Jualan Eceran BBM Dilarang!! Pedagang Hanya Bisa Pasrah Menanti Perwali Keluar
Eko Pralistio• Minggu, 4 Agustus 2024 - 15:03 WIB
MATA PENCARIAN: Sebentar lagi pemkot Samarinda akan mensosialisasikan terkait larangan bagi penjual BBM yang tidak memiliki izin. (FOTO/EKO)
Kabar penertiban penjual eceran bahan bakar minyak (BBM) subsidi di Samarinda semakin hangat. Pedagang sudah menanti bagaimana isi peraturan walikota (Perwali) tersebut, guna menyesuaikan langkah-langkah konkrit bagi pedagang dalam mengambil keputusan.
Dalam pantauan Kaltim Post, beberapa titik Aktivitas pertamini/pom mini masih berjualan seperti biasanya. Saat ditanyakan perihal ke pedagang yang enggan namanya disebutkan, mereka pun menanti isi perwali tersebut.
"Kami ikut aja, mas. Kalau nggak boleh ya mau gimana lagi," ucap salah satu penjual BBM eceran di Samarinda, Sabtu (3/7). Sejatinya para pedagang manut jika ditertibkan. Namun, mereka ingin sebelum penertiban pemerintah bisa mensosialisasikan terlebih dahulu.
"Iya, nunggu surat edarannya aja dulu ini biar tahu apakah masih boleh jualan atau tidak," sambungnya.
Sebelumnya Kabag Hukum Pemkot Samarinda Asran Yunisran mengatakan, saat ini draft perwali sudah ditandatangani wali kota. Kini sedang diproses untuk dimuat dalam berita daerah. “Kemungkinan Senin (5/8) mendatang sudah terbit,” ucapnya, Jumat (2/8).
Terkait penegakkan aturan, dirinya menyebut, terbitnya perwali tersebut tidak serta merta dilakukan penertiban. Karena biasanya akan dibuat surat edaran kepada para pedagang, sebagai bentuk sosialisasi terkait larangan perdagangan BBM yang tidak berizin. “Memberikan kesempatan kepada pedagang untuk bisa mengurus izin, sebagaimana aturan yang berlaku,” ucapnya.
Secara garis besar di dalam perwali yang akan diedarkan pemerintah masih memberikan kesempatan bagi para pedagang, khususnya bagi mereka yang ingin berjualan BBM, namun tetap berpedoman dengan aturan yang berlaku.
"Mudahan masih bisa kalau ada yang harus dibuat izin itu bagus, jadi masih bisa jualan, cuman kan tunggu surat edarannya isinya seperti apa biar kami tahu dulu," tukas seorang pedagang di warung kelontongan di Samarinda. (*)