’ seorang pedagang yang menyampaikan usulnya agar harga sembako menjadi murah.
Ternyata bakul sayur yang ‘menceramahi’ Pak Sandiaga Uno saat berkunjung ke pasar itu juga bernama Halimah.
Di Medan, ada salah satu tempat kuliner yang terkenal dan wajib dikunjungi bila ke Medan. Ternyata nama tempat itu Warung Ikan Bakar Halimah. Sama dengan penjual sayur yang di pasar Sanggam Adji Dilayas.
Dalam bahasa Arab, untuk nama (perempuan) Halimah, artinya sederhana dan lemah lembut. Ya betul juga. Nama Halimah yang jualan di pasar itu, sederhana dan lemah lembut melayani pelanggannya.
“Terus bapak mau nyari apa?” Kata Halimah. Ia berdiri sambil bersandar di tiang kecil. Di tiang itu, bergantungan berbagai jenis bumbu. Sama dengan petak sayur lainnya. Membuat tiang untuk menyimpan bumbu masakan.
Ia menunjuk sayur sawi yang masih segar. “Kalau ini, ada pahit-pahitnya sedikit, pak,” kata dia lagi. Hebat kan. Dia dengan jujur dan memahami persis kandungan rasa dari apa yang ia jual.
Saya lalu mengambil seikat besar sawi. “Kalau itu, harganya Rp 10 ribu, pak,” kata Halimah. Yang lain saya juga membeli tahu dan tempe. “Enak itu pak, Sawinya ditumis,” kata Halimah sambil menjelaskan bumbu yang diperlukan bila menumis sayur.
Pembicaraan saya dengan Halimah sering terputus, di kala petugas kebersihan datang sambil menyapu. Saya sangat hormati petugas kebersihan itu. Karena merekalah sehingga tampilan pasar menjadi menarik. Bersih dan tidak berair.
Sebelum meninggalkan petak jualan Halimah, saya tanyakan namanya. Sekedar meyakinkan saja, betulkah nama gadis ini yang sering disebut-sebut Edi, teman saya yang tinggal di Jalan Aminuddin.
Sambil mengembalikan angsuran, saya bersuara pelan-pelan “Namamu siapa?“. Ia tersenyum. “Nama saya Halimah, pak,” kata dia sambil melangkah menuju kursi kayu dan melanjutkan pekerjaannya mengikat sayur sawi. (*/har)
Editor : uki-Berau Post