SEMARANG - Kasus penembakan terhadap Rina Wulandari, istri seorang anggota TNI di Semarang, dipastikan didalangi oleh suaminya sendiri, yakni Kopda Muslimin. Bahkan, aksi penembakan itu bukan upaya pertama untuk menghabisi korban. Sebelumnya, korban pernah akan diracun dan disantet.
Kapolda Jateng Irjen Ahmad Luthfi dalam keterangannya kemarin (25/7), mengungkapkan lima orang dinyatakan sebagai tersangka. Satu di antaranya berperan sebagai eksekutor. Kemudian, tiga lainnya membantu proses eksekusi. Dan satu lainnya menyediakan senjata api. Motifnya kelimanya adalah memperoleh upah. Sedangkan motif Muslimin merencanakan membunuh istrinya sendiri adalah urusan asmara.
“Motifnya punya pacar lagi. Jadi ada pengakuan dari saksi yang kami periksa di antaranya saksi W, yakni pacarnya (Kopda Muslimin),” ujar Ahmad di Mapolda Jateng. Di tengah proses pemeriksaan itu, Muslimin sempat mengajak W melarikan diri. Namun, yang bersangkutan menolak. Hingga akhirnya Muslimin melarikan diri sendiri.
Tim gabungan dari Polda Jateng dan Kodam IV/Diponegoro berhasil mengamankan lima tersangka. Yakni, Sugiono alias Babi, berperan sebagai eksekutor yang menembak korban. Kemudian Ponco Adi Nugroho (26) sebagai pembonceng eksekutor. Tersangka lainnya adalah Supriono sebagai joki Honda Beat yang membonceng Agus Gondrong. Mereka bertugas mengawasi kondisi sekitar. Satu tersangka lainnya adalah Dwi Sulistyo yang menyediakan senjata api. “Nanti senjatanya akan kami dalami,” janjinya.
Hasil penyidikan sementara, tersangka Babi sebelumnya sudah pernah mendapat order dari Kopda Muslimin untuk menghabisi nyawa istrinya. Bahkan dari salah satu keterangan pelaku diketahui bahwa suami korban pernah memerintahkan Babi tidak hanya melakukan penembakan. “Sebelumnya, sebulan lalu, pernah diminta untuk meracun istrinya,” jelasnya.
Sebelumnya, rumah korban sempat disatroni seseorang tak dikenal sebulan lalu. Pelaku itu, bahkan sudah sampai masuk ke ruangan utama di lantai dua. Namun, kepergok korban dan kemudian langsung lari turun melarikan diri. “(Upaya) kedua (pernah) pura-pura mencuri. Kemudian, ketiga dia (suami korban) mencoba menggunakan santet. Tapi belum kami kroscek, karena suaminya masih dalam pencarian. Tapi (intinya) istrinya itu harus mati,” bebernya.
Kapolda mengungkapkan, pembunuhan itu sudah direncanakan dengan matang. Para pelaku sudah menyatroni rumah korban sejak pukul 08.00 WIB. Sebelum ke lokasi, tiga pelaku; Babi, Agus Gondrong, dan Ponco sudah bertemu sekitar pukul 07.00 WIB.
Kemudian ketiganya menjemput tersangka Supriono, di rumahnya di Kecamatan Genuk. “H-3, sebelum kejadian, yang bersangkutan (Babi) melaksanakan transaksi (pembelian) senjata api yang ditengarai rakitan dengan nilai Rp 3 juta,” katanya. Diketahui, senjata api tersebut dibeli dari tersangka Dwi Sulistyo di Sragen.
Pada hari-H empat orang itu menuju lokasi sasaran rumah korban. Eksekutor sempat mendapat perintah melalui telepon dari Kopda Muslimin untuk menyiapkan senjata api dan memasukkan amunisi ke magazin. “Sugiono alias Babi ini mengendarai sepeda motor Kawasaki Ninja. Sedangkan tim pengawas mengendarai Honda Beat,” jelasnya.
Saat pengintaian, para pelaku bergeser menuju titik yang sudah ditentukan oleh Muslimin. Tersangka Babi kemudian kembali menerima telepon dari Muslimin yang memintanya bersiap lantaran target akan keluar rumah untuk menjemput anak sekolah. Kemudian para pelaku membuntuti korban mulai pukul 11.35 WIB hingga kembali dari menjemput anak sekolah.
Sesampainya di depan rumah, tersangka Babi menembak korban sekitar pukul 11.50 WIB. Penembakan yang mengarah ke tubuh mengenai perut korban. “Tembakan pertama ditengarai tidak mematikan. Kemudian suami korban (Muslimin) memerintahkan untuk melakukan penembakan yang kedua. Jadi tembakan pertama tembus, di TKP ditemukan proyektil. Satu proyektil lainnya bersarang di perut (korban),” beber dia.
Setelah melakukan penembakan, para pelaku berpencar. Sedangkan tersangka Babi dan Ponco menemui Muslimin di minimarket dekat Terminal Sukun dengan menggunakan mobil Calya hitam. Pertemuan itu tak lain untuk penyerahan upah dari Muslimin sebesar Rp 120 juta. Setelah itu, para pelaku bertemu di Jembatan Sriwulan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, untuk membagi uang hasil kejahatan tersebut.
Uang tersebut diberikan Kopda Muslimin setelah mengantar istrinya ke Rumah Sakit Hermina akibat terkena tembakan. “Di rumah sakit, suami korban menelepon eksekutor untuk melakukan transaksi hasil pelaksanaan kegiatan (penembakan),” jelasnya.
Dari hasil kejahatan itu, Agus mengakui mendapat uang sebesar Rp 24 juta. Uang tersebut sebagian dipergunakan untuk keperluan pernikahan. Sialnya, kejahatan yang dilakukan terbongkar dan berhasil diamankan setelah melakukan ijab kabul.
Tersangka pertama yang berhasil ditangkap adalah Babi, kemudian Agus Gondrong, dan berkembang ke tersangka lainnya. Termasuk juga penyedia senjata api. Selain itu, berhasil mengamankan barang bukti dua sepeda motor yang digunakan sebagai sarana penembakan. Satu di antaranya, Kawasaki Ninja, sudah berubah warna. Dari warna hijau muda dicat menjadi hijau gelap.
Terkait keberadaan Kopda Muslimin yang menjadi dalang kejahatan itu, tim gabungan masih terus memburu. Kapolda mengimbau kepada yang bersangkutan untuk secepatnya menyerahkan diri. “Sebelum tim mengambil tindakan tegas kepada yang bersangkutan,” tegasnya.
Sampai sekarang, lima pelaku masih mendekam di ruang tahanan Mapolrestabes Semarang sembari menunggu proses hukum selanjutnya. Akibat perbuatannya, tersangka dijerat pasal 340 KUHP Jo Pasal 53, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. Atau penjara selama-lamanya 20 tahun.
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa memberikan atensi penuh terhadap penanganan kasus yang melibatkan Kopda Muslimin. “Memang belum ketemu, tetapi yang jelas (penanganan kasusnya) tidak akan berhenti,” tegas Andika. Dia menegaskan bahwa TNI AD juga mengerahkan sumber daya yang mereka miliki untuk mencari Kopda Muslimin. Andika menyebut TNI punya cara untuk mencari tahu keberadaan Kopda Muslimin.
KONDISI RINA STABIL
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman kemarin (25/7) menyempatkan diri menjenguk Rina Wulandari yang masih dirawat intensif di ICU RSUP Kariadi, Semarang. Pihak rumah sakit menyatakan, kondisi korban penembakan yang diotaki suaminya sendiri Kopda Muslimin itu mulai stabil.
Dudung menyampaikan, setelah menjalani operasi pada Minggu malam (24/6), saat ini, kondisi Rina berangsur membaik. Meski ventilator masih terpasang. “Tadi saya lihat, korban sedang tidur sehingga saya tidak bisa berkomunikasi karena dipasang ventilator. Saya berharap bisa komunikasi rupanya beliau tadi ditidurkan. Tentunya saya mengucapkan terima kasih karena ada tindakan yang cepat sehingga selamat dari percobaan pembunuhan,” katanya.
Dokter bedah digresif RSUP Kariadi Erik Prabowo mengungkapkan, kondisi Rina Wulandari relatif stabil. “Tadi malam (Minggu 24/7) sudah dilakukan operasi. Alhamdulillah berjalan dengan baik dan lancar dan sudah ditangani problem yang ada di dalam rongga perutnya,” katanya.
Alasan dilakukan operasi, menurutnya, korban mengalami cedera serius akibat tertembus peluru. Meski begitu korban yang sempat menjalani perawatan intensif selama lima hari di RS Hermina, mendapatkan penanganan dengan tepat. (mha/JPG/rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria