Kesan sepi kini telah berganti padat pengunjung. Terlebih ketika sore hari. Hilir mudik pengunjung memadati Citra Niaga. Kawasan yang sejak 1968 dikenal sebagai Taman Hiburan Gelora (THG).
PESONA Citra Niaga sempat pudar. Bahkan, beberapa tahun lalu turut dicap sebagai salah satu kawasan kumuh di ibu kota Provinsi Kaltim ini. Tapi kini, kembali menjadi tempat favorit kawula muda melepas penat.
Sebenarnya pada tahun 90-an, Citra Niaga sudah dikenal sebagai mal terbuka andalan Kota Tepian. Pernak-pernik khas Kaltim menjadi dagangan khas Citra Niaga. Namun, sejak Februari lalu, kawasan ikonik itu tak hanya dikenal sebagai pusat perbelanjaan oleh-oleh saja.
Coffee shop hingga kedai khas kaum milenial mulai menjamur di sana. Sayang, ramainya pengunjung setelah coffee shop bertebaran, tak berdampak pada penjualan suvenir. Bahkan masih terbilang sepi. Sama sebelum coffee shop ada.
"Citra Niaga ini kan yang ramai kafenya, jadi nggak pengaruh ke barang kami. Cuma ngaruh di keramaian saja," kata Herlina, pedagang pernak-pernik khas Kaltim yang telah berdagang selama 10 tahun terakhir.
Meski tak berpengaruh besar ke barang dagangannya, perempuan 50 tahun itu tetap bersyukur. Setidaknya kesan sepi dan gelap telah hilang. "Kalau yang beli ada saja, sehari bisa saja satu. Bergantung rezekinya," imbuh dia.
Tak jarang, permohonan untuk menyewa ruko tertuju ke ibu empat anak itu. Namun, kenangan dan pertimbangan tak ingin melepas pelanggan setianya, membuat tawaran tersebut ditolak. Di sisi lain, dia tak ingin Citra Niaga yang dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas Kaltim berganti wajah.
"Nanti hilang kesannya citra kalau kami (penjual pernak-pernik) nggak ada," ujarnya. Tak jauh berbeda dengan Herlina, Khoirudin menerangkan, padatnya jumlah pengunjung belum berdampak besar bagi usahanya. Walaupun dia membuka kios hingga malam hari.
"Dalam sehari belum tentu ada yang beli," ucap pedagang yang menghuni kawasan Citra Niaga sejak 2000 itu. Menurut dia, peningkatan pembelian bisa terjadi ketika ada event besar diselenggarakan. Hal itu lantaran pernak-pernik lebih diminati wisatawan luar daerah.
"Kalau untuk orang sini mungkin minatnya cuma 1 persen aja. Kalau dari luar yang besar, contohnya waktu PON 2008," terangnya.
Sebenarnya, Khoirudin berupaya melakukan inovasi. Baju kaus bergambar Citra Niaga di era keemasan serta bertuliskan "Citra Niaga Dalam Ingatan" dicoba dijajakan. Hanya saja belum menarik perhatian kawula muda.
"Padahal, kainnya sudah saya sesuaikan juga sama selera anak muda, tapi belum ada yang beli. Saya senang saja Citra ramai tapi jangan sampai nanti lebih dikenal kawasan ngopi," pungkasnya.
Ditemui terpisah, Kepala UPTD Citra Niaga Suardi Amin mengatakan, setidaknya ada 56 kafe yang kini berdiri di Citra Niaga. Wajah baru Citra Niaga dikhawatirkan menghilangkan khas pusat oleh-oleh tersebut. "Untuk ketakutan kesan khas Citra Niaga hilang pasti ada lah," ucapnya.
Untuk mengantisipasinya, pengelola melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) mengeluarkan surat pembatasan izin usaha kafe.
"Nah untuk antisipasi kita sebagai pengelola, dari Disperindagkop di tanggal 14 kemarin, bagi toko suvenir yang tutup nggak boleh lagi buka kafe. Baik itu disewakan atau buka sendiri," terangnya.
Sebenarnya, lanjut Suardi, toko yang menjajakan suvenir masih berimbang dengan coffee shop yang kini menjamur. Bahkan, beberapa blok lebih diutamakan untuk penjualan suvenir.
UPTD Citra Niaga memiliki konsep untuk menonjolkan budaya dan menonjolkan khas Citra Niaga. Bersama yayasan musik dan tari, akan menampilkan musik dan tarian daerah.
"Tapi masih wabah Covid-19, jadi belum bisa dilakukan. Sementara ini memang untuk kunjungan orang meningkat, tapi untuk pemasaran suvenir tidak meningkat. Tapi kita berharap dari jumlah pengunjung yang meningkat akan berdampak ke penjualan suvenir. Terutama orang dari luar," pungkasnya. (*/dad/kri/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria