Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Terungkap, Kasus Paty Bermula dari Kebohongan

izak-Indra Zakaria • Rabu, 10 Maret 2021 | 13:00 WIB
Paty, guru sejarah di College du Bois d’Aulne, Conflans-Sainte-Honorine, Prancis, tewas dipenggal Abdoullakh Abouyedovich Anzorov pada 16 Oktober tahun lalu.
Paty, guru sejarah di College du Bois d’Aulne, Conflans-Sainte-Honorine, Prancis, tewas dipenggal Abdoullakh Abouyedovich Anzorov pada 16 Oktober tahun lalu.

PARIS – Trust, but verify. Percaya, tapi pastikan mengonfirmasinya. Pepatah Rusia yang dipopulerkan mendiang Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan itu seharusnya diterapkan Brahim Chnina. Jika saja dia mencari tahu kebenaran pernyataan putrinya, pembunuhan Samuel Paty mungkin tak akan pernah terjadi.

Paty, guru sejarah di College du Bois d’Aulne, Conflans-Sainte-Honorine, Prancis, tewas dipenggal Abdoullakh Abouyedovich Anzorov pada 16 Oktober tahun lalu. Harian Le Parisien pada Minggu (7/3) mengungkapkan, kepada penyidik, putri Chnina mengaku telah berbohong dan memfitnah Paty. Ulah Z, sebutan gadis 13 tahun tersebut, menjadi titik awal insiden yang memicu gejolak internasional.

Z sering bolos sekolah. Pada 6 Oktober, Paty tengah mengajar materi tentang dilema. Paty membahas insiden karikatur Nabi Muhammad yang diterbitkan majalah satire Charlie Hebdo. Gara-gara karikatur itu, kantor Charlie Hebdo diserang pada Januari 2015 dan 12 orang tewas.

Paty ingin membahas insiden tersebut dan menunjukkan karikaturnya. Salah satu gambarnya menunjukkan karikatur nabi yang telanjang. Z tidak ikut dalam kelas tersebut. Karena berkali-kali tidak masuk, dia diskors dua hari. Takut dimarahi, Z mengatakan kepada ayahnya, pada pelajaran itu, Paty menyuruh siswa muslim keluar kelas sebelum menunjukkan karikatur nabi. Z menentang Paty. Karena itu, dia dihukum.

’’Saya tidak melihat karikaturnya. Gadis di kelas yang menunjukkannya kepada saya,’’ bunyi rekaman pernyataan Z yang didengar media Prancis.

Chnina, tampaknya, langsung memercayai putrinya. Pria 48 tahun kelahiran Maroko itu mengunggah video di Facebook yang mencela Paty dan berharap dia dipecat. Dia mengunggah video kedua yang menuding Paty melakukan diskriminasi. Chnina juga mengajukan komplain kepada polisi dan sekolah. Tindakan Chnina memicu tudingan Islamofobia di sekolah tersebut.

Kebohongan Z telah membuat Paty terbunuh. Putranya yang masih berusia 5 tahun harus kehilangan sosok ayah. Z sejatinya kukuh dengan kebohongannya. Dia baru mengaku setelah polisi meminta konfirmasi kepada teman-temannya untuk memastikannya bolos. Selain itu, tidak pernah ada instruksi agar siswa muslim meninggalkan kelas. Z disebut penyidik menderita sindrom inferiority kompleks. Dia sangat patuh kepada ayahnya.

Mbeko Tabula, pengacara Z, bersikukuh bahwa yang salah adalah reaksi Chnina. Di pihak lain, Chnina yang kini disidik menyatakan bahwa dirinya dulu bodoh dan idiot. ’’Saya tidak pernah berpikir pesan (video) saya dilihat teroris. Saya tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Sulit membayangkan bagaimana ini bisa terjadi. Kita kehilangan guru sejarah dan semua orang menyalahkan saya,’’ ujarnya seperti dikutip The Guardian. (sha/c14/bay)

Editor : izak-Indra Zakaria