KIEV – Jembatan Voznesensk hancur berkeping-keping. Bukan tentara Rusia yang mengebom jembatan tersebut, melainkan pasukan Ukraina dan penduduk sekitar. Itu dilakukan agar pasukan Rusia beserta kendaraan lapis bajanya tidak bisa lewat dan menguasai kota strategis tersebut.
Pertempuran selama dua hari di Voznesensk menunjukkan bahwa Ukraina tidak bisa dipandang sebelah mata meski mereka kalah dalam hal jumlah dan persenjataan. Kremlin berusaha mengambil alih kota tersebut sejak 2 Maret lalu setelah mereka berhasil menguasai Kherson.
Voznesensk memiliki jembatan untuk melintasi Sungai Southern Buh. Itu adalah sungai terpanjang kedua di Ukraina. Jika bisa mengambil alih Voznesensk, pasukan Rusia bisa menuju Odessa dari jalur belakang dan menuju pembangkit tenaga nuklir Yuzhnoukrainsk. Dari lima pembangkit nuklir di Ukraina, itu adalah yang terbesar kedua.
Pasukan Ukraina dibantu relawan yang merupakan warga kota tersebut. Mereka tak memiliki senjata modern dan tank seperti Rusia. Pasukan Ukraina memakai granat, peluncur roket, rudal javelin, dan artileri. Sedangkan penduduk setempat menggunakan pistol berburu, batu, dan stoples untuk menyerang tentara Rusia. Warga memblokade jalan dan menggiring pasukan Rusia ke tempat terbuka yang mudah diserang.
’’Ini adalah lokasi strategis. Kami tidak hanya mempertahankan kota, tapi juga semua teritorial di belakangnya,’’ tegas Yevheni Velichko, wali kota Voznesensk, seperti dikutip BBC.
Mayoritas dari 35 ribu penduduk kota tersebut berbicara dengan bahasa Rusia. Namun, mereka bukan golongan oposisi. Mereka justru menentang invasi. Perlawanan gila-gilaan itu memukul mundur pasukan Rusia. The Wall Street Journal melaporkan bahwa setidaknya 100 tentara Rusia tewas dan 10 lainnya tertangkap. Pasukan Rusia meninggalkan 30 di antara 43 kendaraan mereka. Termasuk tank, pengangkut personel lapis baja, peluncur roket ganda, dan truk.
Perang masih berlangsung dan Voznesensk belum aman. Saat ini sebagian penduduknya mulai mengungsi. Sirene tanda bahaya juga kerap meraung di kota tersebut. Hari ini tepat sebulan invasi Rusia ke Ukraina. Negara yang dipimpin Volodymyr Zelensky itu porak-poranda. Kota-kota besar mulai luluh lantak. Namun, mereka masih berusaha bertahan dari gempuran Rusia. Ia mematahkan prediksi negara-negara Barat bahwa Ukraina akan jatuh ke tangan Rusia dalam hitungan hari pascainvasi.
Kantor HAM PBB (OHCHR) melaporkan, hingga 20 Maret, total ada 925 warga sipil yang meninggal. Sebanyak 75 di antaranya adalah anak-anak. Selain itu, 1.496 orang lainnya luka-luka. Jumlah di lapangan sangat mungkin lebih banyak. Sebab, di beberapa wilayah, tim penyelamat tak bisa mengakses gedung-gedung yang hancur setelah dibom.
Salah satunya gedung teater di Mariupol yang dibom Rusia. Padahal, di dalamnya ada lebih dari seribu perempuan dan anak-anak. Hingga kini, belum ada laporan resmi berapa korban jiwa dari pengeboman tersebut. Menurut sejumlah kesaksian, jenazah tentara dan warga sipil bergeletakan di jalanan kota Mariupol. Tidak ada yang bisa dilakukan karena Rusia menggempur kota itu habis-habisan.
Berdasar data Badan Pengungsi PBB (UNHCR), lebih dari 3,6 juta warga Ukraina telah mengungsi ke negara-negara sekitar. Enam juta orang lainnya mengungsi di kota-kota dalam negeri yang dirasa masih aman.
Di pihak Rusia, jumlah korban jiwa juga sama besarnya. Awal Maret, Kementerian Pertahanan Rusia mengakui bahwa 498 tentara mereka tewas dan 1.500 lainnya luka-luka. Jumlah itu cukup besar jika menilik pengumuman diberikan 10 hari pascainvasi. Namun, Ukraina dan AS mengklaim bahwa jumlahnya 10–30 kali lipat dari data yang dirilis tersebut.
Senin (21/3), tabloid Komsomolskaya Pravda memublikasikan pernyataan bahwa berdasar data Kementerian Pertahanan Rusia, ada 9.861 tentara yang tewas dan 16.153 luka. Itu adalah tabloid yang beritanya kerap pro-Kremlin. Dalam hitungan menit, kalimat tentang angka korban tewas dan luka itu hilang. Media yang berdiri sejak 13 Maret 1925 tersebut lantas membuat pernyataan bahwa akun mereka telah diretas dan info itu tidak benar.
Selasa (22/3), pejabat senior AS menyatakan bahwa kekuatan tempur Rusia menurun 90 persen jika dibandingkan dengan awal invasi. Mereka mengalami kekurangan persenjataan, korban yang meningkat, masalah moral dan kontrol, serta kemajuan penyerangan ke Kiev yang terhenti.
Saat ini Rusia sepertinya lebih fokus menguasai Mariupol, kota yang bisa menghubungkan Donetsk dan Luhansk dengan Krimea. Dua bom berkekuatan besar menghantam kota itu saat upaya penyelamatan penduduk berlangsung. Ada sekitar 100 ribu warga yang terjebak di kota tersebut.
Zelensky menuding pasukan Rusia telah menyita konvoi bantuan kemanusiaan di dekat Mangush, sebelah barat Mariupol. ’’Penduduk yang tinggal di kota itu dalam kondisi tidak manusiawi, diblokade total, tanpa makanan, air, dan obat-obatan, serta pengeboman terus-menerus,’’ ujarnya, seperti dikutip The Guardian.
Negosiasi Rusia-Ukraina juga belum membuahkan hasil. Jubir Kepresidenan Rusia Dmitri Peskov mengungkapkan, kemajuan pembicaraan dua negara berlangsung jauh lebih lambat dan kurang substansif.
Di lain pihak, Zelensky masih menuntut penarikan pasukan Rusia secara penuh dari negaranya. Sebagai gantinya, dia siap berjanji untuk tidak bergabung dengan NATO. ’’Kami tidak akan bergabung dengan NATO jika itu bisa membawa perdamaian,’’ ucapnya, seperti dikutip New York Post. (sha/c18/oni)
Editor : izak-Indra Zakaria