Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gawat..!! Ada 151 Titik Panas di Kotim, 77 Hektare Sudah Terbakar

R
ilustrasi karhutla di Kalteng.
ilustrasi karhutla di Kalteng.

Advertisement

SAMPIT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem mulai menghantui wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) seiring masuknya musim kemarau tahun 2026. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, tercatat sebanyak 151 titik panas (hotspot) telah terpantau sejak Januari hingga 31 Maret 2026, yang mengakibatkan 33 kejadian kebakaran dengan total luas lahan hangus mencapai 77,341 hektare.

Pemerintah Kabupaten Kotim kini dalam posisi siaga penuh menyusul rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi kemarau tahun ini akan dipengaruhi oleh fenomena "El Nino Godzilla". Fenomena ini ditandai dengan cuaca yang jauh lebih kering dan durasi kemarau yang lebih panjang, diperkirakan mencapai lima bulan.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, menegaskan bahwa kesiapsiagaan seluruh pihak, mulai dari personel hingga sarana prasarana, harus dipastikan sejak dini agar penanganan di lapangan bisa dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.

Advertisement

"Kita ingin memastikan sejauh mana kesiapsiagaan seluruh pihak, sehingga penanganan karhutla dan kekeringan bisa dilakukan lebih cepat. Jangan menunggu api membesar, jika ada titik api segera dilaporkan dan ditangani," tegas Umar dalam rapat koordinasi lintas instansi, Selasa (7/4).

Umar mengingatkan bahwa dampak karhutla sangat luas, tidak hanya merusak ekologi dan keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu kabut asap yang mengganggu kesehatan serta aktivitas ekonomi masyarakat. Ia berkaca pada pengalaman pahit tahun 2015, 2019, dan 2023 di mana lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi ancaman serius bagi warga.

Guna mengantisipasi hal tersebut, Pemkab Kotim menginstruksikan sinergi total antara TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Manggala Agni, hingga masyarakat peduli api dan pihak swasta. Para camat dan lurah juga diminta aktif melakukan sosialisasi larangan membakar lahan serta memberikan pemahaman mengenai konsekuensi hukum bagi pelakunya.

Advertisement

Selain fokus pada api, pemerintah daerah juga mulai memetakan wilayah selatan Kotim yang rawan terdampak kekeringan. Distribusi bantuan air bersih mulai dipersiapkan untuk menjaga ketahanan pangan dan kebutuhan dasar masyarakat. "Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama dan sinergi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang," pungkasnya. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : Radar Sampit
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Karhutla Berulang, 69 Persen Kebakaran di Kaltim Terjadi di Wilayah Konsensi

Karhutla Berulang, 69 Persen Kebakaran di Kaltim Terjadi di Wilayah Konsensi

[19.30, 26/10/2026] Yamin: Diskusi media daring bertajuk “Satu Dekade Perjanjian Paris: Menagih Tanggung Jawab atas Karhutla, Evaluasi Kiner

BPBD Samarinda Curigai Faktor Manusia dalam Karhutla, Temuan Patok Baru Jadi Perhatian

BPBD Samarinda Curigai Faktor Manusia dalam Karhutla, Temuan Patok Baru Jadi Perhatian

BPBD Samarinda Curigai Faktor Manusia dalam Karhutla, Temuan Patok Baru Jadi Perhatian SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tid

Terparah, Indeks Standar Pencemaran Udara di Kabupaten Kutai Barat Berstatus Berbahaya

Terparah, Indeks Standar Pencemaran Udara di Kabupaten Kutai Barat Berstatus Berbahaya

Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menghadapi situasi darurat pencemaran udara imbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer