Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mei, Tes PCR Covid-19 Cukup di Samarinda

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 18 April 2020 - 17:45 WIB
-
-

JUMLAH pasien sembuh virus corona di Kaltim bertambah lagi. Kemarin (17/4), pasien yang sembuh dari Samarinda dengan kode SMR 2. Penambahan ini membuat 11 orang telah sembuh dari penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini. Kabar baik lainnya, tak ada penambahan pasien positif. Namun, terjadi penambahan 30 pasien dalam pengawasan (PDP).

Dijelaskan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Andi M Ishak, pasien sembuh SMR 2 merupakan perempuan berusia 31 tahun. Dia dilaporkan terjangkit Covid-19 pada 31 Maret 2020 dan selama ini dirawat di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.

Lanjut dia, SMR 2 tidak terhubung dengan klaster manapun ketika terjangkit Covid-19. Namun, yang bersangkutan punya riwayat bepergian ke Depok, Jawa Barat. "Kasus tersebut dinyatakan sembuh. Sebab, dari hasil laboratorium dinyatakan dua kali berturut-turut dengan hasil negatif. Serta, hasil pemeriksaan klinis dari dokter penanggung jawab pelayanan yang merawat kasus konfirmasi Covid-19 tersebut menyatakan bahwa secara klinis memiliki kondisi sudah sangat baik. Tidak ada gejala dan hasil serial foto thoraks menunjukkan tidak didapatkan gambaran pneumonia," jelas Andi.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Samarinda Ismed Kusasih mengatakan, pasien sudah bisa pulang ke rumahnya. Namun, sesuai instruksi dan prosedur, pasien harus karantina mandiri selama 14 hari di rumah. "Dia tidak akan menularkan. Tetapi, dia bisa tertular lagi oleh orang yang positif Covid-19 tapi belum sembuh. Atau tertular dari orang yang asimptomtik alias tak bergejala," jelas Ismed.

Kemarin Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kaltim juga merilis penambahan pasien negatif sebanyak 12 kasus. Mereka semua berasal dari Balikpapan dan kontak erat dengan pasien dengan kode BPN 17. "Mereka telah dirawat di RS Bhayangkara Balikpapan sejak 1 April 2020," kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kaltim Andi M Ishak.

Sementara itu, penambahan PDP sebanyak 30 orang berasal dari satu orang di Paser dan sisanya dari Balikpapan. Satu pasien dari Paser adalah laki-laki 39 tahun. Dia merupakan pelaku perjalanan dari Gowa dengan keluhan pilek. Hasil pemeriksaan cepat atau rapid test corona yang bersangkutan dinyatakan reaktif. Yang bersangkutan saat ini dirawat di RSUD Panglima Sebaya Paser.

Lalu, 15 orang dari 29 Kasus di Balikpapan adalah kontak dari BPN 17 yang mengikuti acara bersama di Sukabumi, Jawa Barat.

Sisanya, PDP dari Balikpapan ini ada yang dijadikan PDP tanpa riwayat ke luar daerah, tapi mengalami keluhan kesehatan menyerupai gejala Covid-19. Ada juga yang baru saja bepergian dari Jakarta. Ada pula yang dari Banjarmasin dan Tarakan.

"Seperti kasus laki-laki 49 tahun, merupakan pelaku perjalanan dari Banjarmasin dan Tarakan dengan gambaran GGO (ground glass opacities) paru, kasus dirawat di RSUD Kanudjoso Djatiwibowo," jelasnya.

Selanjutnya, ada juga kasus suami istri, yaitu laki-laki 55 tahun dan wanita 51 tahun. Keduanya sempat kontak erat dengan pasien kode BPN 15. Terdapat gambaran pneumonia berat saat foto thoraks. Sementara dari hasil rapid test, Andi menyebut kondisi istri reaktif. Keduanya kini dirawat di RSUD Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan.

Hingga kemarin, total ada 120 PDP yang masih menunggu hasil uji laboratoriumnya. Plt Kepala Diskes Kaltim ini mengungkapkan, pengiriman spesimen saat ini terbatas hanya seminggu tiga kali. Itu pun, hanya bisa diterbangkan dari Balikpapan mengikuti jadwal penerbangan. Karena itu, jika Kaltim bisa menguji sendiri akan lebih mudah.

Diterangkan Andi, ada dua metode uji spesimen yang akurasinya hampir 100 persen. Yaitu dengan metode alat tes virus polymerase chain reaction (PCR) dan TCM. Adapun Kaltim sudah memiliki teknologi TCM yang selama ini digunakan untuk pengujian tuberkulosis. Tetapi, TCM juga terbatas penggunaannya. Tidak bisa dilakukan massal dan harus berbagi dengan uji tuberkulosis.

"Kita tidak bisa menghentikan uji tuberkulosis (tb) juga. Sebab, tb tetap harus jalan dan lebih berbahaya. Pengobatannya lebih lama, tidak boleh putus. Juga bisa mematikan," sambungnya. Namun, TCM kini disiapkan dan diperkirakan pada akhir April bisa digunakan untuk uji spesimen PDP Covid-19.

Sembari menunggu PCR set di-install dan reagen-nya tersedia. Diperkirakan, Kaltim baru bisa melakukan tes sendiri dengan perangkat alat tes PCR pada Mei. Sebenarnya PCR di RSUD AWS sudah ada. Namun, untuk HIV. Karena itu, harus di-install khusus dan punya reagen untuk mengekstrak sampel. Jika tes PCR sudah bisa dijalankan, ratusan sampel bisa diketahui jawabannya dalam sehari.

"Pakai PCR, sekali running mesin bisa 100 sampel. Hasilnya segera didapat dalam tiga jam," pungkas Andi. Terpisah, Plt Direktur RSUD AWS David Masjhoer menyebut, pada dasarnya, dua alat ini sudah siap di RSUD AWS. Hanya, masih menunggu pihak kementerian untuk menginstal dan pasokan reagen guna mengekstrak sampel.

"Alatnya siap. Tinggal menunggu TCM dari Kemenkes. Laboratorium juga sudah kita setting untuk Biosafety Level 3," tutur David. Biosafety Level 3 adalah pengamanan yang ditujukan bagi fasilitas klinis atau riset yang berhubungan dengan agen yang mengakibatkan potensi terkena penyakit berbahaya. (nyc/riz/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria
#corona