Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pabrik Peti Mati Kebanjiran Order

izak-Indra Zakaria • Senin, 13 April 2020 - 21:53 WIB
Pesanan untuk peti mati meningkat drastis. (AFP/Sebastien Bozon)
Pesanan untuk peti mati meningkat drastis. (AFP/Sebastien Bozon)

PADA saat semua sektor terkena dampak pandemi Covid-19, ada beberapa usaha yang justru meraup banyak rezeki. Saat jumlah kematian melonjak, pembuat peti matilah yang kebagian untung. OGF, perusahaan peti mati dari Prancis, mengungkap adanya lonjakan permintaan. Salah satu produsen peti mati terbesar Eropa itu terpaksa meminta pekerjanya untuk lembur agar bisa memenuhi permintaan peti jenazah dari keluarga korban jiwa Covid-19.

’’Karena wabah, kami memutuskan untuk fokus memproduksi empat model peti mati favorit,’’ ungkap Direktur Produksi Pabrik OGF Emmanuel Garret kepada Agence France-Presse. Total model peti mati perusahaan tersebut sebenarnya ada 15.

Pekerja diminta lembur satu jam setiap hari. Mereka pun diminta untuk tetap bekerja pada Sabtu. Hal tersebut dilakukan untuk menggenjot produksi peti mati per hari. Dari 370 kotak menjadi 410 kotak.

Pekerja di pabrik tersebut menyatakan siap menghadapi lonjakan. Mereka sudah belajar dari pengalaman tragedi gelombang panas pada 2003. Saat itu 15 ribu warga Prancis meninggal saat pekerja sedang berlibur. Mereka akhirnya memangkas liburannya dan kembali bekerja.

’’Saat itu kami harus membuat sampai 500 peti mati per hari. Kalau sekarang, kami sudah diperingatkan lebih dulu,’’ ujar David Theurez, salah seorang pegawai senior di pabrik.

Sementara itu, produsen di negara tetangga, Spanyol, juga meningkatkan produksi. Perusahaan Ataudes Chao sampai mencari pegawai baru untuk memenuhi puluhan ribu permintaan.

’’Permintaan meningkat delapan kali lipat. Kami harus membuat 300 peti jenazah per hari untuk memenuhi permintaan Madrid saja,’’ ujar CEO Ataudes Chao Maria Chao.

Meski begitu, masyarakat Eropa terhitung beruntung karena permintaan peti mati masih terpenuhi. Di Ekuador, warga Kota Guayaquil terpaksa menyimpan jenazah keluarga di rumah. Karena persediaan peti mati kayu yang habis, mereka mendapatkan peti mati darurat berbahan kardus.

Pasalnya, rumah sakit dan rumah duka kewalahan menghadapi jumlah kematian yang melonjak. ’’Rumah sakit terlihat sedang menangani korban perang. Seperti film-film horor,’’ ujar dokter di Rumah Sakit Teodoro Maldonado Carbo kepada The Guardian. (bil/c10/tom)

Editor : izak-Indra Zakaria
#corona