Wabah Covid-19 di beberapa negara mulai mereda. Thailand dan beberapa negara di Eropa sudah mengizinkan bisnis kembali buka. Namun, Tiongkok justru kembali resah karena pusat wabah yang muncul di ibu kota.
BANGKOK– Senin(15/6), Pemerintah Thailand akhirnya mengangkat jam malam nasional yang sudah berlaku selama dua bulan. Mereka mengizinkan restoran kembali menjual alkohol meski belum memberikan izin operasi terhadap bar dan kelab malam. Rumah makan diizinkan beroperasi sejak dua minggu lalu, namun belum diperbolehkan menjual alkohol.
Keputusan tersebut diambil setelah Negeri Gajah Putih itu mencetak rekor. Selama 21 hari, mereka tak lagi menerima laporan kasus lokal. ’’Semua kasus baru yang kami catat datang dari pusat karantina untuk orang yang datang dari luar negeri,’’ ujar Jubir Satgas Covid-19 Thailand Taweesin Wisanuyothin kepada Channel News Asia.
Thailand merupakan salah satu negara tercepat dalam merespons isu virus corona. Sejak laporan kasus pertama pada 13 Januari, mereka memberlakukan kebijakan karantina dan social distancing. Kebijakan itu menekan angka kasus total 3.135 dan kematian sebanyak 58 jiwa.
Di benua biru, Prancis juga mengeluarkan izin bagi pemilik restoran dan kafe untuk kembali membuka usaha. Keputusan itu diumumkan Presiden Emmanuel Macron pada Minggu malam (14/6). ’’Masa berat epidemi sudah berada di belakang kita. Tapi, itu bukan berarti pertarungan melawan virus sudah berakhir,’’ kata Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran.
Pemilik rumah makan gembira sekaligus kelimpungan mendengar keputusan tersebut. Beberapa dari mereka belum menyiapkan bahan dan pekerja untuk memulai usaha. Apalagi, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi. Di antaranya, memberi jarak 1 meter antar-meja.
’’Paling cepat, saya membuka dua restoran pada Rabu (17/6). Politikus sepertinya tak mengerti bahwa bisnis tak bisa langsung dibuka dalam satu hari,’’ ucap Stephane Manigold, pemilik empat restoran di Paris, kepada Agence France-Presse.
Berbeda dengan negara-negara tersebut, Pemerintah Tiongkok justru kembali sibuk. Mereka menemukan satu titik persebaran baru di Beijing. Lebih tepatnya, pasar grosir Xinfadi.
Xinfadi merupakan pusat penjualan berbagai produk pertanian, peternakan, dan hasil laut. Wakil Perdana Menteri Tiongkok menyatakan, penyebaran virus dari titik tersebut sangat berisiko mengingat ratusan orang lalu-lalang setiap hari.
’’Kami menemukan jejak virus di talenan bekas memotong salmon impor. Tapi, kami belum bisa mengambil kesimpulan,’’ tutur Zhang Yuxi, kepala pasar Xinfadi, kepada Beijing News.
Pada akhirnya, Pemerintah Beijing melacak siapa saja yang pernah berada di tempat tersebut. Hampir 10 ribu jiwa sudah dites Covid-19. Target pemerintah adalah 46 ribu jiwa yang diketahui merupakan penjual, warga lokal, atau pengunjung pasar tersebut.
Kemarin otoritas melaporkan bahwa sudah ada 75 kasus virus corona yang dikaitkan dengan penyebaran di Xinfadi. Hal tersebut membuat pemerintah lokal menerapkan kebijakan lockdown di beberapa distrik. Termasuk distrik Fengtai di mana Xinfadi berada.
’’Saya baru saja tiba di Beijing beberapa hari lalu. Sekarang sepertinya saya harus pulang kampung,’’ ungkap pelajar bermarga Shao yang mengaku resah karena persebaran Covid-19 di ibu kota.
Sementara itu, Pemerintah Iran memperingatkan mereka akan memberlakukan kebijakan lockdown nasional. Hal tersebut dilakukan setelah Negeri Para Mullah itu mencatat kematian akibat virus SARS-CoV-2 lebih 100 jiwa selama dua hari berturut-turut. (bil/c20/dos/dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria