SAMARINDA–Karamnya alat berat yang diangkut Landing Craft Tank (LCT) Karya Fortuna di perairan Muara Pegah, Kutai Kartanegara pada Januari 2024 lalu, berdampak terhadap mengganggu alur pelayaran Sungai Mahakam.
Enam alat berat yang tenggelam itu mengganggu lalu lintas pelayaran di Sungai Mahakam, khususnya bagian hilir.
Imbasnya, KM Fuyo 18 jenis vessel yang melintas alur tersebut mengalami insiden pada Selasa (10/9) pekan lalu. Kapal motor dengan 17 anak buah kapal (ABK) itu mengalami kerusakan di lambung kiri kapal. Salah satu kru kapal KM Fuyo 18 sempat mengabadikan gambar bergerak berdurasi 5 detik yang kemudian tersebar di dunia media sosial.
Kepala Bidang Keselamatan Berlayar Patroli dan Penjagaan Kesyabandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda Capt Yudi Kusmianto menjelaskan, pihaknya saat itu menerima laporan pada Selasa pekan lalu pukul 18.40 Wita. “Kalau kejadiannya 10 menit sebelumnya,” jelasnya.
KM Fuyo 18 itu menghantam bangkai alat berat yang karam sejak Januari 2024, bahkan hingga hari ini (kemarin (17/9) belum diangkat dan karam di lokasi kejadian. “Di kapal tersebut (KM Fuso 18) sejatinya ada pandu yang ada di kapal. Dan kami sudah menentukan langkah yang akan diambil,” jelasnya.
Pihaknya sudag membuat notice to marine yang disiarkan ke seluruh kapal yang lalu lalang. Termasuk menyebarkan ke bagian navigasi. Dia juga sudah membuat surat terkait kejadian yang menimpa kapal motor. “KM Fuyo bertolak dari Jetty ITP tanpa muatan. Tujuannya ke daerah Tarjun, Kalimantan Selatan,” bebernya. Karamnya kapal motor tersebut diketahui terjadi di antara buoy 3 dan 5.
“Kawasan itu memang wajib dilakukan pemanduan oleh pandu yang berada di bawah kendali Pelindo IV,” tegasnya. Disinggung terkait kedalaman perairan tersebut, Yudi tak mengetahui secara detail. “Di titik kejadian padahal sudah dipasang buoy khusus agar kapal tak mendekat. Karena kejadian itu sudah jelang malam, sehingga menurut informasi buoy tersebut tak terlihat. “Padahal kalau malam itu ada penandanya, lampu kelap-kelip,” tegasnya. Selain itu, kondisi cuaca saat kejadian juga tergolong aman untuk dilintasi.
Yudi menyebut, adanya alat berat yang karam di antara buoy 3 dan 5, menambah sempitnya alur di perairan tersebut. “Oh memang sempit, kalau di bagian tengah memang dalam, tapi semakin ke tepi jadi lebih dangkal. Pihaknya juga sudah menyurati perusahaan yang menaungi LCT Karya Fortuna sebanyak tiga kali. Hal itu agar perusahaan segera mengangkat alat berat tersebut.
Dia tak menampik bahwa proses pengangkatan alat berat yang karam sudah cukup lama terjadi. “Kami kurang paham kenapa bisa sampai berbulan-bulan belum diangkat. Karena untuk mengangkat sejumlah alat berat itu cukup memerlukan banyak peralatan penunjang,” bebernya.
Sementara untuk KM Fuyo 18, pihaknya berencana melakukan pemeriksaan terhadap pandu maupun nakhoda kapal tersebut. “Kami jadwalkan secepatnya lah untuk bisa diperiksa dan diambil keterangannya,” sambung dia.
Bukan hanya KM Fuso 18, Maret 2024, kapal tunda atau Tugboat (TB) Danny 60 juga merasakan hal serupa. Mengalami kerusakan lantaran menyangkut alat berat yang dibiarkan karam. (dra)
Editor : Indra Zakaria